Uncategorized

QUICKNOTE SEPULANG DARI JEMBER

20 Oktober 2013

Saya menemui hujan pertama kali dalam beberapa bulan terakhir bukan di Banyuwangi. Tapi di JEMBER!

Membuat saya galau mendadak karena saya hanya duduk manis dalam ruangan
dengan sekali-kali memalingkan pandangan ke luar ruangan. Hujannya
deras dan saya bayangkan bisa menari-nari di bawahnya.

Seperti biasa saya menekuk wajah dan mencoret-coret kertas dipangkuan saya dengan pena warna merah. Seharusnya saya main hujan.

“Siapa suruh belajar terus. Waktunya liburan kok menyibukan diri”

Ketika ini menjadi pilihan saya. Tidak ingin menjadi bayangan.

******

“Iya nak… mama pulang. Besok jalan-jalan ya. Sama tante ira juga ya. Liat Gandrung”
Sahabat saya menelpon anaknya. “Anakmu kangen iku,” kata saya sambi menghela nafas berat. “Konsekwensi pilihan Raa”.

Kami berdua kembali memejamkan mata. Perjalanan pulang ke Banyuwangi

Tidak ada yang saya telpon ataupun saya kabari jika saya akan pulang.

******

Tengah malam. Saya sudah di rumah Sukowidi. 18 Jam. Banyuwangi Jember
Banyuwangi. Hujan yang saya temukan di Jember ternyata tidak bisa
menghapus hawa panas malam ini di Banyuwangi. Ahh.. lelaki hujan padahal
jarak kita hanya selangkah. Ketika pulang ku temukan jejak-jejak air
hujan sepanjang perjalanan.

Tapi tidak ada jejak mu di belakang rumah.

Masih berharap? atau berhenti untuk bermimpi? menikmati semuanya satu persatu jatuh cinta dan merindu dalam satu garis linear.

Bulannya bagus. Saya berdiri masih di halaman belakang rumah. Jika
hujan turun malam ini maka bulannya akan hilang. Jika bulannya sempurna
dipandang maka tidak akan pernah ada hujan yang datang.

Sudahlah… apa kata Tuhan saja.

Hujan…..bulan….hujan…..bulan…… dan malam.

“Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu. Aku ingin menjadi sesuatu
yang mungkin bisa kau rindu. Karena langkah merapuh tanpa dirimu.
Karena hati telah letih” (Dealova)


Bersenandung seorang diri di antara catatan-catatan perjalanan.

“Kalau hujan aku mau hujan-hujanan”
“Aneh kamu. Kan udah gede… kalau dulu aku sering bahkan jadi hobi”
“Kenapa sekarang tidak lagi”
“Banyak pilihan sekarang untuk bahagia bukan hanya harus hujan-hujanan”
“Mana ada…”
“Suka-suka aku lah”

Saya suka hujan, ketika saya tidak bisa membedakan mana air mata dan
air hujan. Saya merasa masa lalu memeluk saya. Menarikan tari-tarian
hujan.

Saya ingin menikmati hujan bersama kamu. Berdua saja.
Mimpi sederhana seperti mengajak kamu di pantai menghadap ke Selat Bali
dan kamu mendengarkan dongengku tentang istana laut.

Bulan sempurna dan saya masih saja menunggu hujan. Saya pulang dan saya sendirian. Kamu hanya sekedar khayalan.

Selamat malam Agen Neptunus “lelaki hujan”.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *