Catatan, Traveling

Papua, Dream Come True

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

17 Agustus 2018.

Tepat sebulan lalu, saya berhasil menjejakkan kaki ke bumi Cenderwasih. Kurang dari 24 jam setelah mbak Olin meminta untuk liputan rumah baca di Papua. “Tanggal 17 sampai 25. Sudah sana preper. Pesawat tanggal 17 Agustus pagi ya jam 6,” kata mbak Olin pagi hari, 16 Agustus 2018. Saya yang baru bangun masih belum sadar jika tanggal 17 adalah esok hari dan berarti saya harus berangkat malam itu juga.

Saya yang spcehless di tempat tidur berasa masih mimpi. Nggak ada hujan, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba saya diminta berangkat ke Papua. Salah satu tempat yang selama ini hanya bisa saya impikan dan saya selipkan dalam doa-doa senyap.  Rutenya nanti Jayapura, Serui, Jayapura, Sorong, Fakfak, Sorong. Saya semakin shock saat membaca pesan rute yang harus tempuh.

Kurang dari 12 jam, banyak hal yang harus saya siapkan. Beruntungnya adalah cucian baru dikirim pagi itu dan berarti stok baju saya lengkap. Tinggal pinjam tas ransel ke mbak maya dan pamitan ke beberapa orang. Tidak banyak. Saya hanya cukup meminta izin pada satu orang dan saat mengatakan iya, maka semuanya akan lancar. “Janji tidak akan macam-macam,” pamit saya. Saya akan berangkat seorang diri, namun ada kabar jika manajer Gramedia Jayapura sedang meeting di Surabaya dan pulang dengan pesawat yang sama dengan pesawat yang saya tumpangi. Sementara 3 orang lainnya berangkat dari Jakarta dan kami akan bertemu di Jayapura. Manajer Gramedia yang kemudian saya panggil Mas Ido juga menjadi bagian dari tim kami. Total 5 orang dan Jayapura menjadi titik pemberangkatan awal. Saya berdoa, semoga mendapatkan teman perjalanan yang menyenangkan. Selain medan yang masih buta, waktu yang akan kami lalui bukan hanya sekedar satu atau dua hari. Saya yang meyakini akan banyak kejutan nanti.

Pesawat pertama dari Juanda Surabaya 17 Agustus 2018

Dengan sedikit drama menunggu travel dan supir travel yang kebanyakan ngoceh serta protes mengapa pesawat saya pagi akhirnya saya tiba di bandara Juanda satu jam sebelum pesawat berangkat.

Subhanallah benar rasanya ketika berhasil cek in dan membagasikan tas ransel dengan berat 9.7 kilogram. Lalu berhasil menemui mas Ido di bandara Juanda. Tempat duduk kami terpisah karena saya cek in belakangan. “Nanti transit di Makassar,” katanya.  Mas Ido yang saya temui pertama kali tipikal orang yang serius berkacama tebal.  Saya mbatin pasti hidup orang ini teratur. Sesuai jadwal. Berseberangan dengan saya yang hidupnya benar-benar berantakan.

Foto pertama di Bandara Hasanudin Makassar

Pesawat belum juga takeoff, saya sudah terlelap dan bangun di perjalanan menuju Makassar. Gusti Allah. Perasaan saya tidak karuan. Makassar. Ah minimal saya menginjak tanah kelahiran bapak saya Daeng Musa. Walaupun hanya sekedar cuci muka dan numpang sikat gigi dan beli roti.

Di Makassar kami transit.  Saya dan mas Ido tidak banyak bicara. Namun saya tau Mas Ido orang baik karena dia bolak balik menawari saya makan. Entah apa yang ada dalam pikiran dia tentang teman perjalanannya. Di Makassar saya bertemu dengan Mei, gadis asal Jember dan ibunya. Mereka baru pertama kali naik pesawat dan kesulitan untuk beradaptasi. Lagi-lagi Mas Ido berbaik hati, menawari mereka berdua bergabung bersama kami menunggu pesawat transit sambil meemesan donat. Tentang Mei, saya akan ceritakan di tulisan lain.

Baru kali ini saya  menumpang pesawat agak lama. Berjam-jam. Lebih lama tentunya karena melintasi perbedaan waktu skeitar 2 jam. Mulai baca buku, menonton film-film offline yang sudah saya unduh saat di Banyuwangi. Tidur. Bangun, Lihat keluar dan belum juga sampai.

Beruntungnya saya pindah di kursi di paling belakang yang semuanya kosong. Saya diminta pindah ketika kursi saya diduduki oleh anak papua yang lucu yang menolak duduk di samping ibunya dan bertahan di kursi yang seharusnya miliknya. “Pindah ke belakang nggak apa-apa ya mbak,” kata mas pramugara. Saya mengangguk. Walaupun kosong, kursi belakang digunakan untuk menunggu antri ke kamar mandi.

Mas Ido kemudian pindah ke sebelah saya berjarak satu kursi. Kembali lagi kita tidak banyak bicara dan dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Dia bercerita jika semalam sempat bergadang.

Pemandangan dari dalam pesawat Danau Sentani Jayapura

Pengumuman dari pramugari, kami akan segera mendarat di Jayapura. Pandangan saya mengarah ke bawah. Warna hijau mendominasi dengan Danau Sentani yang sangat mempesona dari atas. Tebing dan pegunungan semacam menjadi tembok yang sangat indah. Bibir saya tidak berhenti berucap syukur. Ada dua daerah yang selama ini saya impikan untuk dikunjungi. 1. Cordoba. 2. Tanah Papua. Dan Gusti Allah mengabulkannya detik ini juga.

Mata saya tidak berhenti menatap tanah Papua dari jendela pesawat. Tidak terasa saya menangis terharu. Perasaan yang embohlah tidak bisa diungkapkan kata-kata.

Saya meyakini. Di tanah ini saya akan mendapatkan banyak pengalaman yang berharga. Gusti Allah Terimakasih. Saya berjanji akan membalas kebaikan kebaikan Engkau berikan dengan terus berbuat baik.

 

Mari….

 

 

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *