Uncategorized

Menghadiahi Juni

Aku selalu mengingatkan Juni sebentar lagi. Kau selalu mengiyakan. Bahkan ketika kepalamu rengkuh ke pelukku dan aku mencari rambut putihmu. 

.”Aku menunggu Juni bukan karena Sapardi. Tapi karena kita sudah berjanji akan memutuskan semuanya di bulan Juni,” kataku sambil terbatuk batuk. 

Kau mengurut dadaku dan berkata jika aku terlalu lelah. Aku menggeleng dan kembali mencari rambut putih di pelipismu.
Mencium keningmu dengan pelan dan mengatakan bahwa sebelumnya aku tidak pernah mempunyai cinta semacam ini.
Aku merasa kita akan benar berpisah walaupun aku berusaha mengingkari,” kataku kembali. Kau memejamkan mata dan memilih diam.
Aku kembali berkata kata sambil menelusuri sulur sulur rambutmu. Ada rambut putih pendek. Aku memekik perlahan kesenangan.
“Konon tidak ada yang lebih tabah dari hujan yang turun di Juni. Bayangkan, hujan bisa menyimpan rindunya pada pohon berbunga. Padahal mereka berjumpa. Kau tau bagaimana rasanya kau bertemu dengan orang yang kau cintai, kau rindui tapi kamu memilih diam saja. Tepat. Semacam hujan di bulan Juni. Sama,” kataku panjang lebar sambil mencuri wakti menyentuh pelipismu. 
“Kau terobsesi dengan hujan yang turun di bulan Juni,”cetusmu tanpa nada. Datar saja. Akupun memilih diam dan memeluk bahumu erat. “Aku mencintaimu semacam mencintai langit dan laut,“bisikku.
___________
Tiba tiba Juni. Jika ada ditakuti adalah bulan ini akan berlalu begitu saja. Semacam April. Ada banyak janji. Ada banyak umpatan. Ada banyak harapan. Ada banyak doa. 
Menghadiahi Juni dengan janji. .”Ada banyak hal yang bisa aku rengkuh tapi tidak dengan hatimu. Kau yang terus terusan berjanji untuk membawaku pergi dari tempat ini. Janjimu yang berakhir di bulan Juni”. 
____________
.”Menualah bersamaku. Ku mohon”. Kulihat matamu berkaca kaca

4 Juni 2017
Foto Iraa Rachmawati.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *