Catatan

Pasar Malam

Matamu ada pasar malam yang riuh. Jalan jalan yang becek dengan parkir motor yang tak beraturan.
Hatimu adalah bianglala yang berputar perlahan lalu macet ketika aku duduk dan berhenti tepat di atas. Aku ketakutan tapi tetap saja macet tidak berjalan.
Matamu semacam pasar malam. Masih saja ramai dan riuh. Dan aku masih betah berdiam disana.
Padahal kamu tidak peduli ada aku atau tidak.
Iya terkadang setia dan konyol itu beda tipis. Setipis kembang gula yang masuk ke dalam mulut. Manis pahit dan buat tenggorokan kering. Batuk. Sakit.
Selamat pagi kepada hati yang patah.
Tumbuhlah lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *