Uncategorized

RADIO KARAOKE

; Ketika radio menjadi ajang karoeke

Satu hari ini saya mengnjungi beberapa radio “komunitas”. Dan saya
benar-benar terkaget-kaget. Ada yang siaran tanpa komputer dengan alat
yang sederhana dan karoekean!!!!!

Saat saya masuk lebih dalam lagi ternyata acara semuanya karaoke. Ckckckckck ……….

“Kalo nggk karoeke dari mana kita menghasilkan uang mbak”

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Radio komunitas yang seharusnya
mewakili ‘suara’ komunitas nya. Radio yang seharusnya menjadi akses
informasi publik bagi masyarakat akhirnya tenggelam di antara lagu-lagu
karoeke.

Bukan … Bukan saya apatis dengan acara karoeke. Silahkan membuat acara karoeke tapi jangan di jadikan acara dominan.

Tapi akhirnya siapa saya. Saya bukan pemilik usaha.Saya juga bukan siapa-siapa. Akhirnya …..

Saya menghela nafas berat. Tiba-tiba saya ingat saat saya di Batam dan radio off

“Mbak Zahra … Kapan radionya naik lagi? Kita yang di singapura sma
Johor nggak dapat informasi tentang indonesia. Tau sendiri … Di sini
cuma di dalam flat”

Itu yang membuat saya tertekan. Radio sebagai akses informasi!!!!

Dan fenomena Radio ‘komunitas’ di Banyuwangi?


Sudah lah … Saya yakin apa yang saya lakukan hari ini tidak ada yang
tidak sia-sia. Seperti mengambil air dengan keranjang. Memang hanya
sedikit air yang tertampung tapi kita sering tidak sadar jika keranjang
yang kita gunakan menjadi bersih.

Saya menulis catatan
sederhana ini di sebuah desa yang jauh dari sarana hiburan. Dan akhirnya
saya menyadari bagaimana mereka jauh dari pusat kota, dari hiburan,
dari mana-mana. Dan hiburan mereka hanya karoeke…..

Ada
seorang ibu rumah tangga karoeke dengan menggunakan daster. Judul
lagunya “Jodoh liwat orari” yang diplesetkan menjadi jodoh lewat radio.
Sedangkan di pojok-pojok ada seorang laki-laki dan perempuan, semuanya
sudah setengah umur yang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Dari
percakapan mereka saya hanya tersenyum sendiri.

Sudahlah ……

Saya mau karoeke saja di family karoeke. Sederhana … Karena saya
tidak punya nyali lebih untuk karoeke di radio. Kasihan pendengarnya
dengar suara saya.

Lalu … Ini hanya sebuah fenomena seperti dua sisi mata uang. Saya hanya ingin pulang dan tidur. Tapi saya masih harus kerja.

Teman saya dari Jakarta berbisik, “Banyuwangi ini luar biasa ya Raa.
Saya menyimpulkan dua hal. Radio komunitas itu buat ajang karoeke sama
usaha. Komunitasnya kemana ya Raa”

Saya mengangkat bahu, “eh … Raa nanti malam karoekean yuk.

“Nggak … Aku kerja. Lagian telingaku cuapek seharian ini dengerin orang karoekean. Aku butuh ngopi”

Dan kami tertawa terbahak-bahak.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *