Catatan

Pilihan

Beberapa Minggu terakhir, saya mengetahui teman perempuan saya mengalami kekerasan fisik dan batin. Dua orang yang berbeda. Satu dipukuli lalu mengunggahnya di media sosial lalu menjadi bahan gunjingan banyak orang. Yang satu lagi, walaupun tidak frontal tapi membaca captionnya, saya tahu dia mengalami masa-masa berat dengan suaminya.

Bagi saya memukul bukan puncak dari kemarahan. Tapi mengabaikan. Dan jika ditanya apa yang harus dilakukan. Hanya ada dua. Bertahan atau lepaskan. Tentu dua-duanya memiliki konsekwensi.

Saya sempat bertanya kepada seorang teman mengapa bertahan. Alasan sederhana karena masih mencintai. Iya masih. Jadi hanya ada satu pihak yang berusaha. “Siapa tau dia bisa berubah Raa”. Baiklah itu adalah pilihannya.

Saya pun pernah dalam posisi itu. Hingga akhirnya saya menemui seorang bijak. Saya menangis habis habisan dihadapannya. Tiba tiba dia bertanya apa yang saya inginkan. Saya diam cukup lama dan tiba-tiba dengan kekuatan penuh saya berkata, “Doakan saya kuat menghadapi semuanya. Saya tidak meminta apa apa lagi.”

Orang bijak bertanya kembali apa tidak ingin pasangan saya kembali? Atau saya membalas dendam padanya. Saya diam lagi dan memilih menggelengkan kepala. Saya hanya ingin kuat menghadapi ini semua. Banyak yang harus saya selesaikan. Banyak yang harus saya selamatkan.

“Jika dia kembali itu bonus. Jika tidak ya berarti bukan jodoh dan saya memaafkan atas semua yang telah terjadi,” kata saya saat itu.

Orang bijak itu menyuruh saya pulang saat itu juga. Hujan turun dan dia tetap memaksa saya pulang. “Kamu yang menentukan masa depanmu sendiri nduk. Kamu harus keras untuk urusan itu”.

Sejak sore itu saya memilih fokus kepada diri sendiri. Melakukan hal hal yang saya sukai. Berbagi kebahagiaan dengan orang lain.Berbicara dengan banyak orang dan akhirnya saya hampir melupakan pernah patah hati sepatah patahnya. Saya yang selama ini hanya fokus pada satu pintu yang tertutup dan lupa menyadari banyak pintu yang terbuka siap untuk saya masuki.

Ibu saya percaya karma dan saya juga meyakini apa yang terjadi dengan diri saya adalah karma yang saya tuai atas kesalahan saya. Marah? Iya tapi yang terpenting adalah saya harus berdamai dengan kenyataan. Menerima takdir. Tidak melawannya. Sepertinya mudah jika membacanya, tapi untuk melakukannya bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal yang tidak mungkin.

Banyak hal hal baik yang Tuhan berikan kepada kita hanya tinggal kita memilih mau mengambilnya atau tidak.

Jadi untuk kamu yang patah hati atau merasa tersakiti. Fokuslah pada dirimu sendiri. Percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik dalam hidup. Yang dilakukan hanyalah bersyukur. Bersyukur. Berbuat baik. Tidak ada lagi.

Catatan ini juga pengingat bagi diri saya sendiri.Bukankah mengobati patah hati dengan jatuh cinta lagi

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *