Uncategorized

QUICKNOTE ETAPE 2 TOUR DE IJEN 2013

 

ini bukan di Pulau Merah. Ini di Bukit Semocong Batam. Saya rindu saja

Baiklah
kawan. Saya menulis catatan ini Pantai Pulau Merah. Iyaa saya
menyebutnya Pilau Merah. Walaupun Bupati Banyuwangi lebih suka
menyebutnya Red Island. Ahhhh mengada-ngada. Jadi nama ku adalah Women
Of Love dong?

Ini bukan selat Bali. Tapi masih saja bertemakan
laut. Saya mencintai laut hampir sama dengan saya mencintai hujan dan
secangkir kopi. Diseberang saya ada gunung Tumpang Pitu yang selama ini dikatakan mengandung riuan ton emas.

Yang diributkan dan diperebutkan dengan banyak orang dengan segala
macam kepentingan. Politik dan kekuasaan? ah buat saya biar saja gunung
Tumpang Pitu sombong dengan keangkuhannya. Ada asap di puncaknya?
sebentar itu asap apa kabut? fenomena yang aneh… di bawah sini
panasnya mencapai 36 derajat celcius. Apa mungkin Prabu Tawang Alun lagi
geleng-geleng kepala dari atas melihat para pemimpin sebuah kerajaan
Blambangan yang dulu ia perjuangkan sedang berpesta pora di bawah gunung
Tumpang Pitu?

Akhirnya saya harus memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya pada masyarakat Banyuwangi.

Duh … saya merasa terharu saat mereka berdiri sepanjang jalan. Mulai
dari anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, bapak-bapak, kakek-kakek,
nenek-nenek dan semuanya. Bermain alat musik sepanjang jalan ketika saya
lewat dengan menggunakan mobil media.

Saya saja terharu dengan
keramahtamahan mereka. Padahal saya bukan Bupati yang namanya di
elu-elukan sepanjang jalan. Pasti Bupati Banyuwanginya juga bangga.
Padahal kabupaten ini bukan punya Bupati. Kabupaten ini punya masyarakat
yang bayar pajak.


Raa…. kamu selalu mencerau.

Baiklah saya hanya berharap nanti para pemimpin Bupati mungkin. Kepala
desa mungkin. Tidak lupa memberikan bonus atau uang lelah kepada para
hansip atau linmas. Hah? kok Linmas Raa? Kok Hansip? Iyalaahhhh saya
liat sepanjang jalan mereka yang mayoritas berusia tua selalu memberikan
hormat kepada mobil dan para pembalap yang lewat di hadapan mereka.
Termasuk mobil media yang saya lewati. Padahal belum tentu mereka
mendapatkan gajian bulanan yang memadai dari pemerintah.

Duh
bapak hansip dan bapak linmas. Saya lebih tertarik melihat njenengan
daripada liat para pembalapnya. Buat saya anda pahlawan hari ini. Yang
membuka jalan untuk kami agar bisa sampai di Pulau Merah sebelum
pembalap pertama masuk ke garis finish.

ehhh tiba-tiba saja
saya takut melihat bayangan saya dari layar laptop. Kenapa Raa? Kulit
saya hitam legam. Bagian tangan dan bagian wajah yang berantakan.
Terbakar tercampur dengan minyak debu dan keringat. Sama sekali tidak
menarik mungkin. Hahahahah…. ternyata wanita semodel saya juga takut
tidak terlihat cantik. Wanita-wi lahhh. Jika boleh menggantinya dari
istilah manusia-wi.

Baiklah… hadiah sudah di serahkan ke
pemenang. Saya harus kembali ke kota walaupun hanya ke kota Genteng.
Paling tidak saya butuh mandi, ganti baju dan tidur lalu menulis. Besok
perjalanan masih panjang Raa.

Hei Pulau Merah. I Love U…. seperti sahabat-sahabat saya lain. Saya tetap tolak tambang untuk menyelamatkan mu.

Sebentar. Saya berlari sebentar ke tepi pantai. Mengirim surat pada
Neptunus. Berharap sampai ke Istana Laut yang ada di Selat Bali.

“Lelakiku hujanku….. titip gerimis untuk kamu bawa pulang. Gerimis
yang menandakan bahwa sebuah jeda itu romantis. Cepat pulang”

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *