Uncategorized

DAN KAMU MEMBUNUHKU

“Raa….sebagai lelaki aku
malu menangis”
Aku terdiam dan aku merajuk padamu
dan membayangkan kau mengelus rambutku. Aku tetap terdiam.
“Aku mencintaimu Raa” Aku
mengangguk dan membayangkan kau disana memelukku dan menciumi seluruh wajahku.
Dan aku meneteskan airmata.
“Tapi kau egois Raa. Catatan-catatanmu
cuma mimpi semu yang coba kau tawarkan padaku untuk membuatku bahagia”

Tanganmu mencengkram jantungku dan aku hanya diam
“Kau tak pernah melakukan apa-apa untuk cinta
kita. Kau egois! Kau hanya pemuja kata-kata. Mana buktinya” Tanganmu
semakin mencengkram jantungku bahkan mencerabut hatiku. Dan aku terdiam menahan
sakit dan membiarkan satu bulir air mataku menetes di ujung kiri mataku. Aku
menggit bibirku sendiri. Rasa asin masuk di rongga mulutku Aku menelan darahku
sendiri

“Semua dunia tau kau adalah milikku, tapi kau? Menyembunyikanku pada
catatan-catatan mu. Kau hanya jadikan aku penggerak liar pikiranmu” 
Aku terdiam. Sayang kau tak pernah
tau jika kau adalah hujan dalam gersangku. Api dalam dinginku. Ilalang
peneduhku.

“Sebagai laki-laki aku malu menangis tapi aku tak pernah malu untuk
membunuhmu”

Aku berpaling dan kau langsung menusukku dari belakang. Aku terdiam dan aku
melihat hatiku terluka berdarah-darah. Dan pisau rindu itu benar-benar
menusukku. Dan kau melangkah meninggalkanku dengan luka yang menganga. Aku
hanya diam Ada setetes air mata di ujung matamu dan aku berusaha menggapaimu.

“Kau tau Raa. Aku lebih malu menangis dan memilih membunuhmu”

Aku terdiam dan kakiku lemas aku terjatuh. Dan hanya bisa melihat kau berlalu
menghilang dengan egomu
Aku mati!
Banyuwangi, 5 Agustus 2011
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *