Catatan

Menggendong istri setiap pagi

Rabu, 12 April 2017

Saya mengetahui cerita tentang pasangan Mas Gik dan Mbak Yayuk warga Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, dari Mas Yunan seorang teman baik saya yang memiliki klinik di Desa Kemiren Banyuwangi. Mas Gik yang ramah dan mbak Yayuk yang baik, sama sama berjuang melawan tumor di tiroid serta sumsum tulang belakang yang diderita mbak Yayuk sebelum anak pertamanya lahir pada September 2014. 

Saat anak pertamanyanya berusia 7 bulan, dia sudah merasa kesulitan mengangkat kaki dan pada Desember 2016, Yayuk sama sekali tidak bisa berjalan. Saat meluruskan kaki atau menekuk kaki, dia mengaku kesakitan. Dia sempat operasi di Semarang tapi hanya tapi hanya tumor tiroidnya yang diangkat. Dokter tidak berani operasi yang tulang belakang perempuan asap Pati tersebut karena resikonya tinggi

Dia kemudian kembali pulang ke rumah suaminya di Banyuwangi dan menjalani rawat jalan di rumah sakit Banyuwangi. Namun tidak disangka, Yayuk hamil anak kedua.Dia bercerita sempat shock saat tahu dirinya hamil. Namun suaminya, Sugianto meyakinkannya agar meneruskan kehamilan dan berjanji akan merawat buah hati mereka dalam keadaan apapun.

Mereka berbahagia karena anak keduanya lahir pada 6 April lalu. Dengan kondisi Mbak Yayuk yang sakit, persalinan seharusnya dilakukan di Surabaya dan cesar. Tapi Gusti Allah punya rencana lain. Mbak Yayuk melahirkan normal di atas meja operasi jelang operasi. Istilahnya bayi spontan.

Mbak Yayuk  lumpuh karena tumor yang menyerang tiroid dan sumsum tulang belakang. Namun, setiap pagi Mas Gik selalu menggendong istrinya ke kamar mandi dan menyiapkan segala keperluan Mbak Yayuk.

Demikian juga saat mereka berangkat ke rumah sakit untuk berobat. Dengan penuh kasih sayang, Sugianto mendorong kursi roda istrinya melewati gang kecil depan rumahnya menuju jalan besar. Sesekali mereka menyapa tetangganya yang sedang di melintas di gang. Wajah Sugianto selalu terlihat tersenyum saatmendamping istrinya.

“Setiap ke rumah sakit kami harus panggil taksi. Kadang-kadang bu bidan yang bayari. Taksinya di jalan besar nunggunya kan enggak bisa masuk ke depan rumah,” kata Sugianto. Saat masuk ke dalam taksi, Yayuk merangkulkan kedua tangannya ke leher suaminya dan kemudian dibopong masuk ke dalam mobil.Terlihat wajah kesakitan Yayuk saat kakinya yang menegang harus ditekuk perlahan.

Sugianto bercerita, dia mengenal istrinya saat sama-sama bekerja di Bali. Isterinya menjaga toko tas dan dia sendiri bekerja di industri souvenir. Setelah menjalin kasih, mereka memutuskan menikah pada tahun 2013. Tidak seberapa lama Yayuk hamil anak pertama dan dokter juga memvonis istrinya menderita tumor tiroid dan tumor sumsum tulang belakang.

Sungguh. Dua kali bertemu Mas Gik wajahnya tidak pernah menunjukkan sedih. Saya melihat wajah penuh kasih dan cinta ketika berbicara tentang istrinya. Saya sempat ikut menemani saat Mbak Yayuk akan periksa ke rumah sakit. Dan suaminya menggendong sendiri istrinya dari kursi roda ke dalam taxi. Ada energi besar yang saya rasakan. Jujur saya nangis, terharu campur jadi satu.

 

Ini tentang pasangan yang membuka mata saya.

Setiap orang selalu berharap memiliki pasangan yang saling mengerti. diperhatikan dengan hal hal sederhana. Mencintai bukan hanya selalu tentang memberi. Karena jika merasa memberi maka ada tuntutan harus menerima. Jika tidak sejalan maka yang ada hanyalah saling menuntut. Saling menyalahkan dan mengatakan, “aku sudah lakukan semua untuk kamu masih saja menuntut banyak hal.”.

Saya tidak ahli untuk hal itu.Saya hanya bicara apa yang saya rasakan walaupun kadang itu menyakitkan bagian sebagian orang. Maka maafkan saya jika tidak pernah bisa menjadi pasangan yang baik. Bukan juga teman menua yang baik.

“Saya sangat mencintai istri saya dan akan merawatnya sampai sembuh. Menemani dia dalan keadaan apapun,” katanya. Mas Gik menyederhanakan cintanya.

Sehat untuk Mbak Yayuk dan Mas Giek serta keluarga

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *