Catatan, Traveling

Munjan – Anambas

“Kalau gatotkaca terbang dari sabang menuju merauke, mungkin dia tidak bisa sekali terbang. Dia butuh istirahat beberapa kali karena saking luasnya Indonesia ini”.
Kalimat itu ditulis teman saya di inbox ketika saya memberitahu lost sinyal selama beberapa di jam saat di Kepulauan Anambas
Kamis, 3 Desember 2015.
“Kang Ujang. Bagus banget pemandangannya,” kata saya kepada teman seperjalanan sambil menunjuk ke arah bawah lautan saat kami mengendarai motor dari tempat sandar speedboot kami saat menuju SMPN 3 Satu Atap Munjan yang berada di atas bukit.
“Cantik banget kang,” kata saya pelan dan saya yakin teman saya itu tidak mendengar jelas apa yang saya bicarakan karena fokus pada jalan yang menanjak.
Sampai di halaman sekolah saya berhenti sekian menit. Tahu apa yang saya bayangkan? para pejabat yang korup. Para kaum pesimis yang memaki maki jika pemerintahan ini tidak baik tapi tidak melakukan apa apa.
Bagi saya tidak ada lagi alasan untuk tidak mencintai negara ini. Hamparan luas lautan yang berada di wilayah Laut China Selatan. Dengan warna tosca dan biru laut nyaris tanpa batas dan saya yakin ada limpahan potensi perikanan di sana. Ada banyak sumber daya alam yang tersimpan yang menghasilkan banyak sekali pundi pundi uang. Minyak.
SMPN 3 Satu Atap Munjan berada di Pulau Memperuk, salah satu dari pulau kecil dari ratusan pulau yang ada di Kepulauan Anambas. Pulau ini memiliki luas sekitar 1000 hektar dengan ketinggian maksimal 270 mdpl dan menjadi salah satu pulau tertimur di Kabupaten Anambas. Seperti pulau pulau lainnya yang ada di wilayah Anambas dan Natuna, Pulau Memperuk memilik banyak batu batu besar dengan motif yang unik. 
Untuk menuju pulau ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Pulau Tarempa dengan menggunakan pompong. Dan akan lebih singkat jika menggunakan speedboot. Oh ya di sini tidak ada mobil dinas, karena kendaraan dinas berupa speedboot dengan berbagai ukuran.
Saat bertemu dengan anak anak SMP di sana saya bilang jika kalian punya tempat yang sangat keren. 
“Rumah kalian sangat indah dan kalian harus bersyukur bisa tinggal di sini. Nanti kalaupun harus sekolah dan keluar dari Anambas kalian harus balek lagi di sini. Karena Anambas butuh kalian untuk menggantikan guru guru kalian membangun Anambas”.
Kami bermain main sebentar. Melipat origami dan juga bermain “Tikus dan Kucing”. Ada lebih dari dua guru SM3T di sekolah satu atap Munjan. Seperti sekolah sebelumnya, Santi salah satu murid yang harus menyeberang menggunakan pompong saat berangkat sekolah bercerita ia ingin ke Jakarta.
“Tapi apa iya kami bisa sekolah tinggi Kak. Sedangkan kami saja untuk sekolah menyebarangi laut sana”
Saya mengajak mereka berdiri di halaman sekolah dan memandang ke lautan luas di bawah sana.
“Kalian tahu mengapa daging ikan laut tidak asin padahal dia tinggal di lautan yang rasanya asin? Kalian tahu mengapa ada air di dalam kelapa padahal tidak ada lubang untuk memasukkan air?. Heii… kalian punya Tuhan yang bisa merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sesuatu yang mungkin menjadi pasti”
Kami mengakhiri pertemuan hari itu dengan lagu “Dari Sabang sampai Merauke”
Turun bukit. Bukan pulang tapi melanjutkan perjalanan. “Kang Ujang keren yaa tempat ini,” saya mengatakan hal tersebut berulang ulang kepada teman perjalanan saya. Mungkin dia bosan karena saya mengucapkan kalimat yang sama berkali kali. Tapi tak mengapa. 
Saya hanya ingin meyakinkan bahwa Indonesia itu layak di cintai. Indonesia itu layak untuk dipertahankan. Indonesia itu keren dan kita harus mengambil peran sekecil apapun untuk melunasi janji kemerdekaan. Minimal menularkan untuk membangun mimpi bersama sama.
Baiklah. Masih banyak guru guru yang mengajar dengan hati dan tidak sibuk dengan “sertifikasi”. Semoga negera ini memberikan kesejahteraan tanpa memberikan beban ganda guru sebagai pengajar.
—————————–
“Kalau gatotkaca terbang dari sabang menuju merauke, mungkin dia tidak bisa sekali terbang. Dia butuh istirahat beberapa kali karena saking luasnya Indonesia ini”.
*foto ini saya ambil dari halaman SMPN 3 Satu Atap Munjan. Dan saya meyakinkan diri tidak ada alasan untuk tidak mencintai negeri ini. Saya juga mikir kok ya saya yang nggak bisa berenang ini berani mengarungi lautan seluas itu.
Oh ya konon katanya skenario hari ini adalah sidang Setyo Novanto tertututp dan langsung di putuskan tidak ada pelanggaran etik. Dan tiba tiba saya lupa siapa itu Setyo Novanto. Jika benar, maka saya berharap Gatotkaca terbang membawa Setyo dan meninggalkannya di puncak Jayawijaya. *Nggak nyambung ya
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *