Catatan, Nature, Traveling

Museum Geopark Batur; menulis gunung kau harus mencintai gunung

: catatan tentang Gunung Agung dan Gunung Batur

Bali, 6 Oktober 2017

Ketika Gunung Agung dinyatakan awas dan saya harus ke Bali, hal yang saya pastikan adalah saya harus mencintai gunung Agung. Mencintainya dengan mengenalnya lebih dekat

Mengubek ubek literatur tentang gunung hingga akhirnya membawa saya ke Batur Global Geopark yang sudah ditetapkan oleh Global Geopark Network UNESCO pada 20 September 2012 di Portugal. Batur Global Geopark berada di Bangli yang jaraknya puluhan kilometer dari Karangasem. Di museum ini banyak hal tentang gunungapi yang ada di Indonesia

Sebagian orang mungkin menilai berlebihan la wong cuma suruh backup berita gunung Agung. Tapi tidak bagi saya. Saya harus tahu. Titik. Hanya itu. Sesederhana itu. Mungkin juga agak keras kepala

Dan akhirnya saya tahu apa itu gunungapi, tentang 4 sumber erupsi, tentang struktur gunungapi, tentang kawah, kaldera, struktur rekahan, gempa tektonik, gempa dalam dan banyak lagi lainnya. Tentang pulau Bali yang dibentuk dari aktivitas gunungapi dibawah laut. (Semoga ada kesempatan untuk menulis nya dalam bagian tersendiri)

Maka akhirnya saya bisa menulisnya tanpa menggunakan emosi, trauma, ketakutan atau rasa tidak suka karena gunungapi berstatus awas dan ribuan orang harus mengungsi karena geliatnya

Gunungapi tetaplah gunungapi. Tinggal menunggu waktu saja namun yang terpenting adalah mitasi bencana agar tidak banyak korban jika erupsi terjadi. Banyak manfaat dari gunungapi yang kadang jarang kita sadari

Sesekali kosongkan diri. Lihatlah tanah. Pandanglah langit. Syukuri yang di beri Tuhan apapun itu.

Jika ada yang bertanya kapan terjadi erupsi? Manusia hanya menunggu. Tuhan yang tahu.

——

Museum Geopark Batur yang ada di Bangli Bali erat kaitannya dengan keberadaan 127 gunungapi aktif yang ada di Indonesia. Ratusan gunung tersebut terbentang luas dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Halmahera, hingga Sulawesi bagian utara dan membentuk busur gunungapi Indonesia. Batur Global Geopark ditetapkan menjadi jendela informasi gunung api yang ada di Indonesia oleh Global Geopark Network UNESCO, 20 September 2012 di Portugal.

Di Batur Global Geopark dijelaskan banyak hal. Mulai dari pembentukan gunungapi, material hasil letusan, tipe letusan dan bentuk gunungapi, sebaran, sejarah, dan manfaat gunungapi di Indonesia.

Saat Kompas.com berkunjung Ke Museum Geopark, Minggu (1/10/2017), banyak informasi menarik. Salah satunya mengenai proses pembentukan Pulau Bali yang memiliki dua gunung api yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung.  Pulau Bali terbentuk dari adanya kegiatan gunungapi di bawah laut lebih dari 23 juta tahun lalu di sebelah timur pulau Jawa. Di bawah kulit bumi terdapat magma yang sangat panas sehingga melelehkan kerak bumi di atasnya atau yang dikenal dengan hotspot. Lalu terjadi pengendapan di bawah laut yang diduga berasal dari erosi batuan yang terdapat di Pulau Jawa bagian timur. Sementara di bagian selatan mulai tumbuh subur terumbu karang. Pertumbuhannya terhenti dan menjadi batu gamping terumbu. Sebagian berlapis dan berada di bagian selatan Pulau Bali dan di Pulau Nusa Penida.

Ada 19 penjelasan tentang terbentuknya Pulau Bali yang berkaitan dengan gunungapi termasuk aktivitas gunungapi Buyan-Bratan dan Batur yang tidak berhenti. 30.000 tahun yang lalu, Gunung Buyan-Bratan meletus dan mengeluarkan ignimbrit dan lahar. Kegiatan Gunung api di Pulau Bali terus bergeser ke timur dengan aktifnya Gunung Batur Purba, Gunung Seraya. Letusan yang terjadi pada 30.000 dan 20.000 tahun yang lalu ini menyebabkan sisa tubuh Gunung Agung Purba runtuh.

Aktivitas gunungapi terus bergerak dan bergeser ke Gunung Agung yang menghasilkan endapan. Lava Gunung Agung menerobos bagian tenggara dan menjadi Gunung Pawon sebagai Gunung Parasit dari Gunung Agung. Kegiatan gunungapi terakhir yang menyusun Pulau Bali adalah Gunung Api Lesong. Aktivitas gunungapi tersebut yang membuat Pulau Bali mengalami pengangkatan karena berbagai material hasil erosi yang muncul di permukaan. Akibat proses erosi dan pengangkatan ini pulalah, daerah di Bali seperti Pecatu, Ungasan terhubung.

Lulut Prasojo (37), salah seorang pengunjung Museum Geopark Batur mengaku sengaja berkunjung untuk mengetahui informasi kegunungapian setelah banyak berita yang muncul tentang status gunung Agung yang awas. “Awalnya penasaran jadi saya ke sini sekalian biar tahu tentang gunungapi biar nggak khawatir berlebihan,” jelas laki-laki yang tinggal di Denpasar tersebut.

Museum Geopark Batur juga menyajikan informasi mengenai berbagai macam jenis lava basal dari Gunung Agung Desa Suter Kecamatan Kintamani atau endapan lahar bebatuan Gunungapi Agung. Menurut Ratna, penjaga museum, sejak status Gunung Agung ditetapkan awas, ada beberapa pengunjung yang menanyakan hal tersebut. “Di sini memang tentang Gunung Batur tapi tetap ada kaitannya dengan gunung Agung karena satu jalur,” jelasnya.

Museum Geopark pertama di Indonesia ini memang mengalami perjalanan panjang dari beberapa Menteri ESDM sebelumnya, hingga hari ini bisa diresmikan oleh Menteri ESDM Sudirman Said. “Gagasan dimulai dari Menteri Purnomo dari museum gunung api, kan Museum Geopark itu perkembangan dari museum gunung api. kemudian Pak Darwin dan Pak Jero Wacik. Saling menopanglah,” tutur Kepala Museum Geologi, Oman Abdurahman, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Museum Geopark Batur, Belajar Gunungapi yang Ada di Bali”, https://regional.kompas.com/read/2017/10/03/09180431/museum-geopark-batur-belajar-gunungapi-yang-ada-di-bali.

Belajar batu-batuan biar nggak jadi kepala batu
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *