Uncategorized

QUICK NOTE#23 JULI

“Ibu berharap tidak pernah salah melahirkan kamu Raa”

Saya termangu menghadap langit. Mendongak ke Bintang Utara. Hai Bu…. apa kabar mu di surga?

Saya masih anak perempuan mu bukan? Apakah ibu tetap berharap tidak pernah salah melahirkan anak perempuan seperti saya?

Terkadang laki-laki lupa bahwa saya masih lebih survive di bandingkan mereka walaupun saya harus melangkah terseret-seret. Laki-laki
lupa bahwa saya tersenyum padahal perut saya kelaparan. Laki-laki lupa
bahwa saya tertawa terbahak-bahak sedangkan ada beban mereka yang di
alihakn ke pundak saya. Bahwa saya pun punya rasa cemburu walaupun saya
masih diam. Saya pun bukan pendosa hanya karena mempunyai alat kelamin
yang berbeda dengan laki-laki yang merasa menjadi superior bagi
perempuan semacam saya.

Dan masih mengatakan saya egois? ketika
saya berteriak. Ketika saya mengatakan apa isi hati saya. Apa keinginan
saya. Apakah ini sebuah dosa?

Hei Bu…. bukankah tanggal saya
di lahirkan bebarengan dengan kematian Margaret Thatcher? Iron Lady?
perempuan bertangan besi yang selalu di ceritakan ibu saat saya masih
terlalu dini mengenal istilah, “itu laki-laki ini perempuan. Kalian
berbeda”

Dan saya protes yang membedakan hanyalah bentuk alat
kelamin. Lalu saya mendengar bapak berkata ke ibu saya bahwa saya akan
menjadi anak pemberontak.

“Bukankah bapak juga pemberonak Kahar Muzakkar”, teriak saya saat itu


Ibu saya membekap mulut saya dan berteriak menyuruh saya masuk kamar
untuk tidur. Dan saya memilih menaikkan kaki ke tembok dan punggung
membentuk huruf L sempurna dengan rambut mengurai panjang di tepi kasur.
Bapak datang dan mengatakan, “Raa….. kontrol emosi kamu. Jangan suka
teriak-teriak. Kamu perempuan”. Dan saya memalingkan muka sambil
menangis terisak. Saat itu saya berpikir kenapa bapak jahat menyuruh
saya tidak boleh berteriak-teriak. Saya tidak berteriak-teriak. Saya
hanya ingin di dengar. Itu saja……

Kenapa saya harus
teriak? karena saya anggap telinga mereka saja yang terganggu sehingga
tidak mendengarkan keinginan saya. Telinga itu adalah telinga makhluk
yang bernama laki-laki.
Kalau mereka mau mendengar, maka saya akan bicara dengan nada suara yang datar.

Hari ini melelahkan Bu……. Ketika saya harus menyelesaikan tumpukan
masalah. List satu persatu dengan centang. Seperti “Kiling”
Muterrrrr………… tanpa henti. Dan hanya berbuka bakso dan secangkir
kopi. Saya ingin bercerita, tapi mulai dari mana? Jika kamu Bu, masih
ada mungkin saya cukup meringkuk di pelukan kamu dan menempelkan tangan
mu di pipiku.

Bu… terkadang adek mikir kenapa adek terlahir menjadi perempuan yang egois, sombong dan keras kepala?

Suatu hari. Saya dan ransel serta ibu di teras rumah

“Adek pasti pulang Ke Banyuwangi lagi”
“Raa…. Ibu berharap tak pernah salah melahirkan kamu”

Saya memeluknya cukup lama. Menciumi tangan nya berkali-kali. Dan ibu
menciumi wajah saya seperti saya ini bayi berbau minyak telon.

Beberapa bulan saat saya pulang, Ibu saya sudah pergi ke surga tanpa saya di sampingnya.

:Bintang Utara ku.

Kamu tau, saya rindu Ibu, Bapak, anak-anak saya yang tidak pernah terlahirkan. Rindu kamu? tentu saya juga rindu.

Maafkan saya………. sungguh,

When the moon is spereading around
When the star is dancing
When I fall a sleep
And the go to bed……


Saya harus segera pulang. Walau saya masih suka melihat ke atas. Pada Bulan dan Bintang Utara. Angin malam jahat…….
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *