Catatan

RAHASIA

Semalam seorang kawan baik mengajak saya ke pantai. Dia lalu membiarkan saya berdiam sendirian menghadap ke laut Selat Bali. Dia kemudian memilih menjauh. Menyalakan rokoknya.

Hampir satu jam lebih saya duduk sendirian, mulai mata tidak melihat apapun karena gelap hingga mata saya beradaptasi dan menyadari lampu-lampu diseberang, di pulau Bali indah sekali. Ada sedikit bintang dan mata saya bisa membedakan mana langit cerah dan mana langit yang mendung.

Saya menghela nafas. Saya yang lupa bagaimana hidup yang sebenarnya. Otak saya bekerja terlalu cepat seminggu terakhir ini. Hingga lupa bagaimana hidup wajar sewajar-wajarnya. Mengingat ibu yang selalu mengatakan bahwa semua baik-baik saja ketika melihat saya kalut dan susah tidur. “Ndak usah dipikir jeru-jeru. Semua sudah ada skenarionya. Banyak hal yang tidak perlu dijelaskan,”katanya dulu.

Saya kembali menghela nafas. Mengingat ketika saya marah pada ibu dan mengatakan bahwa kita harus berani bicara jika disakiti. Jika diperlakukan tidak adil. “Raa. Dalam setiap perjalanan ada hal yang tidak perlu diceritakan. Cukup jadi rahasiamu. Seperti siapa cinta pertamamu dan dengan siapa kamu ciuman pertama kali,” kata ibu sambil tertawa. Saya kembali protes dan mengatakan ibu tahu siapa pacar pertamaku. “Pacar pertama belum tentu cinta pertama dan juga tidak ada kepastian dia lelaki pertama yang menciummu. Biar menjadi rahasia hingga waktu yang bicara,” katanya. Mata saya mulai basah. Pertahanan saya sudah pada titik kulminasi.

Saya kembali menghela nafas. Satu dua titik air mata.

Kawan baik menghampiri saya dan mengajak saya menikmati segelas jahe panas di warung kecil di dekat pantai. Tanpa banyak bicara, dia hanya bicara satu dua kalimat bahwa semua akan baik-baik saja. “Ra.. dunia nyata lebih menyenangkan. Kamu harus percaya itu. Kau pernah menulisnya kan?,” katanya sambil sekali lagi menghidupkan rokok. Saya kembali tertawa dan membuka novel yang ada di tas saya. Novel milik Dee yang judulnya Petir. Kami berdua lalu senyap asyik dengan dunia kami masing-masing. Beruntung saya punya kawan baik yang tidak banyak bicara dan banyak tanya. Walapun saya tahu dia memahami betapa kalutnya saya beberapa hari ini.

.”Hidupku dan Watti seolah-olah berada di dua alam. Kami adalah amfibi yang menjadi aneh di tengah hewan darat dan dicibiri ikan-ikan kalau nyempulung ke air. Menjadi China di sekolah negeri sama sekali bukan hal simple. Masa sekolah merupakan masa perjuanganku menetralkan indra pendengaran supya hati ini tak perlu nyelekit ketika anekdot-anekdot yang menyangkut ras China sampai ke kuping. Seringnya kami semua lupa soal kami ini China atau pribumi. Namun ketika temanku di jalan mengumpat,”China loleng!” ke segerombolan anak China yang tak dikenalnya, aku pun berjuang setengah mati agar tidak tersinggung (Elektra – Petir).

_____________

Biar menjadi rahasia. Bukankah dari kita masing-masing memilik rahasia. Semacam ibu yang selalu menanyakan siapa cinta pertamaku dan lelaki pertama menciumku. Saya yang selalu tersipu.-sipu saat menolak menjawabnya dan tetap menjadi rahasia sampai ibu pergi selamanya.

Karena yang terpenting siapa laki laki terakhir yang menua bersama. Walau tetap menjadi rahasia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *