Catatan

Relawan Mantu Idaman

Sore itu, saya mengingatkan seorang bapak yang menggendong anaknya yang masih bocah untuk tidak lewat jalur tengah. Selain karena banyak kendaraan keluar masuk angkut material, udara panas membawa debu. Kasian anaknya.

Dia bertanya siapa saya dengan nada ketus. Saat menjawab saya relawan, tiba tiba bapak itu mengatakan “Relawan apa kamu. Saya bayar kamu kerja kayak gini. Minta berapa kamu uang hah..”

Akhirnya pertahanan kesabaran jebol ketika berbicara tentang uang. Saya hanya istighfar dan kemudian nangis sesenggukan di bahu Bu Betty yang kebetulan ada di lokasi. Benar benar nangis. Nyesek rasanya dada ini. Sedih ketika apa yang telah dilakukan oleh kawan kawan relawan selama seminggu ini dianggap hanya sekedar bayaran uang. Meninggalkan keluarga, meninggalkan pekerjaan dan meninggalkan rutinitas sehari-hari. Lalu tiba tiba ada yang bilang akan mbayar kami. Buat saya itu penghinaan besar. Tidak ada yang membayar kami sepeserpun.

Ada banyak alasan mengapa para relawan memilih bertahan di tempat bencana. Tapi saya tidak ingin menghakimi alasan-alasan mereka masing masing. Saya ingin berbicara tentang diri saya sendiri.

Sampai detik ini pun saya tidak tahu apa alasan saya bertahan di tempat bencana sampai lebih dari sepekan. Pencitraan? Mungkin. Nggak ada kerjaan? Siapa bilang. Kerjaan saya banyak banget bahkan pilkada kemarin saya nyambi kerja diantara tumpukan kardus. Karena perintah? Tidak ada yang memerintahkan saya. Kasarannya saya pergi pun ndak punya tanggungan apa-apa.

Semacam mencintai yang tak pernah tau apa alasannya walaupun berkali kali bertengkar tapi tetep saja ketemuan lalu baikan.

Saya memilih bertahan karena alasan kemanusiaan. Ada yang nyumbang uang dan barang. Ada yang mengambil keputusan. Apalah saya yang hanya punya tenaga buat angkat angkat barang. Kenapa saya nggak nyumbang tenaga saya?

Kata Pak Kyai – karena kelamaan di posko Lazisnu -, lakukan yang wajib dulu baru yang sunnah. Bukankan sebelum kita dalam posisi sekarang, profesi hari ini, kita terlahir jadi ‘manusia’? Bukan kah itu yang wajib?

Ambillah peran. Sekecil apapun itu. Bahkan bapak bapak pemulung yang selu bersih2 kardus di depan posko Lazisnu juga telah mengambil perannya.

Tidak ada yang lebih hebat ketika semua mengambil peran. Saling mendukung dan mensupport agar Alasmalang kembali menggeliat.

Dewi ‘dee’ Lestari menulis “Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi menjadi diri kita lagi”.

Percayalah! Relawan itu mantu idaman!

Noted

Tulisan ini sudah saya endapan lebih dari 2×24 jam agar tidak terpengaruhi emosi yang berlebihan saat kejadian. Terimakasih pada semesta tempat malam dan siang berjalan seimbang.

Kapan mundur? Menunggu waktu yang tepat? Kapan? Sebentar lagi jika semua sedikit kembali normal

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *