Catatan, Life Style, Traveling

Menghidup-hidupi tradisi Saulak dari Mandar di Banyuwangi

Saat ini ada sekitar 500 kepala keluarga Suku Mandar yang menyebar di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan mayoritas tinggal di daerah pesisir. Mereka adalah keturunan Tuk Kapitan yang bermukim di wilayah kerajaan Blambangan yang meninggal pada tahun 1718. Tuk Kapitan adalah gelar yang diberikan Belanda. Nama asli Tuk Kapitan adalah Tuk Yasmin dan dia yang memimpin seluruh warga suku Mandar yang tinggal di wilayah Kerajaan Blambangan yang menjadi cikal bakal Kabupaten Banyuwangi.

Dan selama ratusan tahun, mereka keturunan dari Tuk Kapitan terus menghidup-hidupi tradisi mereka, salah satunya adalah Saulak

Lilik Dahlia disebut Passili – lah yang memimpin upacara adat Saulak di kalangan Suku Mandar di Banyuwangi. Posisi tersebut di wariskan secara turun temurun. Dia juga yang menata beberapa bunga diatas nampan yang diletakkan di atas lantai, serta menyiapkan beberapa “colok” yang terbuat dari bambu, dibalut dengan kemiri yang dihaluskan dan dicampur dengan minyak.

Nantinya saat Saulak dimulai, colok akan dibakar.

Lilik menjelaskan adat Saulak harus dilakukan kepada pasangan yang akan menikah yang salah satunya adalah keturunan suku Mandar. Sebelum Saulak dimulai, keluarga calon mempelai akan membuat lingkaran dan beberapa sesaji disiapkan antara lain bunga tiga rupa, “colok” yang telah dibakar, tumpukan baju serta tumpeng kecil dengan pisang yang diletakkan di nampan.

Sesaji tersebut termasuk beberapa jenis minyak yang digunakan harus dibuat oleh perempuan yang sudah menapouse. Kemudian calon pengantin perempuan yang bernama Putri Cempaka Akhir (27) dipanggil dan diminta tidur ditengah lingkaran keluarga dan kerabat yang hadir saat adat Saulak.

Putri Cempaka (27) sedang menjalani adat Saulak jelang pernikahannya(KOMPAS.COM/Ira Rachmawati)

Sebuah payung dibuka tepat diatas calon pengantin yang sudah tidur terlentang. Tidak ketinggalan sebuah tombak juga dipegang bersebelahan dengan payung. Lilik kemudian membaca doa-doa dan memegang telur yang dilumuri minyak yang kemudian dioleskan dibeberapa bagian tubuh Putri Cempaka seperti di dahi, belakang leher, tangan, perut dan kaki.

Setelah itu tumpukan kain dan baju diletakkan di atas wajah sang pengantin, lalu dipegang secara bergantian oleh kerabat yang hadir dan duduk melingkar sebanyak tiga kali putaran. Setelah tumpukan baju, hal yang sama juga dilakukan pada bunga tiga rupa serta colok yang sudah dibakar.

Terakhir adalah tumpeng kecil serta pisang yang kemudian diletakkan di atas perut pengantin perempuan setelah diputar tiga kali. Passili kemudian mencoba untuk mengangkat nampan namun terlihat kesulitan dan nampan yang berisi sesaji tetap menempel tepat diatas perut pengantin perempuan.

Ia kemudian meminta kepada ayah kandung calon pengantin perempuan untuk menarik nampan tersebut dari atas perut.

“Baca sholawat dulu. Tapi jangan diangkat, digeser saja. Semoga mau lepas,” kata Lilik.

Adat Saulak dilakukan kepada calon pengantin keturunan suku Mandar yang tinggal di Banyuwangi(KOMPAS.COM/Ira Rachmawati)

Dengan perlahan, ayah kandung calon pengantin perempuan berusaha melepas nampan dari atas perut anaknya namun gagal. Kemudian ibu kandung calon pengantin juga diminta untuk melakukan hal yang serupa. Raut wajah lega terlihat ketika nampan yang menempel diatas perut calon pengantin perempuan berhasil dilepas oleh ibu kandungnya.

“Alhamdulilah. Ternyatanya maunya sama ibunya. Untungnya nggak minta macam-macam,” kata Lilik sambil tersenyum.

Biasanya, kata Lilik, ada beberapa syarat yang diajukan agar nampan mau lepas dari atas perut seperti harus disediakan cincin atau benda-benda lain.

“Ketika saulak ada yang minta yang mengangkat nampan orang yang sedang lewat depan rumah. Padahal tidak saling kenal. Ada yang minta disediakan cincin,” katanya.

Selama adat Saulak, akan ada seorang laki-laki yang memutar bagian bawah dua gelas hingga mengeluarkan bunyi-bunyian khas. “Itu syarat agar upacara berjalan lancar,” katanya.

Setelah Saulak dilakukan pada calon pengantin perempuan, dilanjutkan pada calon pengantin pria dengan proses yang sama. Nampan yang menempel di perut calon pengantin pria yang bernama Achmad Fahrul digeser dengan mudah oleh ayah kandungnya yang hadir pada adat Saulak.

 

Selain Saulak, ada yang masih dijalankan oleh warga suku Mandar yang ada di Banyuwangi adalah melarung sesaji saat ada kejadian yang berkaitan dengan siklus kehidupan seperti kelahiran dan kematian

Saulak, beratus ratus tahun masih hidup di Banyuwangi

Rindu adalah doa doa terbaik yang tak di ucapkan, Nda. 

Rindu adalah ruang terbaik untuk menyendiri. Mempertanyakan tentang jarak yang harus kita tempuh untuk bertemu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *