Catatan, Uncategorized

Namanya Syaiful

Saya berusaha ingat-ingat namanya. Ya. Syaiful. Saya lupa nama lengkapnya.

Usia saya belum genap 17 tahun, ketika kami bertemu di sebuah perkemahan Pramuka. Dia dua tingkat diatas saya. Kami baru saja penjelajahan di pantai yang saya ingat di wilayah Banyuwangi Utara dipertemuan pertama kali. Baju dia basah, dan dia memaksa mengantar saya pulang dengan mengendarai sepeda motor. Saat itu saya menutupi bajunya yang basah dengan kain panjang milik saya. “Biar nggak masuk angin,” cetus saya. Dia diam dan meneruskan perjalanan sampai ke rumah.
Melihat Syaiful yang basah kuyup, ibu sibuk menyuruhnya mandi dan mengganti baju. Ibu juga menyiapkan teh hangat untuk Syaiful. Selepas mandi, dia duduk diam sambil menyeruput teh di teras belakang.
“Ibumu berlebihan baiknya. Padahal baru sekali aku kesini,” katanya. Saya tertawa dan berkata ibu selalu seperti itu. “Jangan GR,” kataku sambil memberesi bajunya yang basah.
“Kamu bisa ambil bajumu besok kalau sudah kering. Habiskan tehmu,” celetuk ibu sambil masuk ke dalam rumah.
“Raa…,” Syaiful mencolek lengan saya. “Ibu mu baik. Seumur hidup baru sekali ini aku dibuatkan teh oleh ibu. Baru kali ini ada orang yang khawatir aku sakit karena bajuku basah,” katanya berbisik-bisik. Dia bertanya, bolehkah sering datang ke rumah Sukowidi. Saya mengangguk.
Sejak saat itu Syaiful rutin ke rumah walau tidak tiap malam. Ada atau tidak ada saya di rumah. Menempuh jarak sekitar 3 km dari rumahnya dengan jalan kaki. 
Pernah dia mengetuk rumah jam 11 malam. Dengan wajah pucat dan sayu. Saya khawatir dan ibu menyuruh Syaiful menginap di Sukowidi malam itu. Kami berbicara banyak hingga dini hari. “Seandainya aku boleh tinggal disini Raa. Aku pasti lebih bahagia,” katanya. Ibu melarang jika untuk tinggal. Syaiful harus pulang ke rumah karena dia punya keluarga.
Beberapa bulan kemudian dia lulus SMA. Saya orang pertama yang dia datangi dan ia bercerita akan bekerja ke luar kota. “Aku nggak mungkin kuliah Raa. Nggak ada biaya. Aku kerja. Dan malam bisa ngajar ngaji di sana.” Saya mengaminkan. Ibu mengingat kan jika ada tabungan, dia harus meneruskan sekolah. 
Kami banyak diam malam itu. “Kamu tunggu aku ya Raa. Nanti jika pulang aku pasti pulang ke sini. Ke Sukowidi. Ke kamu dan ibu,” katanya.
Saya bertanya kapan dia akan berangkat. “Besok,” katanya pelan. Saat jelang jam 11 malam dia pamitan. Ibu sudah tidur. Berkali kali dia berkata bahwa saya harus menunggunya pulang. Saya mengantarnya hingga sampai pertigaan jalan. Saat dia hilang dari pandangan ada yang kosong di hati saya.
Hampir satu bulan Syaiful pergi bekerja keluar kota. Hanya sekali dia menelpon ke rumah dan bercerita bahwa dia sudah bekerja dan malam mengajar ngaji di Mushola. Hingga suatu hari saat pulang sekolah, ibu berkata ada kejutan untuk saya dan menyuruh ke ruang tamu. Saya berlari dan berteriak kegirangan. Syaiful pulang. Bajunya kemeja merah bata. Celananya kain berwarna coklat khaki. Dia terlihat lebih dewasa. “Aku naik bus dan turun depan rumah Raa. Aku kangen kamu,” katanya pelan.
Syaiful masih saja pendiam. Bahasanya masih santun. Syaiful yang masih tetap menganggap saya bocah yang selalu dijajanin bakso. Malam itu, Syaiful untuk pertama kalinya ijin ke ibu untuk mengajak saya keluar jalan jalan. Kami naik becak malam itu.
Dia banyak bercerita dan saya banyak diam. Saat itu saya pikir, dunia pekerjaan membuat orang terlihat dewasa. Saya yang merasa kaku dan tidak lagi bisa menggelayut di lengannya seperti saat masih sekolah. Kami seakan berjarak.
Saya bertanya kapan dia kembali keluar kota. “Besok siang. Malam ini aku pulang dulu. Besok pagi pagi aku pinjem motor buat ngantar kamu sekolah ya Raa.” Saya mengangguk.
Pagi itu Syaiful terlihat berbeda. Dia mengantar saya berangkat sekolah. Sesekali bertanya apakah saya baik baik saja. Tepat di depan gerbang sekolah dia kembali berkata bahwa saya harus menunggu dia pulang lagi. Tiba tiba dia memegang tangan saya. “Aku pulang Raa. Tapi seminggu lagi aku aku pulang,” katanya.
Tiga hari selepas itu, telpon rumah berbunyi dan bertanya apakah benar rumah Iraa. Ibu memanggil saya. Suara dari telpon mengatakan jika Syaiful kecelakaan dan koma. Nomer telpon saya ada disalah satu notes yang dibawa. Saya menangis, ibu meminta saya tenang dan berjanji besok akan mengantar saya ke Situbondo mengantar saya menjenguk Syaiful. 
Semalaman saya berdoa. Kawan kawan banyak berkabar dan berkata Syaiful mencari saya. Saya hanya menangis hingga ketiduran di kamar depan. Tiba tiba saya terbangun dan berkata kepada ibu jika Syaiful baru saja datang. Dia mengusap kepala saya dengan pelan. “Bu Syaiful pulang,” saya terus terusan saja menangis. Ibu memeluk dan menyuruh segera tidur agar besok bisa bangun pagi pagi sekali.
Jam 6 pagi suara telpon membangunkan saya. Ibu yang mengangkatnya. Saya bergegas mandi. Hari itu akan ke Situbondo menjenguk Syaiful. Selepas mandi saya mengenal baju hitam sambil bernyanyi nyanyi kecil. 
Ibu diam sambil duduk di meja makan. Dia menyuruh saya mendekat dan mengatakan tidak perlu pergi ke Situbondo hari ini. “ibu akan mengantar kamu ke rumah Syaiful. Dia sudah pulang nduk,” kata ibu 
Saya mengiyakan dan kami naik becak langganan menuju rumah Syaiful. Rumahnya ramai. Banyak orang bertamu. Saya berpikir banyak sekali yang menyambut kepulangan Syaiful. 
Tiba tiba badan saya bergetar hebat dan menatap lekat ke mata ibu ketika sampai di ruang tamu. “Bu. Syaiful ?,” tanya saya keheranan. “Syaiful sudah pulang Raa. Sudah pulang ke surga,” ibu memegang lengan kanan saya. 
Ini kematian kedua setelah bapak. Saya diam. Berhenti menangis. Tiba tiba saya lupa memiliki air mata.
Saya mendekati jenasah Syaiful dan mengatakan jika saya masih akan tetap menunggu dia pulang. Saya mengelus peti matinya. Ada kehilangan yang luar biasa. Ibu membiarkan saya berbicara banyak dengan Syaiful. Dia lebih memilih berjarak dan bergabung dengan keluarga Syaiful yang ternyata sangat kenal baik dengan keluarga besar kami.
Iya saya dan Syaiful yang tidak pernah menyadari jika kami berkerabat. Kami yang hidup dalam dunia kami sendiri.
Saya meminta ibu untuk segera pulang tanpa mengikuti proses pemakaman. Dan sejak itu setiap Jumat saya selalu ke makamnya.
Sendiri. Merayakan kesedihan untuk pertama kali dan berulang ulang. Hingga suatu malam Syaiful datang dalam mimpi saya dan meminta saya untuk tertawa. “Aku sudah pulang Raa. Jangan sedih lagi.” Dia terlihat bahagia.
Dan malam ini tiba tiba saya rindu dia. Menyadari jika dia cinta pertama saya. Cinta pertama yang tidak pernah terceritakan dan menjadi rahasia.
Saya ingin mengabadikannya. Syaiful yang berkulit putih dan bertumit merah muda. Wajahnya kemerahan jika terlalu lama di bawah sinar matahari. Tumit merah mudanya yang terlihat secara tidak sengaja saat dia berwudhu. Memiliki rambut rapi berwarna hitam. Berbicara dengan pelan semacam bisikan. Pilihan bahasanya santun dan kadang membosankan. Dia suka sekali menggunakan kaos berwarna putih dan jika berjalan sedikit membungkuk dan menundukkan kepala. Pendiam dan berbadan ringkih.
Jika kamu masih ada mas. Mungkin kita akan banyak bercerita (lagi). Tidak ada lagi sepi semacam ini.
Benar mas. Jarak terjauh bukan kematian, tapi terlupakan 
Alfatihah

Banyuwangi, 8 November 2017

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *