Catatan, Life Style

Romo dan Mbak Tata. Merajut toleransi di Banyuwangi

Bertemu dengan Mbak Tata pertama kali tahun lalu di depan warung tahu bumbu. Dia masih hamil tua. Saat itu saya hanya berdoa semoga lahiran lancar. Mbak Tata istri kawan saya.

Beberapa minggu lalu saya diminta oleh Mbak Tata untuk menjadi juri di lomba Musikalisasi Puisi Yayasan Karmel, tempatnya di SMA Katolik Hikmah Mandala. Ini bukan pertama kalinya saya menjuri di sekolah Katolik.

Hari itu tiba, saya bertemu Mbak Tata yang menggunakan kerudung dan berkacamata. Saya pikir, Mbak Tata adalah pelatih ekstra kurikuler teater. Hanya itu saja. Tidak berpikir bahwa Mbak Tata adalah salah satu guru di sekolah Katolik di Banyuwangi.

Kami lalu menghabiskan makan siang bersama. Rawon hangat saat hujan turun.

Mbak Tata bercerita, jika dia bersekolah disekolah Katolik sejak TK hingga SMA. Kelak saya tahu, jika ayah Mbak Tata adalah supir di keuskupan Malang yang ada di Banyuwangi.

Setelah lulus SMA, Romo Catur, kepala sekolah SMA Katolik Hikmah Mandala membiayai Mbak Tata untuk melanjutkan kuliah di Universitas Jember. Bukan hanya Mbak Tata, ada beberapa siswa lainnya yang dikuliahkan oleh Romo.

“Semester tiga saya memutuskan berhijab. Dan ketika Romo Catur meminta saya mengajar ke SMAK Hikmah Mandala, saya bilang jika berhijab. Dan Romo tidak pernah mempermasalahkannya,” kata Mbak Tata.

Konflik batin dan perlakuan diskriminasi malah dirasakan Mbak Tata saat awal menjadi mahasiswa ketika sebagian rekannya tahu dia lulusan SMA Katolik. Atau menjaga jarak dengan Mbak Tata karena dia muslim tapi tidak berjilbab. Selain itu tidak banyak yang tahu, jika Mbak Tata adalah seorang muslim sejak lahir.

“Saya merasa dijauhi. Hingga akhirnya saya mantab menggunakan jilbab karena saya seorang muslim. Bismillah. Romo tidak melarang asalkan jilbab yang saya gunakan rapi,” jelasnya.

Sejak 2015, Mbak Tata mengajar Bahasa Indonesia. Dia tidak merasa berbeda. Malahan dia bercerita merasa ‘pulang’ ke rumahnya sendiri. SMA Katolik Hikmah Mandala. Ibadah dia juga lancar. Bahkan difasilitasi tempat sholat di ruang pribadi. Saat dia berpuasa pun, lingkungan sekolah mendukungnya.

“Murid-murid saya sama sekali tidak mempermasalahkan jilbab yang saya gunakan walaupun agama kami tidak sama. Semua berjalan baik baik saja,” jelasnya.

Sekarang tentang Romo Catur.

Ini bukan pertemuan saya yang pertama dengan Kepala Sekolah SMA Katolik Hikmah Mandala. Beberapa kali bertemu dalam satu acara atau hanya sekedar bertemu di pantai saat jalan-jalan. Bagi saya, damai sekali saat berbicara dengan beliau. Bahkan saya sempat guyon dengan beberapa muridnya apakah Romo Catur pernah marah. Mereka kompak menjawab tidak pernah tapi Romo Catur disiplin. Begitu kata muridnnya. Saya juga mengetahui Romo Catur adalah orang yang sangat peduli dengan kebersihan, tentang alam dan lingkungan. Beberapa kebijakannya sebagai kepala sekolah banyak terkait toleransi dan bagaimana kita menjaga alam dan lingkungan.

Saat saya bertanya kepada beliau, apakah ada komentar negatif tentang keputusannya terkait Mbak Tata yang mengajar di SMA Katolik, Romo Catur menjawab, “Kalau ada yang komentar saya memilih tidak mendengarkan, karena yang terpenting adalah prestasinya,” katanya sambil tersenyum.

Bagi saya. Belajar toleransi tidak perlu harus keluar negeri.Cukup bertemu dengan mereka. Berbicara dan berdiskusi sambil ngopi di Griya Ekologi di Kelir Banyuwangi.

Bahagia sekali saya juga bisa bertemu dengan Romo B Hudiono, ketua Yayasan Karmel Keuskupan Malang. Dia bercerita jika saat ini yayasan Karmel menaungi 61 sekolah mulai TK hingga SMA yang tersebar di eks karesidenan Besuki, Malang dan Madura.

“Sekolah kita ini adalah miniatur Indonesia. Dan dari 650 karyawan, 110 karyawan kami adalah muslim. Di sekolah kami yang Madura juga ada yang berjilbab. Di sana ada 7 sekolah,” kata Romo Hudiono. Bahkan saat ada yang melaksanakan ibadah haji dan izin selama 40 hari, pihak yayasan tidak mempermasalahkan.

“Namanya orang beribadah ya kami izinkan. Nggak boleh kalau dilarang-larang. Saya selalu bilang sekolah kita adalah miniatur Indonesia, sekolah kita menjadi perekat kebangsaan. Saya tidak mengizinkan fanatisme sempit tentang agama apapun di sekolah naungan yayasan Karamel,” jelasnya.

Beliau bercerita jika Yayasan Karmel Keusukupan Malang ada sejak tahun 1926 yang awalnya bernama Carmelistichting, yang didirikan oleh Misi Pastor-pastor Karmelit di Jawa dan tercatat di Akta pendirian oleh Notaris Maxmiliaan Albert Edmond Andela, no. 31 tahun 1926. Lalu di hibahkan kepada Keuskupan Malang.

Beliau juga menjelaskan Yayasan Karmel adalah lembaga sosial dan pendidikan yang terpanggil untuk mencerdaskan anak bangsa demi tata kehidupan bersama yang berbudaya berdasarkan kasih dan peduli kepada yang miskin.

“Jangan sampai orang tidak sekolah hanya karena alasan miskin. Semua harus sekolah tanpa melihat latar belakang agama, suku, warna kulit dan juga rambut,” kata Romo.

Dan pada pertemuan itu saya juga bertemu dengan ayah kandung Mbak Tata, Sumarto. Saat datang beliau menggunakan sarung dan kopiah lalu bergabung berbicara dengan Romo-Romo yang ada di Griya Kelir dengan guyub. Tanpa jarak, tanpa beban. Tidak ada sekat,

Saya menghela nafas berat. Saya terharu luar biasa. Atau saya yang berlebihan?

Saya menyadari sekali, saat ini bukan hal mudah untuk kembali menenun kebangsaan yang sudah terkoyak dengan isu-isu yang merusak tatanan Ke Bhineka Tunggal Ika an yang selama ini di jaga oleh bangsa Indonesia. Tapi kembali menenun keberagaman itu juga bukan hal yang tidak mungkin.

Hari itu saya bukan lagi belajar bertoleransi tapi saya bahagia mejadi bagian dari toleransi itu sendiri.

Terimakasih. Terimakasih semesta. Terimakasih Mbak Tata. Terimakah Romo Catur, Romo Hudiono. Terima kasih telah menjadi “guru” bagi saya.

Menutup catatan ini dengan kutipan Malala, seorang gadis yang besar di perang antara militan Taliban dan militer Pakistan.

“Education is education. We should learn everything and then choose which path to follow.” Education is neither Eastern nor Western, it is human.”

“Pendidikan adalah pendidikan. Kita harus belajar segalanya dan kemudian memilih jalan mana yang harus diikuti. “Pendidikan bukan Timur atau Barat, itu adalah manusia.”

Iya. Kadang kita lupa menjadi manusia

http://regional.kompas.com/read/2018/01/19/16010501/cerita-guru-muslim-di-banyuwangi-kuliah-dibiayai-pastor-dan-kini-mengajar-di

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *