Catatan, Life Style

Nikah itu seumur hidup! kagak sehari dua hari neng!

Saya membuat catatan ini dari lantai 8 di salah satu hotel di pusat Pontianak. Menjadi salah satu peserta Health and Nutrition Journalists Wokshop 2018 yang diselenggarakan oleh Sekolah Jurnalisme Aliansi Jurnalis Independen dan Danone Indonesia. Serangkaian acara dari Festival Media AJI yang diikuti buaaanyak jurnalis dari seluruh Indonesia. Ada seratusan orang yang mendaftar workshop ini, ndilalah saya yang tinggal di daerah, ujung pulau Jawa masuk sebagai salah satu peserta. Sengaja saya daftar, selain memang butuh ilmunya, saya juga pingin datang ke acara keren versi saya. La kalau biaya sendiri, tentu saja sudah nggak sanggup. Pake uang siapa? masak saya suruh korupsi.

Paragraf pertama catatan ini saya buat sedemikian rupa setelah di linimasa Instagram tersebar quote yang bikin saya meringis sendiri. “Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi”. Oh Gusti… masih banyak hal yang bisa dilakukan selain ingin dinikahi.

Eh tapi serius ini. Kadang-kadang saya mikir begitu juga. Saat banyak banget pekerjaan. Tulisan numpuk, berangkat pagi pulang malam untuk even. Belum lagi saat awal bulan, ketika harus bayar tagihan listrik, air, internet, belanja bulanan, nongkrong di cafe atau liat tiket pesawat. Rasanya pingin bilang, “Bang nikahin adik bang. Adek capek kerja dan bayar ini semuanya sendirian”.

Walaupun ending dari pikiran itu adalah garuk-garuk kepala dan mbatin, emang ada laki-laki yang tiba-tiba datang terus bayarin pengeluaran yang itu memang tanggungjawab kamu tanpa ada pamrihnya gitu?

Baiklah para perempuan penganut quote “Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi”. Menikah itu menyempurnakan agama. Begitulah kira-kira. Saya meyakini itu. Tapi mbok ya mikir sedikit, apakah dengan menikah tanggunjawab pekerjaanmu itu bisa kelar? selesaikan kerjaan itu paling ya dua, tiga atau sepekan bisa selesai. La menikah? itu tanggungjawab seumur hidup lo. Dan menikah itu akan menjadikan profesi sebagai istri dan ibu melekat 24 jam! kamu sanggup? la wong kerja gampang lelah, kok ya mau nikah.

Menikahlah ya karena kamu niat menikah bukan karena lelah bekerja. Setelah menikah apa iya ada jaminan jika kehidupanmu lancar semuanya? nggak ada jaminan. “Kan ada yang diajak ngobrol Raa. Di ajak berbagi”. Baiklah saya sepakat dengan hal itu. Tapi coba liat sekitar betapa banyak perkawinan yang dua orang di dalamnya berjalan sendiri-sendiri? kalau saya selalu mempersiapkan hal yang terburuk dalam perjalanan biar siap-siap dan ndak kaget kalau ada apa-apa. Gitu aja kadang masih shock kalu ketemu hal-hal di luar ekspetasi.

Kalau kamu, kaum perempuan lelah bekerja ya ambil cuti. Jalan-jalan sana keluar rumah. Datangin tempat yang pingin kamu datangi. Tidur seharian dikamar atau di kostan. Makan es krim atau coklat yang banyak. Kulineran. Makan makanan yang selama ini takut kamu makan hanya karena takut gendut. Masak yang banyak, undang temen-temen buat makan bareng atau dibungkusin lalu dibagi-bagikan ke orang yang membutuhkan. Pergi ke salon. facial, creambath, potong rambut. Main ke pantai buat guling-guling di pasir atau ke kolam renang buat berendam seharian. Daftar jadi relawan di komunitas dan mengabdi satu dua hari. Atau yang paling ekstrim. Naik gunung Ijen, jalan kaki nggak pake ojek biar ngrasain capeknya naik gunung itu pake banget nget nget nget. Atau sekalian tidur di kantor? Atau ntar aku kontak temenku buat nawarin MLM? Atau yang lebih ekstrim lagi. Kata temenku. Lelah bekerja ??? Resign boskuuu.

Oh yaa paragraf diatas adalah solusi yang ditawarkan beberapa kawan baik saya via chating hari ini. Kece kan solusinya?

Tapi yang lebih penting dan wajib diperhatikan , jika dirimu penganut “Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi” adalah pastikan jika ada laki-laki yang diajak nikah!

Wes talah. Sekarang fokus sama dirimu sendiri. Belajar yang baik. Bekerja yang baik, karena laki laki nggak bisa bedakan mana lisptik yang harga 50 ribu sama 500 ribu. Kalo sudah jodoh, mau dirimu jadi manager perusahaan asing pun dengan kesibukan yang berjibun, tetap aja ntar nikah.

Oh ya catatan ini saya buat bukan berarti saya anti menikah. No! saya akan menikah. Kapan Raa? ntar habis magrib kalo nggak hujan.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *