Catatan

Menjadi wartawan itu adalah pilihan!

Setahun yang lalu, hampir saja saya memutuskan untuk mundur menjadi jurnalis karena ditawari pekerjaan yang lebih bergengsi dengan gaji lumayan untuk di Banyuwangi. Hampir seminggu saya mempertimbangkannya, hingga akhir fix! Saya ambil pekerjaan ini.

Hari pertama saya datang dengan pakaian sangat rapi dan ber-make-up. Bayangan saya, alangkah menyenangkan kembali kerja di kantor. Di ruang AC. Kembali menjadi manajer dan jauh dari riuhnya pemberitaan. Sore saya akan pulang, makan siang pun tepat waktu. Berangkat juga sudah jelas jam berapa. Membeli celana kain dan blazer yang lucu lucu serta rapi.

Satu hari pertama bekerja saya berpikir, apakah ini pilihan nurani saya? Apakah pilihan saya ini bukan sekedar hanya keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan petualangan baru?

Hari kedua saya masih kembali berangkat kerja hingga kemudian saya memutuskan untuk tidak ingin menghabiskan 8 jam yang dikasih Tuhan hanya ada di dalam ruangan kantor. Ini bertentangan dengan jiwa saya. Tepat jam 4 sore, saya memutuskan untuk pamitan dan mundur. Memilih untuk tidaj menandatangani kontrak kerja. Kembali ke pilihan awal saya. Jadi wartawan.

Malam itu, saya mentraktir beberapa teman untuk merayakan mundurnya saya dari pekerjaan baru. “Edyan…,”kata teman saya berulang ulang.

Ada yang bertanya sampai kapan saya memutuskan menjadi wartawan. Ya sampai Tuhan menyuruhnya berhenti. Tapi itu bukan sekarang. Kamu cuma gini gini aja. Mana akan berkembang. Kamu seharusnya sudah melompat jauh.

Saya sudah pernah melompat bahkan kejauhan dan ketinggian. Sudah banyak yang saya lalui. Bahkan sempat juga jatuh.

Ini bukan masalah tentang kaya atau miskin. Tapi tentang seberapa manfaat saya jadi manusia. Jikapun berhenti menjadi jurnalis, saya tidak ingin berhenti untuk menulis.

Tentu saja, setelah punya rumah kayu yang mewah dengan banyak buku serta ruangan tidur dan dapur di bagian belakangnya. Itu cita cita dan pencapaian yang saya harapkan.

Oh ya ini foto saya dengan beberapa temen jurnalis perempuan. Mereka yang tetep memilih menjadikan mencari berita adalah pilihan hidup tentu dengan segala konfliknya.

Doa saya adalah jauhkan dari sifat meremehkan, menghakimi dan tinggi hati. Percayalah, sifat macan itu nggak akan buat kamu kece. Sejauh apapun perjalananmu, membumi itu yang terpenting.

“Maka menuliskan. Entah di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan di media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang orang mengejekku. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah” (Catatan Juang)

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *