Catatan, Life Style

Putri, lumba-lumba dan api

Namanya Aini. Beberapa hari yang lalu rumah terbakar. Dia sering menangis karena tas, sepatu, seragam dan buku sekolahnya ikut terbakar. Juga boneka yang sering dia peluk setiap malam. 
“Bonekanya ilang,” katanya pelan.
Pertemuan pertama kami penuh keraguan. Dia ragu kepada saya dan saya pun ragu karena tidak pandai berbelanja. Iya. Orang baik meminta untuk mengajak dia berbelanja kebutuhannya sendiri. Saya? hanya bagian menghantarkan saja.
Sore itu kami ke Genteng. Perjalanan pertama buat Ain ke kota Genteng padahal jarak rumahnya tidak sampai 30 menit. Dia berbelanja kebutuhannya sendiri. Berlari kesana kemari. Memilih tas ransel besar warna pink keunguan dengan gambar kuda poni di depannya. Sepatu hitam “keren” karena ada motif bintang bintang warna pink. Baju, mukena, kaos kaki, sabuk, celana dalam, kerudung dan buku kebutuhan sekolahnya. 
Dia berhenti lama di depan sandal warna pink stabilo yang bling bling. Teman saya yang mengajaknya belanja bertanya apakah Ain mau sandal itu. Dia mengangguk dan bercerita sudah cukup lama ingin punya sandal seperti milik temannya. Dia pernah meminjam tapi dilarang. Saya mengiyakan. Dia girang setengah mati. “Aku punya sandal,” katanya sambil lompat lompat. Saya lihat harganya masih di bawah seratus ribu.
Mereka berkeliling mall. Pengalaman pertama bagi Ain dan ibunya. Gadis kecil itu kembali berhenti di gaun semacam gaun seorang putri. Teman saya kembali menawarkan apakah ia mau memiliki gaun itu. Dia kembali mengangguk malu malu. Ibunya sempat melarang karena merasa kebutuhan anaknya sudah cukup. Teman saya meminta Ain memilih sendiri warna bajunya putrinya dan pilihannya akhirnya jatuh pada warna ungu ini. Saat memilih baju ini, saya tidak ikut dan hanya melihat dari jauh.
Dan sebagai penutup teman saya memilihkan sebuah boneka lumba lumba besar berwarna biru untuk Ain. “Enak mbak halus. Beda sama boneka Ain yang dulu,” katanya sambil mengelus, memeluk dan menempelkannya di pipi.
Hujan deras. Kami berhenti di warung bakso dan Ain senang bukan kepalang. “Akhire iso maem pentol gede. Legaaaaa,” katanya. Dia juga pelan pelan nyeruput teh botol agar tidak segera habis. “Eman eman mbak. Belum pernah minum ini,” katanya dengan wajah polos. Ibunya Ain bercerita anak bungsunya pernah sakit dan meminya bakso enak yang ukurannya besar. Tapi mereka tidak bisa membelinya selain tempatnya jauh, harganya juga relatif lebih mahal.
Saya menghela nafas berat dan berpandangan dengan teman saya.
Perjalanan berakhir hari itu. Ain dan ibunya pulang diantar tetangganya kembali ke rumahnya yang tinggal puing puing. Tapi saya yakin, Ain yang pulang adalah Ain yang berbeda saat dia berangkat ke Genteng. Membangun rumah secara fisik bisa segera dilakukan,namun membangun percaya diri pada anak anak agar ia terus berani bermimpi bukan pekara mudah.
Dia memeluk saya dan teman saya berulang-ulang mengucapkan terimakasih. Dia juga membagi satu boneka kepada anak tetangga yang mengantarkannya ke Genteng. Mengajarkan Ain untuk memberi dan berbagi.
“Ain harus rajin belajar sampai tinggi. Harus berani bermimpi dan mewujudkannya. Rajin sekolah. Bantu ibu sama bapak. Harus bisa baca dan tulis jadi bisa bacakan apa yang ibu tidak bisa baca,” kata saya. Dia mengangguk berjanji dan saya mempercayainya.
Tulisan ini sengaja saya buat atas persetujuan donatur yang telah membantu Ain sebagai pematik bahwa untuk mewujudkan mimpi seorang anak tidak bisa sendirian. Peduli dan berbagi tidak harus menunggu jadi bupati.
Maka Ain pulang menjadi seorang “Putri” dengan boneka Lumba lumba dipeluknya. Api bisa membakar rumahnya tapi tidak untuk mimpinya.
Sengaja saya tidak mention mereka mereka yang berada di balik foto ini. Saya yakin bahwa mereka membaca catatan ini dengan bahagia. Sebahagia Ain yang bisa kembali ke sekolah pekan ini dengan baju, sepatu dan tas barunya.
Maturnuwun.
Banyuwangi 2 Desember 2016
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *