Uncategorized

RUJAK KELANG, RUJAKNYA PELABUHAN MUNCAR

Namanya “Rujak Kelang”

Seharian ini saya menghabiskan waktu seharian di Kecamatan Muncar. Saat
saya masih SD, ibu pernah bercerita jika Muncar menjadi pelabuhan ikan
terbesar kedua di Indonesia setelah Bagan Siapi-api. Saya tidak tahu
apakah informasi itu masih akurat sampai detik ini.

Saya membaca banyak catatan tentang Muncar, salah satunya tentang
krisis ikan di Muncar akibat pencemaran air laut sejak 3 tahun terakhir
ini. Selain limbah dari industri pengolahan ikan di sekitar kawasan
pelabuhan, limbah dari penambangan emas di wilayah kawasan Tumpang Pitu
kecamatan Pesanggaran juga menyumbang menurunnya jumlah ikan di wilayah
Muncar.

Setiap harinya, minimal 500 ton ikan yang di bongkar
dipelabuhan Muncar dan 90 persen dipasok ke industri pengolahan ikan
setempat. Bisa dibayangkan berapa besar pemutaran uang di wilayah
Pelabuhan Muncar.

Dari data Badan Pengkajian dan Penerapan
Tekhnologi Jakarta pada tahun 2010 tercatat jika pencemaran sudah
menjangkau kawasan perairan Muncar sejauh 200 hingga 350 meter dari
bibir pantai, termasuk juga sungai sungai yang ada di sekitar Muncar
seperti Kali Mati, Kali Tratas dan Kali Moro. Kondisinya sudah “gawat
darurat”


Kembali ke kuliner yang saya temukan di wilayah Pelabuhan Ikan Muncar. Namanya “Rujak Kelang”

Sederhana, hanya buah sejenis mangga yang di cacah termasuk potongan
tahu goreng. Kuahnya istimewa. Petis ikan yang berwarna coklat sedikit
cair tidk terlalu kental yang dituang dimangkok. Lalu cabai yang di iris
tipis-tipis lalu di campur dengan kuah pindang yang sedikit hangat.
Maka “berenang” lah mangga dan tahu goreng di dalamnya.

Saat
saya bertanya apakah ini sama dengan “Rujak Kuah Pindang” yang ada di
Bali, ibu penjualnya mengatakan berbeda karena jika di Bali, rujak kuah
pindang masih menambahkan racikan terasi, gula dan garam. “Kalau yang
ini ndak usah pakai apa-apa. Kalau kurang garam yang tinggal ditambahin
saja,” katanya.

Saya juga masih belum mendapatkan penjelasan
darimana nama “Rujak Kelang” di dapatkan. Apakah “kelang” berarti
“berenang”?. Tidak ada yang bisa menjawab dengan tepat.

Nah
saya membayangkan saja jika seandainya Pelabuhan Muncar tidak lagi
menghasilkan ikan. Maka “Rujak Kelang” mungkin hanya akan menjadi
cerita. Atau pun jika bertahan maka harganya tidak akan 3.000 rupiah per
mangkok. Bisa jadi 20 ribu atau 50 ribu dengan alasan karena petis ikan
dan kuah pindangnya di buat dari ikan yang di import dari Thailand atau
Australia.

Ngenes kan? ketika Indonesia yang terdiri dari
lautan dengan potensi laut yang luar biasa tapi kita lupa menjaganya.
Laut bukan tempat sampah. Laut bukan tempat pembuangan limbah. Laut
bukan sebuah kubangan untuk mengalirkan ‘mercury” dari pengolahan
tambang emas.

Ini baru tentang “Rujak Kelang”

Maka
saya menikmatinya saat hujan bersama dengan belasan agen dari Planet Hi
Ho yang di kirim ke Planet Bumi. Agen-agen yang saat ini ditempatkan di
Muncar untuk berbuat baik salah satunya adalah mengkampanyekan untuk
“menjaga” laut Muncar.

#DuniaIraa, 11 Januri 2015

Laut itu semacam pelukan ibu yang hangat. Semacam bapak yang merentangkan lengan dan mengatakan, “Ini rumah mu”

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *