Uncategorized

QUIK NOTE MALAM MINGGU

“Dear
Neptunus, aku mencintainya. Di depannya aku menjadi diriku sendiri,
seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku, dia pun begitu.

Membuatku hanyut oleh sorot matanya. Membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya. Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya.
Bahkan untuk sekedar bilang: rindu atau butuh.

Banyak yang nggak ngerti, Lalu terluka, dan saling menyalahkan.
Karena itu aku takut b
icara tentang hati. Maka kutuliskan saja,
Lalu kusimpan, dan lalu kukirimkan ke…. Entah kemana…”

(Perahu Kertas)
 

:Lelaki Hujan.

Bagaimana kabarmu? apakah kau menemukan hujan yang akan kau bawa untuk
aku? sebentar apakau aku sempat memesan hujan padamu? sepertinya tidak.
Aku hanya berharap saja kok.


Heii… kamu tahu tidak kenapa
hujan turun? hujan adalah tukang pos yang bertugas menyampaikan surat
rindu dari Langit untuk Bumi yang tidak bisa bersama. Seperti kamu Hujan
dan aku Matahari.

Ketika engkau telah melukis hujan. Dan…. katakan sekarang bagaimana aku bisa melukismu? ketika wujudmu adalah sebuah dongeng?

Jika kenyataannya gerimislah yang datang, haruskah aku menunggu hujan?
bukankah hujan dan gerimis adalah dua yang sebenarnya satu?

Kalau hujan menghilang, apa boleh aku merindu? Kalau hujan pergi apa
boleh aku menunggu? Kalau hukan menolak untuk muncul, apa boleh aku
berharap?

Raa hentikan ceracau mu. Kerjakan tugasmu,

Baiklah Sepertinya aku butuh secangkir kopi. Keluarlah!

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *