Uncategorized

PAGI CINTA

16 Februari 2014
 
“Pagi Cinta”

Saya selalu mengucapkan dua kata tersebut sambil mengejap-ngejapkan mata. “Jangan nyalakan lampu nanti adek mencair”

Kamu tertawa.

Atau dengan suara saya yang berat meminta segelas air putih. “Galon sekalian ya?”. Saya merajuk.

Tiba-tiba saja saya ingin mengenangnya sambil merindukan kamu.
Tiba-tiba saja saya merasa sepi saja di pagi ini, ketika tidur saya
semacam merpati dalam ‘pagupon” nya. Tapi saya baik-baik saja kok. Sungguh.

Saya hanya ingin menulis saja sesuka-suka hati saya. Ketika menulis buat semacam teraphy jika merasa sendiri.

“Ayolah Raa. Masih banyak yang harus dipikirkan. Masih banyak yang harus di kerjakan”


Saya tahu. Tapi biarkan lah satu dua tiga jam atau berjam-jam saya berpikir tentang diri saya sendiri.

Memejamkan mata dan menekan rindu. “Akhirnya saya tahu alasan Tan Malaka tidak mau jatuh cinta”

Cukuplah waktu seperti ini semalaman menjadi perempuan yang lebay
seperti ini. Sebelum berangkat ke Muncar. Ada pelatihan penulisan untuk
santri Pondok Pesantren hari ini.

Sudahlah Raa. Bergerak saja perlahan. Hanya butuh membiasakan diri saja.

“Pagi itu aku sengaja memilih kopi yang kau suka karena rindu itu terlalu sukar untuk dinyatakan dengan kata”

“Selamat pagi cinta”. Saya diam saja. Seperti biasa, tidak ada satu pun di rumah ini.

Mungkin kesalahan kita adalah lelah berlari untuk sesuatu yang tak terkejar Ya mungkin kesalahan kita adalah membiarkan kenyataan berserakan.
Hingga pada sisa hujan di suatu keadaan, kita hanya sepasang sepi yang
berkorban untuk ketidaktahuan
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *