Catatan

Ning, kamu abadi di tulisan ini

Ning… saat aku dengar kamu tidak sadarkan diri tiga hari yang lalu aku masih ada di ruang tunggu bandara.
“Raa kamu dimana? Nining nggak sadarkan diri”
“Iraa di bandara perjalanan ke Jakarta mbak”.
Aku masih menguatkan diri bahwa kamu drop karena efek samping dari konsumsi obat.
“Mbak kamu ke tempat Nining ya. Perasaanku nggak enak. Pulang dari Jakarta aku langsung ke rumahnya di Jambu. Aku kebetulan dapat tiket pesawat conect langsung ke Banyuwangi”
“Pasrah ae wes Raa”
Ning. Saat itu aku menyelesaikan buku “Bulan Terbelah di Langit Eropa”. Di halaman 16 ada sub judul “700 meter di atas bumi”. Menceritakan tentang 92 penumpang dalam pesawat yang di bajak yang endingnya nanti akan menjadi sejarah besar pada 11 September 2001.
“Mereka menutup mata dengan mulut tak bergeming. Mereka menyebutkan satu satunya Kekuatan yang mampu mewujudkan keajaiban. Bahkan mereka yang tak pernah mengenal Kekuatan itu sebelumnya dalam hidup, tiba tiba menjadi orang yang paling mendekat pada zat Kekuatan. Tuhan Yang Maha Segala Mengubah Keadaan. Atau Tuhan Yang Maha Segala Menetapkan Keadaan. Dia Yang Maha Tahu mau ke manakah kapal layang bersayap besi ini melaju”. (Bulan Terbelah di Langit Eropa)
Ning…. aku masih ingat saat kita makan malam terakhir dan aku bilang bahwa kamu tidak akan mati. Jikalaupun mati, kamu ya memang mati tanpa menggunakan alasan sakitmu. Mati ya mati saja.
“Aku bahagia Raa. Aku nggak masalah dengan penyakitku. Aku sudah bisa menerima tapi masalah perasaan yang diabaikan aku masih marah Raa. Masih emosi kalau mikir”
“Halah abaikan. Kamu cukup jatuh cinta lagi”
“Lalu kamu sendiri sekarang bagaimana Raa. Kamu baik baik saja”
Aku tertawa keras sekali. “Ehh aku sudah bisa move on. Gampanglah jangan cerita masalahku sekarang. Yang pasti semua akan baik baik saja”
Dia menghabiskan nasi goreng pesanannya dan air mineral empat gelas. “Aku harus banyak minum Raa”
“Butuh aku pesenin galon?”
Kamu tertawa. Aku banyak menjadi pendengarmu malam itu. Kamu yang bercita cita mandiri dan membuka usaha buat keripik singkong, buat kerupuk dan tape.
“Aku nggak mau bergantung pada orang lain. Aku masih cari modal”. Saat tanya berapa modalnya yang dibutuhkan dia bilang sekitar saru juta.
“Nggak usah mikirin modal. Nanti kita cari bareng bareng. Ehh gimana kalau kamu tinggal aja di Sukowidi. Ada kamar kosong dan kamu bisa usaha di rumah belakang. Cukup luas kan”
Dia menolak halus dengan alasan tidak ingin merepotkan diriku. 
“Pulang dari Jakarta kita ketemuan lagi ya. Aku serius ini. Pokoknya kamu harus pindah ke Sukowidi. Nggak usah kos nggak usah kerja berat berat lagi”.
“Gampang wes Raa. Ngenteni awakmu balek ae”
Kami berpeluk lama di tempat makan malam terakhir kita. “Raa. Aku nggak akan mati”
Aku merasa tubuhmu saat kurus sekali berbeda dengan pelukan saat kamu menikah setahun yang lalu. “Aku tahu Ning kamu nggak akan mati. Kamu ibu yang hebat. Perempuan keren”.
Kami berpisah dan saat pulang aku bercerita kepada sahabatku yang menjemputku malam itu. “Feeling ku nggak enak mas”.
Ning mati itu seperti apa? kamu sempat tanya apa yang aku rasakan saat sakit dan masuk ke dalam ruang operasi? “Tuhan deket banget Ning. Termasuk sama aku yang sholatnya aja bolong bolong”. Aku dan kamu terdiam cukup lama.
Ning. Nun jauh ribuan kilometer dari tempatku berdiri, sahabat kita Intan mengirim inbox di facebook ku. Mengabarkan kamu berpulang. Aku panik dan menelpon satu persatu sahabt kita. Aku masih yakin ini berita hoax.
“Hari ini dimakamkan Raa”
Aku berjalan cepat ko toilet. Bersembunyi dari rasa sedih yang luar biasa. 90 menit lagi aku harus bicar di depan menteri. Materinya semuanya hilang di otakku. 
Bagimana kamu mati sendirian sedang aku yang kamu anggap sahabat baik sibuk dengan urusannya sendiri.
Ning. Aku pulang hari ini. Dan aku yakin tidak bisa memberikan pelukan 20 detik bahkan untuk yang terakhir kali kepada kamu. 
“Kalau nanti aku mati kamu jangan nangis ya Raa Kamu jangan sedih”
“Edyan. Kamu nggak akan mati. Kamu harus tahu kalau nanti aku pasti punya pacar baru”
“Kon seng edyan Raa. Pokoke ojo nangis”
Ning aku tahu kamu saat ini sudah baik baik saja. Tugasmu sudah selesai salah satunya adalah menemani teman alay semacam aku. Kamu juga udah bahagia. Kamu juga nggak sakit lagi dan nggak perlu di sibukkan dengan obat obatan. Nggak perlu lagi sibuk ngitung apakah gajimu cukup nggak buat sebulan.
Aku kehilangan Ning. Kehilangan sahabat yang komen “woiii dimana bales inboxku”. Kehilangan pendengar terbaik yang selalu tanya, “Trus terus terus gimana cerita. Aku mau keliling keliling kayak kamu”
Kamu sudah keliling Ning. Kamu sudah sampai di titik terjauh dari sebuah perjalanan. Bersama Tuhan di surga.
Tunggu Ning. Hari ini aku kirim A lfatiha untuk kamu di makammu.
Dan aku masih berharap berita ini hoax dan kamu menemuiku di rumahmu dengan segelas teh panas dan manisan pala.
Banyuwangi 22 Desember 2015
Mengenang kepergian kawan baik dua tahun yang lalu 
Al-Fatihah Ning
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *