Uncategorized

Pada satu malam

Pada satu malam semua rasi muncul dengan sempurna di depanku. Aku ternganga. Rasi-rasi itu muncul seperti menunjukkan jalanku untuk pulang. Walaupun aku sadar, rasi hanyalah khayalan orang-orang dulu yang menhubungkan antar bintang hingga membentuk obyek khayalan.
Dan malam itu aku mampu melihat tempatku untuk pulang. Aku tersenyum. Perjalananku hampir sampai menuju pulang.
Taurus penjelmaan Dewa Zeus. Ada bintang Aldebaran, sebagai bintang paling terang. Nebula Kepiting dan Pleiades, si Tujuh Bersaudara. Gemini dengan bintang Pollux, yang besarnya sepuluh kali lebih lebih besar dari diameter Matahari, sebagi primadona. Cancer si Kepiting, Leo sang Singa, dan tak lupa Virgo dengan bintang paling terangnya, Scorpius, si Kalajengking yang membunuh Orion yang selalu melekat dalam anganku karena kumpulan dari cluster dan galaxy. Bintang Antares yang berwarna merah sebagai bintang paling terang. Sedangkan di Sagittarius, aku mampu melihat kabut galaksi Bimasaktio dan ada Capricornus, Aquarius, tempat lahirnya planet Neptunus, juga Pisces.
Jika rasi saja punya keluarga, maka aku juga (harus) punya keluarga dan di sanalah aku harus pulang. Senyumku semakin mengembang dan berubah menjadi tawa terbahak-bahak hingga aku menangis dan gendang telingaku pecah karena tawaku sendiri.
Malam itu, aku berlari terus berlari sambil tertawa mengikut arah rasi-rasi itu yang menuntunku untuk pulang.
Maka perjalanan terjauh ada pulang ke rumah. Pulang ke tempat yang seharusnya ada yang menunggu kepulanganku.
“Saatnya kamu mencari ‘rumah’ mu yang baru Raa ?”, kata ibu ku malam itu. Aku bilang ke ibu, aku percaya dia akan datang menjemputku untuk mencari rumah yang benar benar baru.
Selamat pagi Banyuwangi. Lama juga aku tak menelusuri jalan jalan mu.
Percayalah aku selalu jatuh cinta berkali kali padamu.
Dan degup jantung kotamu yang selalu menyuruhku untuk pulang. Dan kau berkata menungguku disana
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *