Buku, Life Style

Pak Mustakim, penyelamat, penjual dan pembaca buku bekas yang tidak bisa menulis

Pak Mustakim, penjual buku bekas di Jember

Berawal dari sahabat yang pamer habis beli buku bekas di Jember, akhirnya saya sampai ke rumah Pak Mustakim yang beralamat di Jalan Kenanga II nomer 39 Gebang Kabupaten Jember. Ingat. Jalan Kenanga II bukan jalan kenangan.

Saya langsung takjub saat sampai di depan rumahnya yang sederhana dan berada di gang sempit dekat Pasar Gebang tersebut. Ada ribuan buku ditata di ruang tamu. Belum lagi ada beberapa kardus yang juga berisi buku. Ini surga bagi para pencari buku, khususnya mereka yang lagi menempuh kuliha atau dosen yang butuh referensi buku tambahan.

Sambil memilah-milah buku, saya mengobrol dengan Pak Mustakim, laki laki kelahiran Jember tahun 1942.

Dia bercerita jika berjualan buku bekas sejak masih berusia 12 tahun karena terdesak kebutuhan ekonomi. Saat itu, Mustakim kecil tidak bersekolah dan hanya bermain di pasar loak. Saat itu dia melihat banyak orang-orang yang mencari buku. Insting bertahan dia muncul. Dia kemudian mencari buku-buku bekas di rumah rumah dan sekolah lalu di jual kembali di pasar loak.

Pada tahun 1984 dia membaca buku manajemen, lalu dia mengembangkan bisnisnya dengan membuka lapak buku bekas di wilayah Jompo Jember. Bisnisnya berjalan lancar. Bahkan dia menyisir buku bekas hingga ke wilayah Surabaya dan Sidoarjo untuk dijual kembali. Langganannya adalah para mahasiswa, sekolah dan juga guru. “Saya lupa manajemen apa judulnya. Saya hanya penasaran. Biasanya sambil menunggu pelanggan saya baca buku yang menarik,” katanya.

Namun pada tahun 1994 usahanya mulai mundur karena pergantian kurikulum. Buku-buku yang sudah ia beli di Surabaya tidak laku karena kurikulum sudah berubah. Dia bahkan menawarkan ke sekolah-sekolah dengan harga murah tapi tidak ada satupun yang beli. Modalnya tidak kembali.

“Saat itu saya hancur. Semua buku sebagian besar saya loakkan. Saya buang. Saya berikan orang-orang. Satu persatu barang peninggalan saya jual seperti lemari, kursi bahkan dipan untuk kebutuhan hidup. Bahkan anak saya yang pertama harus berhenti kuliah di semester empat,” katanya sambil berkaca-kaca.

Selama tiga tahun dia vakum dari dunia jual beli buku bekas dan hanya mengandalkan uang kiriman dari ketiga anaknya. Hingga akhirnya pada awal tahun 2000-an dia kembali memberanikan diri untuk berjualan buku bekas.

“Istri saya sempat marah. Dia trauma saat saya bangkrut. Tapi saya nggak enak kalau hanya mengandalkan uang dari anak. saya nggak punya ketrampilan apa-apa selain jualan buku bekas. Saat itu saya sadar pendidikan itu penting. Buku itu penting. Saya ingin bantu mereka yang butuh buku dengan berjualan buku bekas,” katanya.

Dengan modal dari uang simpanan, dia memberanikan diri untuk mencari dan kembali menjual buku bekas tapi di rumahnya. Tidak mungkin dia kembali ke lapak karena harus sewa bulanan dan berarti dia harus mengeluarkan banyak uang. Dia juga masih belum tau siapa yang nanti akan membelinya. Hingga akhirnya ada salah satu dosen yang datang ke rumanya untuk mencari beberapa buku.

“saya tidak tanya dia tahu dari mana tempat saya. Saya bilang ke dia, pak tolong saya biar buku-buku ini laku gimana. Lalu pak dosen bilang akan sering datang mengajak teman dan mahsiswanya. Ya akhirnya sampai sekarang masih ada yang cari buku bekas ke sini setiap hari,” katanya.

Hujan datang. Pak Mustakim membunyikan radio.

saya tersenyum saat menikmati pemandangan langka itu. Seorang bapak tua diantara ratusan, mungkin ribuan buku dan sebuah radio tua. Lelaki yang menata ribuan buku sesuai dengan temanya. Ada majalah, bahasa, sastra, ekonomi, kedokteran, matematika dan berbagai jenis lainnya. Memudahkan untuk “self service”.

Saya kemudian memesan seporsi tahu bumbu. Istri pak Mustakim menjualnya di depan teras rumahnya yang kecil namun terisi banyak ilmu. Harganya seporsi hanya 5 ribu.

Iseng saya bertanya, apa pendidikan terakhir Pak Mustakim. Sambil tertawa dia berkata bahwa dia tidak pernah sekolah.

“Sampai saat ini saya tidak bisa menulis tapi saya suka membaca. Apa saja, bahkan koran bungkus nasi pun saya baca,” jelasnya. Pak Mustakim bercerita dia sendiri masih sering mencari buku-buku bekas ditemani oleh cucunya.

Buku di rumah beliau beragam. Bahkan novel novel tahun 1970-an cukup banyak disini.

Saya meringis saya melihatnya. Rasanya ingin saya angkut saja semuanya ke rumah saya.

Hujan terang. Friska teman saya datang

Tidak sampai 100 ribu saya membawa lebih dari 25 buku.

Saat saya pulang saya sempat bertanya lagi ke beliau. “Pak ada buku di Bawah Bendera Revolusi?”. Belia menjawab sudah laku tiga hari lalu. “Saya jual 400 ribu,” katanya.

Saya semacam prajurit kalah perang. Lunglai.

Silahkan singgah

Bapak Mustakim (083815495866)
Jalan Kenanga II no 39
Gebang-Jember

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *