Nature, Traveling, Uncategorized

Menjadi lumba lumba

“Ibu memaklumi saja sekaligus mengatakan bahwa Nuh dulu juga demikian, meninggalkan seorang perempuan dalam pelayarannya. Kenapa kelak para pelaut selalu meninggalkan perempuan mereka tiap kali berlayar? Kenapa Nuh tersesat karena tak niat mengingat, apalagi pulang menjemput, perempuannya. Sementara para pelayar sesudah Nuh kembali ke peluk perempuan mereka.”
Cerpen “Air Raya” karya Azhari
________________
Jika kamu bertanya aku ingin kemana maka jawabannya adalah ingin ke pantai. Duduk berjam jam di pasir. Menunggu senja dan matahari tenggelam pukul 17.13 wib
Lalu berendam di tepi pantai bermain main main dengan pasir dan ombak.
“Aku mau jadi lumba lumba agar bisa meluncur.ke istana neptunus”
.
.
“Kamu tidak bisa berenang,” kamu mengejekku
.
.
“Sama. Kamu juga tidak bisa berenang,” aku menjulurkan lidah
.
.
“Wajar. Aku kan nggak suka laut. Kamu itu yang aneh suka laut tapi nggak bisa berenang”
.
.
“Ini semacam mencintai yang tidak harus memiliki,” aku mengatakannya sambil berdiri semacam membaca deklamasi
Iya. Aku ingin pergi ke pantai. Semacam mimpiku semalam.Pergi ke pantai, bersenang senang dengan ombak dan pasir
Membaca tanda tanda alam. Mencari awan yang menyerupai tudung saji. Menunggu sekawanan burung hujan yang memotong dari timur menuju barat. Konon keesokan harinya hujan akan turun
“Aku rindu kamu. Itu jawaban jika kamu bertanya apa yang terjadi denganku hari ini”
Maka nanti jika sempat kamu antar aku ke pantai. Aku tau kamu bukan pelaut bahkan kamu takut dengan ombak yang setinggi sejengkal tangan. Kamu meringis dan pucat ketika perahu semacam oleng saat memecah ombak
Tapi aku ingin merayakan sebuah perpisahan. Iya perpisahan mu. Semacam Nuh yang berlayar meninggalkan perempuannya. Semacam pelaut yang tak pernah mengikutkan perempuan dalam perahunya
Iya. Terkadang kita perlu sadar hidup sebercanda ini
Banyuwangi, 18 November 2017
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *