Uncategorized

RUMAHKU MUSEUM SUKOWIDIKU BANYUWANGI KU

 

museum indie kami masuk koran beritanya disini

 : dan akhirnya saya harus berterimakasih kepada sahabat saya Ika Ningtyas yang “paksa” saya untuk kembali ke Banyuwangi.

“Belajar menyederhanakan mimpi mu Raa,” katanya saat itu. “Berdamai dengan kenyataan. Kenyamanan dan ketenangan kamu itu di Banyuwangi”

September 2013.

12 bulan tepat satu tahun saya di Banyuwangi. Hanya satu kali melakukan
perjalanan panjang. Sisanya? I am stay here. Banyuwangi. Tidak
kemana-mana.

Bertemu dengan orang-orang hebat. Berjumpa dengan orang-orang unik. Berpeluk dengan sahabat-sahabat yan luar biasa.

Saya bergerak perlahan tanpa ingin sebuah pengakuan. Bergerak agar
ingin bermanfaat bagi orang lain, ketika masa lalu saya banyak waktu
yang tersia-sia dan terbuang percuma.

Rasanya keputusan saya
meninggalkan Batam dan zona nyaman di sana telah terbalas lunas untuk
“cicilan” yang pertama. “Kamu puas Raa?”. Saya akan mengeleng. Tidak
akan ada kata berhenti untuk berbuat baik dan berkarya.


Sempat
saya berkaca. Betapa jauhnya penampilan saya saat ini dengan setahun
lalu. Kulit saya menghitam. Wajah saya juga terbakar sinar Matahari.
Lebih banyak menggunakan celana jeans dan kaos dan jilbab apa adanya.
Mata saya berbetuk panda dengan cengkung hitam di bagian bawah.

“berantakan sekali kamu”
“saya menikmati hidup saya di Banyuwangi”
“kamu kurang tidur”
“konsekwensi. pilihan hidup”

Diskusi dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Dari satu komunitas
ke komunitas yang lain. Sehingga kehilangan waktu pribadi untuk
menikmati secangkir kopi sambil membaca novel baru di pojok cafe seorang
diri.

Alasan sederhana ketika ada waktu satu ata dua jam lebih memilih mengurung dalam kamar.

Saya bahagia disini. Bahagia sebahagia-bahagianya.

Agen Neptunus. Bagaimana kabarmu? sungguh saya ingin banyak bercerita
ke kamu tentang dongeng-dongeng kebahagian yang saya alami saat ini.
Ketika kamu menjadi salah satu alasan saya menjejakkan jejak kaki lebih
dalam lagi di sini di Banyuwangi.

“take a rest”

Saya tahu Neptunus mengirim mu untuk menemani saya di sini di Banyuwangi.
Hei… kamu masih punya hutang melarung perahu kertas di Selat Bali bersama ku

Terimakasih telah berbagi dan menjadi bagian dari catatan perjalanan #duniaira Ketika saya menjejak kan kembali kaki saya di Banyuwangi.

Banyuwangi, 16 September 2013
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *