Catatan

Pagi-pagi ke Kandangan lagi…. Suliono lagi

Senin, 12 Februari 2018. Tidur tidak sampai lima jam, belum jam 7 pagi. Saya sudah sampai di rumah Mbak Happy. Hari ini kami berencana ke Kandangan lagi setelah dengar rumor Densus 88 akan ke Banyuwangi. Teman perjalanan hari itu adalah mbak Happy, mas Ivant, cofi dan Cak Bin. Mas mahfud dan Mas Yayan nyusul dari Jember.

Kami singgah ke Rumah Kyai Maskur Ali, pengasuh Ponpes Ibnu Sina di Kecamatan Genteng, Beliau juga ketua PC Nu Banyuwangi tempat Suliono pernah mondok 6 bulan sebelum memutuskan pindah ke Sulawesi ikut kakakny. Dari beliau didapatkan informasi jika, Suliono beberapa kali pernah datang ke Ibnu Sina, karena selain pernah mondok disana, adik kandungnya juga menempuh pendidikan di sana mulai SMA dan saat ini sedang kuliah di semester pertama. Kedatangan Suliono terakhir kali adalah pada tahun 2017. saat itu dia mengumpulkan santri putra di ruang depan tanpa sepengetahun pengurus pondok pesantre. Ibu Nyai yang melihat gerak gerik mencurigakan Suliono sempat membawa pentungan dan membubarkan pertemuan tersebut.

“saya marah sebagai seorang ibu. Sedih melihat perilaku Suliono. Saya bilang ke dia jangan ajarkan paham-paham yang nggak bener dengan adek-adekmu. Saya bilang sambil bawa pentungan,” kata Bu Nyai.

Lepas jam 11 siang, kami geser ke Kandangan. Lelah, capai, ngantuk jadi satu. Perjalanan semacam panjang sekali. Di tengah jalan, ada kabar tentang warga Sraten Banyuwangi yang juga ditangkap di Poso dan terduga teroris. Tapi kami tetap memilih ke Kandangan. Nanggung kurang berapa kilometer lagi sampai, dan tidak memungkinkan kami untuk balik ke kota.

Kami langsung ke rumah Suliono. Rumahnya tertutup. Keluarganya tidak membuka pintu. Ada linmas dan beberapa polisi yang menjaga disekitar rumahnya, tidak mendekat. Kami juga tidak mendekat. Mengambil gambar dari halaman rumah tetangganya. Oh ya, seperti pada umumnya rumah rumah di desa tidak berpagar. Kita bisa mengakses halaman rumah tentu dengan ijin pemilik rumhnya.

Setelah cukup, kami kembali ke rumah Pak Mubarok, mantan kepala desa yang sehari sebelumnya rumahnya kita singgahi. Kembali kami menumpang mengirim berita. Istri pak Mubarok yang baik, menyuguhkan kopi dan teh hangat serta tikar plus bantal!!!. Ya minimal bisa tidur sebentar untuk menghilangkan pusing dan ngantuk sambil nyambi ngetik berita.

Sampai jam 9 malam kami disana. Densus tidak datang dan kami memutuskan pulang. Makan bakso di Jajag dan sebelum tengah malam sudah sampai rumah Sukowidi. Pesan masuk ke handphone. “Tadi sore rumah Rizal Muzaki warga Sraten di geledah Densus. Dia tertangkap di Poso minggu kemarin”. Pesan lain masuk. “Kita besok berangkat jam 6 pagi”

Menghela nafas.Cuci muka. Tidur di atas kasur menyalakan kipas angin. Sebelumnya menggosok minyak angin di leher perut dada dan bagian pinggang. Batuk saya mulai datang. Suara tremor seperti kodok. Suhu badan meningkat. Lalu saya mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf pada tubuh yang saya ajak untuk bekerja keras. Lalu berdoa. Mengucapkan terimakasih atas hari ini dansemoga  besok bisa bangun pagi.

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *