Catatan, Life Style

Menulis

Sejak kecil saya memilih ingin menjadi penulis. Rasanya menyenangkan bisa menciptakan tokoh-tokoh baru. Saya yang tidak pernah peduli apakah penting kata profesional di belakang label penulis. Hanya menulis. Ketika masih kecil saya susah berbicara. Gagap dan takut bersuara.

Ibu mengajari berbicara perlahan di depan cermin dan memperhatikan gerak bibir sendiri. Menyuruh saya mencari nada saat berbicara semacam menyanyi. Atau ibu selalu bertanya apa saja sehingga saya terlatih berbicara walapun sering tergagap-gagap. Saya pun mampu berbicara baik didepan publik, tapi menulis bagi saya adalah pilihan terbaik.

Saya memahami, memilih menjadi penulis adalah memilih jalan sunyi. Tidak pernah saya bayangkan dunia yang riuh dan gegap gempita. Kehidupan tidak pernah teratur. Saya yang berusaha memahami saat tulisan saya dicopy paste beratus-ratus kali tanpa ada ijin dan pemberitahuan. Tidak apa apa asalkan pesannya tersampaikan menjadi alasan saya.

Toh dulu saya juga sering mengutip quote-quote kece yang saya pikir mewakili perasaan. Merombaknya lalu ditulis diblog atau ditempel di depan meja belajar saya. Tapi ini bukan pembenaran tanpa menyertakan sumber awal.

Saya yang berusaha menyadari bahwa ini adalah era digital yg semua bisa didapatkan dengan mudah. Ingin menambahkan caption keren di foto instagrammu?tinggal buka google ketik kata kunci yang diinginkan.Traala.. akan banyak tulisan indah yg bisa kamu comot dari sana.

Saya tahu menulis adalah jalan sunyi yang sudah saya pilih di era digital yang gegap gempita dan riuh. Semuanya berjalan bukan lagi dinamis tapi tdak lagi beraturan bahkan tdak terkontrol.

Saya tahu diam saja bukan jalan yang baik. Tapi saya jg meyakini, dgn marah meledak-ledak jg bukn memberikan solusi. Saya memilih menyelesaikan semuanya dgn diri sendiri. Berbicara dgn ego sendiri. Dan saya berhasil mengajak diri saya berbincang & berdamai dgn kenyataan.

Menulis catatan ini adlh bagian dr cara saya berdamai. Hingga saatnya tiba.

Percayalah. Menulis itu menyembuhkan.

“Burung di dalam sangkar mungkin bernyanyi tentang kebebasan, tetapi ia tetaplah dalam penjara. Thea menyanggupi hidup di dalam sangkar, lalu ingin melarikan diri, tetapi tidak ada yang menolongnya, karena tidak ada yang mengerti”. (Mata Hari – Paulo Coelho)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *