Catatan, Kuliner

Menghidup-hidupi kenang di Pasar Jajanan Kemiren

Saat masih anak-anak, saya masih ingat Emak selalu mengajak saya belanja ke pasar kecil yang jaraknya hanya 200 meter dari rumah. Emak selalu membelikan jajanan semacam uceng-uceng, sawut, cenil dan teman-temannya. Untuk sarapan, emak yang belanja, saya mengantri nasi cawuk yang disebelahnya ada bu de jamu. “Kunir asem bu de,” saya selalu menyapanya semacam itu. Bu de jamu yang sampai hari ini masih jualan jamu.

Jika saya tidak ikut emak ke pasar, maka emak tetap akan membelikan saya jajananan yang sama dan meletakkan di atas meja. Sepulang sekolah rasanya nikmat sekali makan di plonco belakang sambil cerita sama emak tentang Pak Johar, tukang becak saya yang nggak mau berhenti untuk belikan es di dekat Patung Basuki Rahmat.

Dan hari itu, Jumat 26 Januari 2018 jam 6 pagi. Saya memilih milipir ke Desa Kemiren. Hari itu adalah awal dibukanya pasar Jajanan Tradisional. Motor saya parkir di dekat Kantor Desa Kemiren. Lalu masuk ke gang kecil disebelahnya. Orang sekitar menyebutnya Lorong Cilik. Saya menemukan banyak kenangan tentang emak disana.

Sayangnya saya sempat dilarang masuk, alasannya acara belum mulai. Tapi semua orang yang saya liat bawa bungkusan.  Menyelinap menjadi pilihan. Saya menyebut lorong cilik , “Ini surga dunia” bagi pecinta jajanan macam saya. Sungguh. Walaupun termasuk orang yang sulit untuk makan pagi hari, tapi pemandangan saat itu sangat menarik. Hampir semua jajanan tradisonal ada disana. Saya hanya lewat, melihat dan memotret. Masih belum niat untuk membeli. Nanti saja jika sudah melewati jalur itu karena walaupun belum dibuka tapi antrian dan antusias para pembeli luar biasa.

Ada gelali, cenil,lanun, klepon yang fresh karena dibuat di ditempat. Belum lagi ketan kirip, pisang goreng dan kawan-kawannya. Di pasar jajanan tersebut juga ada sosialisasi penggunaan bungkus yang ramah lingkungan seperti daun pisang.

Ada juga yang unik, pembelian dengan menggunakan uang kepeng, atau uang masa lalu. Tapi saya pikir tidak efektif, karena hanya ada 500 keping dan pembelinya luar biasa banyak. Penjualnya ada sekitar 20 an orang. Mereka ada lah ibu-ibu yang ada di desa Kemiren. Semuanya menggunakan pakaian khas yaitu kebaya hitam dan kain bawahan batik.

Hampir sampai di ujung gang, ketika saya baru sadar ternyata senam bersama baru saja selesai. Dan mereka masuk semua melalui ujung gang sebelah barat, bukan semacam saya yang masuk dari ujung gang sebelah timur. Alhasil…. gang sempit full dengan orang. Mengantri jajanan!!dan saya? alhasil kehabisan.

Tapi paling tidak hari itu saya menghidup-hidupi kembali kenangan jajanan pasar yang dulu saya nikmati sama emak. Ah kenangan itu memang menjebak.

Pasar Jajanan ini dibuka setiap akhir pekan pagi hari di Desa Kemiren Banyuwangi.

Ada beberapa tips yang ingin saya bagikan jika berkunjung ke sini

1. Jangan sarapan dari rumah

Karena percuma juga sarapan. Nanti kenyang malah nggak bisa icip-cicp banyak jajanan disini

2. Pakai baju yang nyaman.

Celanan training juga enak sih karena nggak ketat dibagian perut kalo makan banyak. Nggak usah pakai make up berat buat cewek cewek, Karena kita berburu kuliner bukan buat kondangan.

3. Bawa tas sendiri dari rumah

Karena konsepnya ramah lingkungan, nggak ada salahnya bawa tas sendiri untuk wadah siapa tau ingin bungkus dan dibawa pulang. Soalnya pas lagi jalan ada emak-emak marah karena mbak jualan ngak sediakan tas kresek.

4. Makan di tempat bisa numpag makan di teras rumah orang

Jangan lupa ijin dengan pemilik rumah kalau mau numpang makan. Pasti diijinkan tapi jangan lupa sampahnya dibersihkan.

5. Antri!!

Ini wajib. Jangan nyrobot antrian. Nggak usah pake teriak kalo pesan. Tipsnya adalah berdiri dekat sama mbak yang jualan. Ini efektif banget biar cepat dilayani tapi tetep harus antri.

6. Bawa uang receh

Kalau bisa bawa uang receh seperti seribuan, dua ribuan, atau 5 ribuan. Karena jajanan nya harganya murah semua. Ini juga mengantisipasi agar nggak lama buat beli. Bisa bayangkan beli jajan dua ribu, dan uangnya 100 ribu.

7. Jangan selfie di tengah jalan

Ini penting juga. Hormati para pengunjung. Mengapa ini saya tulis di sini karena pas lagi jalan.Pas banyak-banyaknya orang ada segerombolan anak anaka muda selfie pas di tengah jalan!! dan dibelakangnya ada banyak orang yang harus berhenti menunggu mereka selfie. *tepuk jidat. Usul saya sih, lebih baik foto mbak-mbak yang jualan atau motoin jajanannya. Kalau mau selfie, minggir sedikit dan kasih kesempatan orang lain agar tetap bisa jalan

8. Datanglah sendirian

Datang saja sendirian. Nggak asyik kalo rombongan karena satunya pingin ini, yang lain pingin itu. Malah jadinya nggak beli semuanya. Tapi kalaupun berbarengan harus dimanfaatkan . Menyebar ke tempat jualan untuk antri dan nanti jika ketemu makan bareng bareng. Jikalaupun salah satu tipsnya datang sendirian, ini hanya sebagai pembenaran untuk saya seorang,

Selamat berburu jajanan tradisional.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *