Uncategorized

PEREMPUAN “SAYA RINDU MEREKA DI HARI IDUL ADHA”

Ternyata
saya butuh keberanian ekstra untuk bertemu orang atau tepatnya banyak
orang. Tidak cukup hanya sekedar menyiapkan fisik untuk kembali
mengendarai motor atau jalan kaki serta membawa ransel.Tidak akan
sekaligus.Saya akan melakukannya bertahap.

Saya malas saja
bertemu dengan orang yang menatap kasihan kepada saya. Lalu saya akan
mengulang ulang cerita yang sama. Apa di pikir menyenangkan? lalu mereka
akan memandang saya seakan-akan mengatakan,”Kamu terlalu banyak
tingkah. Perempuan tidak semacam itu harus anteng dan bla….blaa…
yang lain”.

Lalu semacam hakim yang memvonis tubuh saya adalah
kanibal bagi fetus-fetus yang tidak tumbuh. Semacam zombie mungkin.
Memakan tubuhnya sendiri lalu menjadi obrolan hangat di sebuah meja
makan?.Maka saya hanya cukup mempersiapkan diri. Bukan sekedar ‘hanya’
Raa. Itu menyakitkan.


Maka saya yang selalu mengatakan perempuan
merdeka atas tubuhnya sendiri. Lalu mengapa harus mengeluh atas
kemerdekaan yang sudah saya terima. Tidak, saya hanya igin saja bicara
tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab. Kita bicara saja di meja yang
sama. Dengan menikmati secangkir teh hangat tanpa harus berteriak
teriak yang hanya membuat perut saya semakin sakit. Kita bicara
baik-baik dengan menatap mata.

Kau tau? saya semakin malas saja mendengar perayaan HUT TNI yang saat ini berlangsung di Surabaya.

Maka saya hanya butuh keberanian ekstra untuk keluar dari rumah. Keluar
dari dunia yang saya ciptakan sendiri. Dunia dengan segala rasa
kehilangan dan kesedihan yang membuat semacam saya manekin dari kaca
yang mudah pecah.

Biarkan saja saya menceracau tanpa harus
berusaha menarik benang merah satu per satu. Ketika saya percaya dengan
skenario Tuhan yang Maha Keren.

Perempuan….perempuan…perempuan. “Perempuan macam apa kamu Raa. Mungkin kamu bukan sebuah pilihan yang terbaik”.

Maka saya sadar bahwa diri saya membatasi mimpi orang lain. Maka
bagaimana jika saya saja yang mengalah dan mundur teratur. Maka silahkan
meneruskan mimpi kamu. Bukan lagi mimpi kita. Konyol. Mungkin ini hanya
sekedar sebuah emosi yang meluap-luap dari perjalanan bertahun tahun
tanpa berhenti. Kamu tahu kan? jika saya ber jeda atau bahkan berhenti
sama sekali di sini. Banyuwangi.

Maka besok keluar rumah saja lah
Raa. Tinggal mandi. Berbedak lalu gunakan sedikit lipstik coklatmu.
Maka bersyukurlah jika matahari masih terbit. Bersyukurlah kamu masih
punya otak untuk berpikir secara sadar.

“I trusted you”. Pesan Herpien malam ini.

Saya mengalami ketakutan yang sangat. Ketakutan bukan main-main.
Biarkan saya menceracau malam ini. Menceracau saja.

“Raa…Nabi Ibrahim mengkorbankan anaknya Ismail. Ismail yang
benar-benar di harapkan oleh Ibrahim. Baiklah, mungkin kamu bukan nabi.
Tapi bukankah kita bisa belajar dari sebuah keikhlasan ? belajar dari
sebuah kenyataan. Bukan menyalahkan. Menyalahkan dirimu sendiri atau pun
menyalahkan orang lain? Ikhlas”

Saya lelah saja. Saya mau tidur.
Lalu saya akan terus bermimpi pergi ke bulan. Berkumpul bersama
anak-anak saya yang tidak pernah terlahirkan. Menyanyikan mereka lagu
nina bobo. Ada ibu dan ayah saya. Bahagia.

Ah saya rindu pada mereka di hari raya Idul Adha

Banyuwangi, 5 Oktober 2014

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *