Uncategorized

NATUNA : SURGA DI UJUNG UTARA

“Kamu di mana Mbak”
“Di Natuna”
“Whaaaaattttsss… Natuna? Apaan itu”
Saya tertawa tergelak-gelak. “Natuna masih Indonesia dek….. Paling ujung sebelah utara”
“Laopo sampeyan mrono”
“Dolan”
Sepenggal 
percakapan antara saya dan sepupu saya. Dia terkaget-kaget saat tahu
bahwa saya ada di salah satu kabupaten paling utara dari Indonesia.
“Jauh banget…”, katanya. Dan itu adalah salah satu alasan mengapa Natuna
saya masukkan dalam list pertama  wilayah Kepulauan Riau yang harus
saya datangi. Dan ternyata insting saya sebagai seorang yang suka jalan
terbukti. Bukan sebuah hal yang sia-sia menjadikan Natuna sebagai sebuah
mimpi.
karena sendiri saya memoto kaki sendiri
Perjalanan
di awali dari Bandara Hang Nadim. Dan akhirnya saya mengawali dengan
pesawat poker yang isinya hanya 50 orang. Huwiksss….. melewati tangga
kecil masuk pesawat, serasa masuk dalam taruhan nyawa. Uji nyali. Dan
isinya tidak lebih dari 50 orang.  Jam 9 tepat. Pesawat landing, dan
perjalanan memakan waktu 1 jam 30 menit!!!!!! Batam – Natuna. Sama
dengan perjalanan Batam kuk di sebelah
jendela sehingga saya bisa melihat baling-baling pesawat kecil dan juga
pulau-pulau kecil di bawahnya. Berbeda dengan pesawat boeing yang biasa
saya naiki. Saya pikir pesawat ini terbang lebih rendah sehingga pulau
dan laut bahkan kapal laut bisa dilihat dengan mata telanjang.
Berkali-kali mulut saya berdecak kagum.  Indonesia… aku mencintaimu.
Natuna
di ambil dari bahasa Belanda yaitu “Natunae” yang artinya adalah alami
yang bisa di artikan secara harfiah adalah pulau yang alami. Dan saya
sangat menyetujui alasan Belanda member nama Natuna. Bahkan hingga di
tahun 2012, Natuna tetaplah pulau yang alami.
Saya
berusaha mempelajari dan membaca sejarah Natuna, tapi sepertinya saya
mengalami kesusahan untuk mencari sebuah benang merah untuk
memasukkannya ke dalam otak saya yang bebal ini. Saya melihat mengapa
tidak ada ketersinggungan langsung dengan sejarah dengan wilayah di
Kepualaun Riau lainnya. Saya mengernyitkan dahi berkali-kali, dan saya
berusaha untik terus memahami.

Dalam sebuah sejarah yang
yang saya baca, Kabupatena Natuna dahulu adalah bernama Pulau Tujuh yang
terdiri dari beberapa pulau antara lain wilayah Pulau Siantan,  wilayah
Pulau Jemaja, wilayah Pulau Bunguran, wilayah Pulau Subi, wilayah Pulau
Serasan, wilayah Pulau Laut dan wilayah Pulau Tembelan.  Masing-masing
wilayah di perintah oleh Tokong Pulau. Tokong sendiri ada dua makna.
Yang pertama diambil dari kata “Tekong” yang berarti Nahkoda yang
berarti ia memegang peranan pening dalam pengendalian kapal atau perahu
atau bisa diartikan adalah memegang peran penting dalam pemerintahan.
Yang kedua adalah “Tokong” yang berarti adalah Tanah Busut, yaitu tanah
yang menonjol ke permukaan laut atau tanah kukop atau batu karang yang
menonjol ke permukaan laut yang snagta berbahaya untuk lalu lntas kapal
yang melewati arela tersebut.  Tokong Pulau ini di berikan hak oleh
Sultan Riau untuk mengendalikan pemerintah di wilayah terkecil.
Kepulauan Natuna sejak di berlakukan Stbld. 1911 No 599 terdiri dari Kepulauan Anambas, Kepulauan Natuna Utara, Kepulauan Natuna Selatan,
Sedangkan Kepulauan Tembelan masuk wilyah Tanjung Pinang. Oleh karena
wilayah Pulau Tujuh waktu itu masih termasuk Kerajaan Riau Lingga, maka
di wilayah Pulau Tujuh di tempati seorang “Amir” (Camat) oleh Sultan
untuk mendampingi para Datok-datok (Datok Kaya) selaku tokong Pulau
(Penguasa Pulau). Dan ketujuh Datok Kaya ini langsung sebagai Pemegang
Adat dan Kepala Adat setempat yang mengatur sistem pemerintahan
tradisional. Seorang Amir yang di tempati atau diangkat oleh Sultan atas
persetujuan Residen Riau, adalah sebagai pejabat yang membantu Kontelir
dan segala laporan tentang keadaan wilayah kerjanya harus melapor ke
Terempa (sekarang Kabupaten Anambas) tempat kedudukan Kontelir pertama
adalah di Tanjung Pinang Belitung dan pada tahun1906 pindah di Sedanau
dengan memindahkan seperangkat Rumah dan Kantor Kontelir.
Dari data yang saya dapatkan, ada beberapa gelar yang diberikan kepada Tokong Pulau di masing-masing wilayah di Pulau Tujuh.
  1. Wilayah Pulau Siantan : Pangeran Paku Negara dan Orang Kaya Dewa Perkasa
  2. Wilayah Pulau Jemaja : Orang Kaya Maha Raja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan
  3. Wilayah Pulau Bunguran : Orang Kaya Dana Mahkota, dua orang penghulu dan satu orang Amar Diraja
  4. Wilayah Pulau Subi : Orang Kaya Indra Pahlawan dan Orang Kaya Indra Mahkota
  5. Wilayah Pulau Serasan : Orang Kaya Raja Setia dan Orang Setia Raja
  6. Wilayah Pulau Laut : Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba Diraja
  7. Wilayah Pulau Tambelan : Petinggi dan Orang Kaya Maharaja Lela Setia
Ada
beberapa gelar yang kembali lagi membuat saya mengernyitkan dahi. Untuk
wilayah Pulau Siantan terdapat gelar Pangeran Paku Negara, dan ini
jelas identik dengan Jawa. Dari beberapa literature yang yang saya baca,
sangat jarang ada gelar “pangeran” dalam kerajaan melayu. Apalagi
dengan tambahan Paku Negara yang sangat identik dengan wilayah Jawa
Mataraman. Saya hanya berpikir ternyata mulai dulu Jawa benar-benar
memberikan pengaruh pada seluruh wilayah di Nusantara. Akhirnya…
bukankah keris Tameng Sari milik Hang Tuah adalah berasal dari Kerajaan
Majapahit?
Lalu jika di bandingkan degan gelar-gelar lain
di wilayah Kepulauan Riau seperti Batam, Tanjung Pinang, Lingga, Bintan
dll, gelar di Pulau Tujuh atau Natuna ini berbeda, sebut saja gelar
“orang kaya”. Saya belum pernah menemukannya atau mungkin saya yang
masih belum pernah membacanya. Apakah gelar “orang kaya” ini diberikan
kepada masyarakat tempatan yang mempunyai harta paling banyak dan  bukan
keturunan dari kerajaan Melayu akan tetapi di berikan kewenangan untuk
memimpin sebuah wilayah?  Entahlah…. Dan saya akan terus mencari benang
merahnya. 
Suatu pagi di Pantai Kencana
Mengenai sejarah, sepertinya Indonesia harus
berterimakasih kepada Belanda.  Natuna yang terletak paling utara
ternyata tidak luput dari perhatian Belanda.  Salah seorang yang pernah
menulis adat istiadat Pulau Tujuh adalah “Van de Tillaard” bekas
Posthouder Pulau Tujuh tahun 1913.
Pada tahun 1985, Di
Pulau Midai atas inisiatif Kerajaan Riau Lingga di buka lahan untuk
tanaman jenis kelapa yang di fungsikan untuk kesejahteraan kerajaan.
Saat itu bermuculan serkah atau semacam koperasi. Koperasi yang pertama kali didirikan adalah “Syarikat Natoena Co. Sedanau”
tahun 1318 H yang di pelopori oleh Amir Raja Idris, kemudian menyusul
“Syarikat Ahmadi” di Midai tahun 1324 H (1906) dan “Syarikat Terempa
tahun 1332 H (1913) yang di beri nama”Syarikat Maatschappailijk
Kapital“. Dan oleh Bung Hatta, Serkah “Ahmadi” di nyatakan sebagai
koperasi tertua di Indonesia. Kopra yang di hasilkan oleh Pulau Midai
oleh pihak kerajaan di luar ke Singapura. Saat itu wilayah Pulau Tujuh
merupakan gudang kelapa kering terbesar di kerajaan Riau Lingga.
Setelah
penguasa Belanda menghapuskan Kerajaan Riau Lingga berdasarkan Stbld.
1913 No.51, maka di terbitkan pula surat keputusan baru  berdasarkan
“Javache Ceorant dan Cewestelijkkeur 11.C” yang menetapkan bahwa
pungutan cukai oleh Datuk Kaya diteruskan dengan catatan orang luar di
kenai cukai, sedangkan bagi anak negeri bebas cukai. Untuk menguatkan
kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda di Wilayah Pulau Tujuh, maka
diterbitkanlah sebuah keputusan Stbld.1913 No.19 agar dibentuk
“Onderdistricht dan District” dengan menempatkan seorang Amir dimana
adanya Datok sangat jelas begitu dibubarkannya Kerajaan Riau Lingga
makin leluasalah Kolonial Belanda menjalankan roda Pemerintahan, dan
terakhir dengan Stbld 1917 No. 55 menetapkan belasting (cukai) hasil
kopra di wilayah Pulau Tujuh dan Kekuasaan Datok Kaya semakin lemah
karena tindakan sepihak oleh penguasa Belanda. Habisnya kekuasaan Datuk
Kaya di Wilayah Pulau Tujuh sampai menjelang penyerahan kedaulatan.
Saya
mendapatkan data, sebelum pecah Perang Dunia II tahun 1941-1945 para
pejabat yang masih menjabat sebagai “Amir” di Kepulauan Anambas dan
Natuna adalah sebagai berikut :
1. Pulau Jemaja : Moehammad Yoenoes.
2. Pulau Siantan  : Moehammad Dahlan.
3. Pulau Midai : Raja Moehammad ( mantan Sekretaris Gubernur pertama Propinsi Riau).
4. Pulau Serasan :  Amir Bismarack.
5. Bunguran Barat : Amir Rd. Soewardiono.
6. Bunguran Timur :  Amir Ibrahim.
7. Pulau Tembelan :  Encik Moehammad Apan (mantan Bupati pertama di Kepulaua Riau).
Para
Pejabat ini tidak lagi keterkaitannya dengan penguasa Kerajaan Riau
Lingga dan Kekuasaan Amir (camat) waktu itu adalah penempatan yang
diangkat oleh penguasa Belanda yang memperbantukan atasannya (Kontelir)
di Wilayah Kepulauan Anambas dan Natuna
Pantai ini tidak bernama, tapi bagi saya tetap surga
Sedangkan jika di
kaitkan dengan Kepulauan Riau, Pulau Tujuh merupakan salah satu bagian
kawedanan dari 4 kawedanan dari Kabupaten Kepulauan Riau. Hingga seiring
dengan otonomi daerah, maka terbentukah Kabupaten Natuna berdasarkan UU
no. 53 tahun 1999 yang terdiri dari 6 kecamatan yang kemudian
berkembang dan mengalami pemekaran menjadi 16 kecamatan.
Dan
sepertinya harus ada penelitian secara akademik terkait sejarah Natuna
secara detail termasuk hubunannya dengan Kepulauan Riau. Kenapa saya
menulisnya?
Dari beberapa refrensi saya membaca jika
Bangka Belitung pun sempat mengklaim jika Pulau Tujuh adalah bagian dari
wilayahnya. Saya rasa ini beralasan. Walaupun saya belum pernah datang
ke Bangka Belitung, Negeri Laskar Pelangi, namun dari film “Laskar
Pelangi” saya melihat ada kesamaan  pemandangan terutama untuk batu-batu
yang berserak di lautan. Selain itu bahasa daerah yang di gunakan oleh
masyarakat Natuna jauh berbeda dengan bahasa daerah yang digunakan oleh
wilayah Kepulauan Riau.
Persoalan ini muncul karena
tumpang tindih undang-undang yaitu di dalam Undang-undang Nomor 27 Tahun
2000 Tentang Pembentukan Provinsi Bangka Belitung menyebutkan Pulau
Tujuh termasuk dalam wilayah administrasi dan wilayah hukum Babel,
sementara dalam UU Pembentukan Kabupaten Lingga, Kepri, gugusan Pulau
Tujuh juga masuk ke wilayahnya. Suasana sempat memanas ketika ada kapal
isap bijih timah milik Pemprov Kepri melakukan penambangan di wilayah
gugusan Pulau Tujuh yang kaya sumber daya mineral dan minyak bumi
tersebut. (http://id.berita.yahoo.com/babel-harus-tunjukkan-dokumen-kepemilikan-pulau-tujuh-054610437.html)
Kepri
dan Babel saling mengklaim kepemilikan Pulau Tujuh, yang secara
geografis lebih dekat di Pulau Bangka. Pemprov Babel memasukkan Pulau
Tujuh dalam wilayah administrasi sesuai undang-undang pembentukan
Provinsi Kepulauan Babel tahun 2000. Sementara, Pemkab Lingga, Provinsi
Kepulauan Riau juga mengakui Pulau Tujuh sebagai wilayah mereka pada
tahun 2003. Bertahun-tahun upaya damai dilakukan keduabelah pihak namun
tak kunjung berhasil. Tetapi, penduduk di Pulau Pekajang di Gugusan
Pulau Tujuh hidup di bawah administrasi Pemkab Lingga sampai saat ini.
Di sana sudah berdiri sarana pendidikan, kesehatan dan jembatan yang
dibangun Pemkab Lingga
Dari Bukit Senubing …. Luar biasa… langsung berbatas dengan Laut China Selatan
Soal klaim-mengklaim Natuna sendiri
konon juga di klaim sebagai milik China karena lautannya sendiri
bernama Laut China Selatan dan pernah merilis peta resmi yang memasukkan
Natuna dalam wilayahnya. Termasuk juga Taiwan, Muangthai, Malaysia,
mengklaim Natuna sebagai bagian dari Negaranya. Dalam catatan diplomasi,
bahkan China bukan hanya mengklaim pulau-pulau itu, namun lebih dari
posisi tersebut, juga kekayaan lautannya yang memiliki ratusan bahkan
ribuan jenis ikan nomor 5 (lima) di dunia, dan tentunya kekayaan tambang
minyak dan gas yang sangat besar potensinya. Saat ini landas kontinen
Indonesia masih tumpang tindih dengan landasan landas kontinen Vietnam
di Laut China Selatan. Berbagai perundingan sudah dilakukan, namun
nampaknya belum tercapai kesepakatan.
Berdasarkan kondisi fisiknya, pulau-pulau yang tersebar di wilyah Natuna merpakan tanah berbuki dan bergunung batu, dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Sedangkan secara geografis Natuna sangat strategis karena berada di antara jalur perdagangan Internasional. Natuna merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan beberapa negara
– sebelah utara : Vietnam dan Kamboja
– sebelah timur : Malaysia Timur
– sebelah barat : semenanjung Malaysia
Bandara Natuna….
Akhirnya saya turun dan mendarat Negeri Sakti Rantau Bertuah…… bagi saya
ini adalah surga di bagian utara Indonesia. Langit biru dan hempasan
angn serta matahari yang menyengat seakan menampar wajah saya.
Membangunkan saya yang selama ini terbuai oleh ketidaksadaran saya bahwa
masih banyak yang bisa dilakukan selain diam dan terpuruk dalam
kenyataan yang tidak sesuai dengan  harapan…..
Dari sebuah sudut denganlatar belakang Batu Kapal

Natuna…
engkau tahu? Satu mimpi ku tidak di kabulkan oleh Tuhan, tapi Tuhan
mewujudkan ribuan mimpiku yang lain yaitu salah satunya jatuh cinta ke
kamu. Iya kamu…. Natuna Surga di Ujung utara.

Tagged

1 thought on “NATUNA : SURGA DI UJUNG UTARA

  1. Salam Ira.
    Saya pengen bener ke Natuna. Walaupun jaraknya berhampiran Kuching, Sarawak, Borneo tetapi tiada pesawat yang bisa membawa kami terus ke sana.

    Mohon dikongsi foto2nya ya!

    Selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *