Uncategorized

NATUNA DALAM FRAME

Saya menulis catatan terakhir saya di hari terakhir di Kab Natuna. 
Sebelumnya saya ingin menyembunyikan diri alasan saya berkunjung ke
“Laut Sakti Rantau bertuah”  ini. Sederhana saja, saya hanya jaga
perasaan orang lain, tapi akhirnya saya berpikir kenapa saya harus
memikirkan mereka yang tidak mikirkan perasan saya?  Bukankah ini hak
saya untuk “bergerak” kemana saja? Ah sudah lah ….
Saya
berkunjung ke Natuna atas undangan Pak Long untuk “membantu” 
“beres-beres” di  Pradana  FM. “Membantu”? “Beres-beres”? Mengapa harus
menggunakan  tanda kutip? Karena meman tidak ada kata yang tepat untuk
menjelaskannya.  Selain itu kunjungan utama saya  ke Natuna adalah
mewujudkan mimpi kecil yang telah saya tulis di akhir tahun kemarin.
Berkeliling Kepulauan Riau, paling tidak saya menginjak tanah Natuna
sebagai gerbang paling utara Negara Indonesia.  Selain misi “melarikan
diri”. Hah? Melarikan diri?  Saya tersenyum saat saya menulis “misi
melarikan diri”. Mungkin lebih tepatnya menenangkan diri.
10
hari saya disini. Sebuah waktu yang cukup lama dibandingkan kunjungan
saya ke daerah-daerah lain yang hanya memakan waktu tidak lebih dari 4
hari. Jujur… saya nyaman disini. Saya tenang disini. Bukan hanya alamnya
yang benar-benar membuat saya terkagum-kagum. Tapi sebuah “keluarga”
yang menampung saya di sini. Iya….. mereka adalah orang-orang asing bagi
saya. Walaupun sudah kenal itu pun hanya sekedar  beberapa jam dan
melanjutkan komunikasi via FB dan BBM. Ah.. terkadang saya berpikir
apakah saya pantas untuk menerima undangan kunjungan ke Natuna? Padahal
saya bukan siapa-siapa. Saya hanya perempuan “galau” yang suka nenteng
kamera dan juga ransel untuk mengelilingin tempat-tempat baru bagi
saya.  Jika alasan ilmu? Saya akan menepuk jidat karena saya tidak
berilmu.

“Kak… apa yang membuat kakak beah disini”, tanya
Darius tadi malam. Saya mengangkat bahu, “entahlah  …. Mungkin alamnya?
Suasananya. Aku nggk tau alasannya”
“Pasti alasannya karena disini kekeluargannya sangat kuat. Iya kan Kak?”
Saya hanya tertawa menanggapinya. Walaupun hati kecil saya mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Darius.
Iya
benar, saya menemukan sebuah keluarga disini. Walaupun dalam darah yang
mengalir tidak sama. Pak Long, ibu, Farhan, Najwa, Nazia. Sebuah
keluarga yang mampu melelehkan “keangkuhan” saya yang keras kepala. Pak
Long sebagai kepala rumah tangga yang sangat mencintai keluarganya.
Disiplin, wibawa dan sosok yang patut dan layak saya hormati. Ibu yang
sabar, suka menjelaskan masakan-masakan Melayu dan saya suka senyumnya
yang menenangkan hati . Abang Farhan dan Kakak Najwa yang sudah
menganggap saya sebagai kakak sendiri. Nazia, bayi kecil berusia 6 tahun
berambut keriting yang suka mengisap jempol kaki jika tidak menggunakan
kaos kaki serta Bu De yang baru datang dari Sukabumi satu hari sebelum
kedatangan saya.
Belum lagi keluarga lain di luar keluarga
inti yang tergabung di Radio. Agung, Ryan, Darius, Aris, Jupri, Tina,
Riska, Eko serta Istrinya Rossa. Belum lagi pacar-pacar mereka, Meyra
dan lain-lainnya.  Tidak ada jarak.  Jujur saya merasa kaku saat pertama
duduk di satu meja dengan Pak Long yang duduk di ujung meja dan
kursi-kursi lain juga dipenuhi oleh kami salah satunya adalah saya. 
Dada saya sesak. Saya tidak pernah menikmati saat-saat seperti ini. Saya
lupa kapan terakhir saya makan bersama keluarga besar saya di satu meja
dengan berbicara hal-hal ringan seperti bagaimana kabar sekolah anak,
tentang masakan, bahkan tentang pacar sekalipun. Iya… saya yang selalu
sendiri. Menikmati makan sendiri tiba-tiba saja harus bersama-sama dalam
keluarga besar. Ah… seandainya saya bisa setiap hari seperti ini.
Sebuah mimpi sangat sederhana, lebih sederhana di bandingkan mimpi saya
untuk menginjak tanah natuna. Tapi entah kenapa saya tidak pernah bisa
mewujudkan mimpi itu. Dan saya masih berharap.
Lalu
bagaimana yang lain….? Saya akan menuliskannya nanti dalam
catatan-catatan perjalanan  saya setiba saya di Batam. Intinya adalah
ada rasa berat saat saya hari ini harus meninggalkan Natuna.
Meninggalkan semuanya nya. Alam nya, orang-orang di dalamnya,
masyarakatnya, meninggalkan keluarga Pak Long, meninggalkan keluarga di
Radio Pradana, meninggalkan Bintang Kejora yang selalu saya lihat jelas
di pagi hari dari pinggir pantai.
“Pesawatnya pending”
“Tiketnya tak ade”
“Jangan lah kakak pulang”
“Nanti tak ramai lagi jika kakak pergi”
Saya
tertawa walaupun dalam hati saya ada ruang kosong secara tiba-tiba.
Apakah saya akan bisa kembali lagi kesini? Apakah saya bisa kembali lagi
mendapatkan ketenangan seperti di tempat ini.  Ketika saya kembali
mengenal Tuhan saya disini.

Kucoba ungkap tabir ini. Kisah antara kau dan aku. Terpisahkan oleh ruang dan waktu. Menyudutkan mu meninggalkan ku.
Ku merasa telah kehilangan… cintamu yang tlah lama hilang. Kau pergi karena salah ku yang tak pernanh menganggap kamu ada

Tiba-tiba
lagu mas Firman menjadi lagu backsound saat saya menulis catatan ini
selepas sahur terakhir saya di Pradana.  Saya mengusap air mata di ujung
pipi saya.  Saya ingin mereka mengantar saya ke Bandara tapi saya tidak
akan berharap banyak. Bukankah saat saya datang saya hanya seorang
diri?
Tiba-tiba ada ide gila terbersit di otak saya. Saya
akan kembali di pulau ini untuk mengabdi paling tidak minimal  6 bulan.
Saya akan kost di sebuah rumah panggung yang tepat berada diatas pantai.
Hei Natuna… saya janji saya akan kembali lagi ke sini!
***************
27 Juli 2012
Fuich….
saya mengalami kerinduan yang luar biasa pada Natuna. Buka puasa
pertama saya di Batam akhirnya jatuh pada hari ke 6 puasa. Di mana saya
membatalkan puasa? di dalam mobil di pinggir jalan. Dan makan malamnya
di sebuah warung soto ayam. Pikiran saya ada di Natuna. Pasti mereka
sibuk minum es kelapa atau air gula yang ada di meja. Ada ikan tonggkol
bakar. Ada mie goreng, nasi goreng. Ada Abang dan Kakak yang sibuk makan
ini dan makan itu. Ada Agung yang milih bubur pedas tanpa sea food. Ada
Darius yang selalu memberikan segelas air putih untuk saya tanpa banyak
bicara. Ada ryan yang memilih minum terus merokok. Kemudian kami sholat
magrib berjamaah, ngobrol lalu berangkat ke Masjid untuk tarawih.
Sepulang tarawih? kamu bebas untuk berbicara apa saja bahkan juga
karoekean sampai jam 2 dini hari dari adobe audition.  Saya berpikir…
apakah mereka merindukan saya?
“Kakak…. gimana buka puasa nya”
“Sahur apa kakak? disini sepi tanpa kakak”
 
Pesan BBM masuk. Saya terdiam. Saya juga sepi disini. Membaca sebuah status BBM. “Sahur Sepi Tanpa Cik Minah”
Saya
menghela nafas dan saya akhirnya akan menuliskannya semuanya dalam
sebuah Frame kenangan saya tentang Natuna. Sebuah surga yang
tersembunyi. Sebuah surga yang membuat saya tenang, damai dan nyaman.
Sebuah surga tentang kerinduan.
Tagged

1 thought on “NATUNA DALAM FRAME

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *