Buku, Catatan

Sarinah, Perempuan dan perayaan

Malam ini saya membaca (lagi) bab Soal Perempuan dari buku Soekarno yang berjudul Sarinah : kewajiban wanita dalam perjuangan Republik Indonesia. Saya masih penasaran tentang konsep feminisme dari Soekarno.
“Janganlah tergesa gesa meniru cara modern atau cara Eropa, janganlah juga terikat oleh rasa konservatif atau rasa sempit, tetapi cocokkanlah semua barang dengan kodratnya”. Inilah perkataan Ki Hajar Dewantara yang pernah saya baca. Saya kira buat soal perempuan kalimat ini menjadi pedoman yang baik sekali. 
(Sarinah halaman 8).
Di bab Soal Perempuan, Sukarno bercerita tentang kunjunganya di sebuah rumah yang memiliki toko kecil dengan kawan dan istrinya. Istri kawan menyapa pemilik rumah dan menanyakan nyonya rumah dan ingin berkenalan.
Sayangnya, tuan rumah mengatakan jika nyonya tidak ada di rumah dan sedang menengok bibinya yang sakit. Padahal Sukarno duduk menghadap kain tabir yang tergantung di pintu yang memisahkan bagian toko dengan bagian rumah tinggal. Sukarno mengetahui ada perempuan yang mengintai dari dalam dan dia adalah istri pemilik rumah
———-
“Kemerdekaan!! Bilakah semua Sarinah Sarinah memdapat kemerdekaan?
Tetapi, ya- kemerdekaan yang bagaimana?
Kemerdekaan seperti yang dikehendaki oleh pergerakan feminismekah, yang hendak menyamaratakan perempuan dalam segala hal dengan laki laki?
Kemerdekaan ala Kartini? Kemerdekaan ala Chalidah Hanum? Kemerdekaan ala Kollontay?”
(Sarinah halaman 5)
———
Maka saya menyelesaikan Bab Soal Perempuan. Tentang Sukarno yang menceritakan seorang guru dan punya cara pikir modern tapi melarang istrinya keluar rumah karena alasan ia sangat mencintai dan menjunjung tinggi kepadanya. Agar istrinya tidak dihina orang
———-
“Dan oleh karena soal perempuan adalah soal masyarakat, maka soal perempuan adalah sama tuanya dengan masyarakat; soal perempuan adalah sama tuanya dengan kemanusian. Atau lebih tegas: soal laki laki perempuan adalah sama tuanya dengan kemanusiaan.” (Sarinah halaman 11)
————
Akhirnya hari ini 22 Desember.
Lepas kontroversi hari ibu yang bergeser maknanya, maka menjadi ibu biologis saja tidak cukup. Tapi menjadi ibu secara ideologis itu wajib. Dan salah satunya adalah dengan memperbanyak buku bacaan dan ilmu pengetahuan. Saya meyakini itu.
Dan membaca buku Sarinah karya Sukarno sama dengan membaca perempuan Indonesia. Wajib dibaca. 
Saya tidak tahu bagaimana mengakhiri tulisan ini. Tapi yang pasti hari ibu bukan hanya sekedar perayaan perempuan memakai kebaya atau berdandan.
, dan semoga persoalan persoalan perempuan Indonesia segera terselesaikan. Bukan hanya sekedar ucapan kepada ibu kita. Percayalah saya pernah dimasa masa itu, mengucapkan hari ibu “hanya” kepada ibu yang melahirkan saya. Namanya Ismiwati. (pernah) Lupa bahwa dia yang menjadikan saya seperti saat ini.
“Takkala perempuan di dunia barat sudah sadar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia timur masih saja diam diam menderita pingitan dan penindasan dengan tiada protes sedikit pun juga”
Selamat hari ibu.
Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *