Catatan

Nama Iraa. Cita-cita jadi wakil bupati

Buat kawan kawan lama saya yang baca pasti akan ngakak baca judul catatan ini. Serius. Sejak tahun 2013, saya punya cita-cita jadi Bupati. Bahkan cita-cita itu sempat saya tulis di tiap-tiap papan impian dan pernah juga ada di bio media sosial saya. Konyolnya lagi pernah ada gerakan secara masif dengan hastag #iraforP1.

Serius Raa. Iya serius sekali. Bahkan sepupu saya Zizi di Batam sudah tahu cita cita saya jadi Bupati sejak dia masih kecil kelas 3 SD dan sekarang? Dia sudah SMA dan saat pulang ke Banyuwangi selalu bilang, “Ya Allah Tante iraa kapan kamu jadi bupatinya,” katanya sambil geleng-geleng kepala sok dewasa

Hingga suatu hari Firman, anak rumah baca yang baru masuk di kelas 1 SD cerita jika dia sudah nggak pingin lagi jadi dokter, dan mau ganti cita-cita jadi pemain bola.

“Lo kok ganti jadi pemain bola. Kenapa nggak dokter aja”
“Bosan lah cita-cita masak dokter semua. Guru semua. Aku mau beda. Jadi pemain sepak bola”

Jawaban dibalas dengan sorakan huuuuu dari teman-temannya. Firman tetep lempeng saja. “Pokoknya seminggu sekali aku harus ganti cita-cita”. Saat itu saya menengahi sebelum ada perdebatan diantara anak anak SD karena gonta ganti cita cita dianggap nggak konsisten dan saya berkata apapun cita citanya yang penting bermanfaat buat masyarakat sekitar.

Maka sejak mendengar obrolan dari Firman, sejak saat itu saya bulat memutuskan cita cita saya yang baru. Jadi Wakil Bupati!!!

Alasannya? Kata cak San, jadi wakil bupati ini enak. Posisinya hampir sama, tunjangannya hampir sama, pelayanannya juga hampir sama tapi tanggungjawab nya nggak berat berat amat.

“Nek dalan rusak Raa nggak kiro nyalahno wakil bupatine. Pasti nyalahno bupatine. Nek ono opo opo yo seng digoleki wakile. Wes tak enakan dadi wakil bupati,” kata Cak San ngompori saya. Kalau ada yang tanya cak San siapa ya baca aja komentar komentarnya nanti. Pasti dia akan muncul. Dia semacam Jailangkung yang datang nggak diundang, pergi juga nggak diantar. Tapi tiba tiba aja ikutan komentar.

Deal. Cita cita saya ganti yaitu jadi wakil bupati.

Programnya? Mengurangi jumlah jomblo di Banyuwangi dan mengentaskannya dari kekurangan kasih sayang.

Jadi siapapun nanti bupatinya, tetap wakilnya namanya Iraa. Soalnya kapan lagi punya wakil bupati yang dari jilbab sampai sepatu warna monokrom tapi kaos kakinya warna merah.

Yang dukung akan bilang, ah keren banget tabrak warna. Yang satunya lagi bilang noraak nggak ngerti mode.

Mbok ya kalo tanya bener bener ke saya pasti akan di jawab. Soalnya semua kaos kakinya dicuci yang ada yang tinggal itu aja jadi yang langsung aja tak pake.

Kadang orang pandai men-teori-kan sesuatu tapi lupa kewajibannya jadi manusia.

Selamat malam. Jangan lupa nafas.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *