Catatan

Robot, Pesantren dan tentang pemukulan di dunia pendidikan.

Berbicara tentang pondok pesantren, di dalam bayangan saya ya ngaji, ya agama. Tapi tidak hari itu saat bertemu dengan ketujuh siswa kelas 1 SMP Pondok Pesantren Internasional Science and Technology pada Rabu (31/1/2018).

Dengan luwes, Laist Assyoifudin yang masih berusia 13 tahun menjelaskan detail bagian-bagian robot kepada siswa kelas 6 SD MUhamadiyah 1 Banyuwangi. Dia juga mengajari bagaimana membuat robot kepada adik kelasnya.

“Ini sensor berfungsi untuk membaca warna. Jadi untuk jalurnya harus pakai warna gelap yang menyerap cahaya dan kita pakai warna hitam,” katanya. Mereka terlihat serius memperhatikan robot yang diberi nama Pirates Racing.Lalu mereka langsung memainkan robot di lantai kelas. Ada tiga robot yang dibawa oleh mereka

Lais bercerita jika mereka belajar selama empat bulan di pondok pesantren. Satu robot hanya membutuhkan waktu empat hari dan menghabiskan uang sekitar 1,5 juta.

“Walaupun kami juga masih belajar, tapi kami juga ingin berbagi sedikit ilmu yang kami punya. Sekalian belajar berbicara di depan orang banyak,” kata Laist saat ditanya alasan dia mengajari adik kelasnya.

Ustadz Ajuslan Kerubun, direktur Pondok Pesantren Internasional Science and Technology mengatakan, selain belajar ilmu agama, para santri juga belajar di bidang teknologi mulai dari informatika, robotika dan mehatronika, serta elektronika dan elektrikal.

“Kami ingin mengubah paradigma masyarakat yang berpikir di pondok pesantren hanya pendidikan agama saja. Padahal tekhnologi juga perlu diajarkan kepada para siswa agar saat keluar ponpes tidak buta dengan dunia tekhnologi. Jika para santri tidak menggunakan itu maka akan ketinggalan zaman,” jelasnya.

Saya jadi ingat cerpen “Bangsaku yang fasis” karya Danieal Mahendra yang menceritakan suasana perploncoan sebuat kampus. Frino seorang senior kampus memukul Si Plontos berkali-kali. Si plontos adalah mahasiswa baru pemegang sabuk hitam taekwondo yang berani melawan kesewenang-wenangan seniornya.

Pemukulan yang membut si Plontos itu babak belur membuat mahasiwa baru merangsek dan memprotes hal tersebut.

“Bagaimana kita dengar kampus yang kita masuki ini penuh dengan gejolak demonstrasi. Tidak ada aksi di kota ini tanpa dikomando kampus ini. Kampus ini berisi para pejuang dan pemimoin. Kalian pernah dengar para mahasiswa sering demonstrasi memperjuangkan reformasi? pernah dengar?
….

Kampus ini yang terbaik dan terdepan dalam memimpin. Namun merekakah orang -orang pembela kebenaran? merekakah orang-orang pembela rakyat? merekakah pembela si keci? Pembela si tertindas? Penolak kekerasan?penolak manipulasi dan seribu juta penyakit KKN yang sering mereka gembar gemborkan?

….

Kawan-kawan jangan pernah heran apalagi bertanya, jika karakter para politikus kita selama ini, apalagi pada masa akan datang mempunyai bakat untuk sewenang-wenang. Bermental fasis! berjiwa militer! Amoral! kalau mereka yang turun ke jalan memperjuangkan demokrasi protes keras jika digebuki tentara. Apa bedanya dengan perlakuan mereka terhadap mahasiswa baru? adakah sebuah perbedaan disana?”

(Cerpen Bangsaku yang Fasisi)

Dan akhir cerpen menceritakan, Si Plontos tewas karena pukulan Frino, Sang Senior.

Finish? di cerpen itu iya. Namun tidak di dunia nyata,

Beberapa hari lalu ada seorang Guru, namanya Pak Budi, guru honorer asal Sampang yang meninggal dunia setelah dipukul oleh muridnya. Serius di pukul dan terkena bagian leher dan kepalnya.

Dulu saat masih SMP dan SMA saya bukan kategori siswa pintar apalagi bintang kelas tapi kalau sama guru jangan ragukan hormat saya. Jangankan mukul, protes pun saya nggak berani pakai kata-kata kasar dan nada tinggi. Iya saya menghormati guru tapi bukan berarti saya tidak mengkriktiknya jika saya merasa tidak nyaman dan apa yang dilakukan oleh guru-guru, saya pertanyakan. Bahkan sampai detik ini, saya masih cium tangan guru guru saya mulai guru TK, guru tari ataupun guru SMA.

Ibu saya seorang guru yang konon katanya adalah guru galak. Buat saya tidak galak, tapi disipilin. Dulu saat ada sesorang siswa SD yang merokok, ibu tidak marah. Dia malah membelikan sebungkus rokok kretek dan menyuruhnya merokok dihadapannya. Dengan catatan jika satu batang sudah habis, maka harus langsung di sambung dengan rokok selanjutnya, Tidak boleh ada jeda.

Tahukah siapa siswa itu? salah satunya adalah saya.

Sejak saat itu saya memilih tidak merokok hingga detik ini.

Tan Malaka pernah munulis, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”

Jikalau pun masih ada kekerasan di dunia pendidikan pasti ada yang salah. Lelah iya. Capai iya. Emosi pasti. Tapi bukan tidak mungkin jika kita ambil bagian untuk memperbaiki minimal memperbaiki diri kita sendiri bukan?

Saat menulis catatan ini, saya masih membayangkan Laist dan kawan kawannya yang mengajarkan membuat robot pada adik-adiknya. Dan Ustad Ajuslan yang tersenyum dari jauh melihat para siswa-siswanya.

Begitu damainya Indonesia.

Salam

Iraa

Tertanda mantan siswa yang kreatif yang tidak mau disebut nakal dan nggak mau jadi robot di dunia pendidikan.

Karena sekece-kecenya robot, dia tetap tidak punya perasaan

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *