Uncategorized

QUICK NOTE : Bisa baca saya?

3 Mei 2013,
Kamu
tahu, saya seperti kembali ke sebuah masa lalu. Ketika saya masih
anak-anak membawakan sebuah tulisan puisi yang berjudul “ayahku hebat”
untuk bapakku. Iya bapak ku yang bernama Daeng Musa yang suka minum kopi
sambil baca koran di teras rumah depan

“Pak ini buat bapak. Adek nulis puisi buat bapak”
“Taruh di meja adek aja, nanti bapak baca”

dan saya berjingkat sambil meletakkan puisi saya di
meja belajar sambil tetap melihat bapak saya yang masih asyik membaca
koran. 15 menit, 30 menit saya mulai turun dari kursi untuk bermain-main
di dapur. Satu jam kemudian saya kembali melihat secarik puisi masih di
tempat yang saya. Masih tertindih penghapus yang berbentuk bola kasti.

Sampai malam pun bapak tidak pernah melihat secarik puisi itu, bahkan sampai bapak kembali ke Bali.

Suatu malam saya menangis sambil mengambil puisi dan melipat puisi itu
dan meletakkannya di bawah tumpukan buku pelajaran dan melupakan bahwa
sata pernah menulis puisi kepada bapak. Saya hanya menulis puisi untuk
ibu saya yang selalu membacanya dan bahkan menempelkannya di belakang
pintu kamarnya. Dan saya saat itu menyimpulkan bahwa laki-laki itu
egois.

Dan akhirnya puisi itu saya buka kembali ketika bapak
saya meninggal di usia saya 8 tahun dan bapak saya tidak pernah
membacanya. Saya anak perempuan yang menggunakan topi saat pemakaman
bapaknya melempar kertas kedalam kuburan bapak ketika semua sibuk
memakamkan bapak dengan tanah merah. Lalu saya mengayuh sepeda ke laut
dan pulang sore hari disambut dengan pelukan ibu.

“Adek nggak
boleh nakal”. Nakal bagi saya adalah membuat ibu saya menangis dan
berjanji tidak akan nakal dan membuat ibu menangis. Dan saya tetap
membuat puisi untuk ibu saya.


Dan sesorean ini saya menyelesaikan catatan tentang “”Mantra Santet Merah Suku Using Banyuwangi”

Saya ingin kamu adalah orang yang pertama membacanya. Tapi mungkin kamu
terlalu sibuk. Dan kamu dimana? dan saya merasa melihat ayah saya yang
duduk di depan teras rumah dan lupa membaca puisi yang saya tulis untuk
dia.

Atau mungkin saya yang terlalu berlebihan? mungkin saja
ya. Benar katamu saya terlalu banyak bicara dan akhirnya memilih untuk
diam dan melanjutkan catatan saya. Ketika kamu menjadi alasan saya untuk
menulis, menulis dan menulis. Mengumpulkan puzzle yang berserak.

“Dalam babad Bayu di kisahkan Jagapati melakukan persetubuhan dengan
Sayu Wiwit. Hal tersebut membuat arwah Agung Wilis yang selalu
melindungi tubuh Jagapati langsung meninggalkannya karena hal tersebut
dianggap incest karena Sayu Wiwit merupakan Putri Agung Wilis. Hal
tersebut menjaid salah satu penyebab hilangnya kesaktian Jagapati yang
berujung pada kematian dan kejatuhan Bayu pada perang Puputan Bayu

Mantra Jagapati bisa di bacakan oleh laki-laki atau perempuan untuk
menjaga diri agar tidak terjadi pesetubuhan seperti yang dilakukan oleh
Jagapati dan Sayu Wiwit”

(Mantra Jagapati)

Apakah kamu
membacanya? entahlah saya tidak akan lagi berani berharap kamu adalah
orang yang pertama dan berkomentar atas catatan-catatan saya.

Iya berkomentar walaupun saya selalu membantah komentar-komentar kamu
dengan nada miring di percakapan kita. Saya suka itu… sungguh.

“Bisa baca…..?aku kirim ke email sekarang”
“Nanti sajalah……”

akhirnya saya yang lebih sibuk mendengarkan cerita kamu di telinga
saya. Duh Gusti……….. akhirnya saya diam dan melanjutkan catatan
ini.

Iya… saya kangen kamu, kangen mata kamu dan butuh kamu
menggenggam tangan saya sambil mengatakan, “Raa…. saya rindu dan saya
sekarang ada untuk kamu”

Kamu dimana?

Kamu yang saya panggil Bintang Utara.

“Mantra dengan kata yang ber rima memungkinkan orang semakin rileks dan
masuk pada keadaan trance. Dalam kalimat mantra yang kaya metafora
dengan gaya bahasa yang hiperbola tersebut membantu perapal melakukan
visualisasi terhadap keadaan yang diinginkan dalam tujuan mantra.
Kalimat mantra yang diulang-ulang menjadi afirmasi yaitu pernyataan
positif yang menggambarkan situasi yang diinginkan, dan yang diulang
berkali-kali, untuk mengesankan pikiran bawah sadar dan memicu ke dalam
tindakan positif. Untuk memastikan efektivitas afirmasi, maka afirmasi
harus diulang-ulang dengan penuh perhatian, minat, keyakinan, dan
keinginan. Afirmasi harus diselaraskan dengan hukum alam. Karenanya,
ini merupakan kebenaran dan harus selalu demikian. Setiap afirmasi
dinyatakan dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa yang ditegaskan itu
akan terwujud. Pembelajaran di level unconscious dan membangun apa yang
para psikolog dan motivator menyebutnya sebagai sugesti diri”


Finish…. saya harus segera pulang
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *