Uncategorized

PATROL, PUASA DAN BANYUWANGI

Suatu hari Pak Is bilang, “Di Kompleks ku orang patrol malah di tegur. Katanya ganggu orang tidur”

Saya hanya garuk-garuk kepala keheranan.

“Bayak pendatang Raa. Dan mereka kan juga butuh istirahat”

Iya…. tiba-tiba saja di penghujung Ramadhan 2013 ini telinga saya
kangen sama musik Patrol. Dulu saat masih SMA dan jadi ketua karang
taruna, saya punya grup patrol. Jangan pikir saya memainkan alat musik
pukul dari bambu itu. Saya hanya bagian nemenin mereka latihan seminggu
dua kali. Buatin kopi dan bagian sorak-sorak paling kenceng kalo ikut
festival.

Saya ingat waktu itu kami dapat urut nomer satu, tentu sampai garis finish lebih dulu.

“Raa… patrol keliling Banyuwangi yuk. Mumpung ada pick up”

Dan saya bagian cari dana minta ke Pak RT dan Pak Lurah buat beli
bensin buat pick up. Alhasil kami pulang menjelang shubuh dan ibu saya
cuma geleng-geleng kepala saat saya loncat turun dari pick up dan
satu-satunya perempuan. Saya hapal lagu “Keblak….keblakkkk…..
kukuruyuuuuukkkkkk”


Belum lagi nonkrong berjam-jam di
Temenggungan hanya utuk melihat latihan patrol. Waktu itu Catur Arum
sudah mulai berjaya. Menyenangkan sekali saat itu.

Dan di tahun 2013 ini.

Saya, Mas Rosdi dan Pak Cik ngobrol sambil makan Nasi Goreng di depan
terminal Blambangan. Telinga saya seperti Garpu Tala. “Hei… ada
Patrol. Itu suara Mbok Temu”

Saya spcehles. Ketika bertahun-tahun tidak mendengarkan musik patrol secara langsung.

Ini sudah penghujung Ramadhan tapi patrol menjadi barang langka. Tidak
ada festival. Makan Sahur di bangunkan acara TV yang makin lama makin
nggak jelas yang isinya cuma saling cela mencela.

Saya kangen
musik patrol musik patrol. Saya kangen suara gong, tempalan, kempul,
teter, therothok, kecrek, keluncing, sempritan lompong. Saya kangen
berjoget-joget di sampingnya atau sekedar manggut-manggut.

Dalam sejarahnya, musik patrol memiliki banyak keistimewaan dan keunikan
dalam bentuk dan simbol yang diusungnya. Mulai dari simbol fisik
(seragam yang dipakai) sampai simbol non-fisik yaitu pesan-pesan moral.
Salah satu keunikan itu adalah sisi naturalisme musik tradisional yang
tidak terdapat pada musik-musik pop-modern. Kesenian musik Patrol
memiliki kekhasan lantunan musik yang tidak dimiliki musik-musik pop
masa kini. Bukan karena alat-alat musik patrol yang terbuat dari bamboo,
tetapi karena bunyi yang dihasilkannya mampu menyatukan manusia dengan
alam semesta. Boleh dibilang, patrol adalah musik tradisional
ke-alam-an.

Nilai humanisme dan naturalisme sudah terkikis. Ada
tipologi masyarakat tadisional yang menempatkan musik patrol sebagai
musik tradisional dengan berbagai keunikan dan keistimewaan serta pesan
moral. Kedua tipologi masyarakat yang menempatkan musik patrol sekedar
musik tradisional untuk kesenangan semata.

Lalu dimana
pengambil kebijakan di Banyuwangi? Ah…. dia sibuk dengan tebar pesona
road show buka di sana. Sahur disini. Sibuk nerima tamu ini tamu itu.
Belum lagi semuanya harus berkiblat pada “dunia internasional” atau
“Jakarta”. Issue patrol tidak seksi mungkin? bagi mereka.

Ada
ketakutan, saat saya membayangkan musik patrol hanya sekedar dongeng
atau dianggap legenda seperti Minak Jinggo, Sritanjung dan Sidopekso.

Tidak ada musik patrol di puasa tahun ini.

*foto 21 Juli ketika Mbok Temu dan pemain panjak naik pick up dari
“barat” turun ke bawah hanya untuk melestarikan budaya patrol tengah
malam sampai dini hari.

Kemana pemimpin kita? dia lagi tidur nyenyak Raa… tanpa mau di ganggu dengan suara musik patrol.

Fiuch…..

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *