Uncategorized

MENGALAH? APAKAH AKU BISA SELAMANYA?

“Ini buat adik…”
Suatu
saat ibuku memberikan kue kepadaku sepulang dari pengajian. Aku
suka….sekotak kue ada isinya sekitar 3 macam. Aku meletakkannya di
dekat TV. Kakak ku dan sepupuku datang. Dan saya dia berharap agar
mereka tidak meminta kue yang telah diberi ibu kepadaku. 
“Dik…kok
kuenya nggak di bagi”. Ibuku menegurku. Dengan terdiam aku mengambil
kotak kue ku dan membagi pada kakak dan dua adik sepupuku. Dan aku
langsung kembali menekur di hadapan bukuku. Menyembunyikan air mataku
dari ibuku, karena kue sudah habis dan aku sama sekali tidak
mendapatkannya. Padahal aku suka sekali kue itu. Ibu selalu
mengajarkanku untuk mengalah, tapi lupa bagaimana mengajarkan padaku
untuk ihklas.

Kejadian itu telah terjadi beberapa belas
tahun lalu. Dan aku mengalah. Ya…mengalah! tanpa mempunyai daya tawar
untuk mengatakan kecuali lewat tulisan-tulisan saya.
Pernah saat
aku masih di bangku kuliah, aku memlih mengendarai sepeda motor Jember –
Banyuwangi yang aku tempuh kurang lebih 3 jam. Seminggu sekali atau
bahkan bisa seminggu dua kali. Bukan perjalanan yang mudah apalagi jalan
berbukit. Sengaja aku memilih naik motor agar lebih cepat dan praktis
mengingat selain kuliah aku juga bekerja.Walaupun sudah berkali-kali
jatuh di tikungan gumitir. Ah….orang tua mana yang mengijinkan anak
gadisnya mengendarai motor bahkan lewat di atas jam 10 malam. Suatu saat
kakak laki-lakiku akan ke Jember. Dan ibuku berkata sambil setengah
berbisik kepadaku, “Dik…mending adik naik motor aja ke Jember. Jangan
mas ya….biar mas naik bus atau kereta. Ibu nggak tega liat mas nurul
naik motor ke Jember”.
Aku diam sejenak dan bertanya, “jadi ibu
lebih khawatir sama mas, yang laki-laki dari pada adik yang perempuan?
jadi selama ini perjalanan jauh jember banyuwnagi, hujan panas ibu nggak
khawatir sama adik”. Ada perasan “nyesek” di dadaku. Aku ingat saat itu
aku hanya diam karena tidak mau berdebat panjan dengan ibuku, ambil
kunci motor ransel dan helm ku dan berangkat ke Jember tanpa pamitan ke
ibu dan kakakku. Sepanjang 3 jam perjalanan aku hanya bisa menangis di
balik helm ku dengan kecepatan tinggi. 3 hari kemudian ibuku menyusul ke
Jember dia hanya berkata, “Maafkan ibu ya Dik….Ibu berkata seperti
itu karena ibu lebih percaya kamu. Dan kamu sudah terbiasa melewati
jalur gumitir dibandingkan mas mu. Ini cuma fakor kebiasaan saja. Nggak
ada ibu yang nggk khawatir liat anak gadisnya lewat gumitir aplagi hujan
dan tengah malam. Ibu juga khawatir sama kamu Raa. Kamu tetap anak
gadis ibu yang paling hebat”
Ibu memelukku dan aku membenamkan kepalaku di dadanya yang sudah menipis.
Ya……ibu selalu mengajarkan aku untuk mengalah dalam keegoisanku. Menekan semua perasanku untuk terus mengalah dan mengalah. 
“Mengalah
bukan berarti kalah Raa”. Ibuku membesarkan hatiku saat aku protes
kenapa harus aku yang dipaksa menyelesaikan karya tulis ilmiah, padahal
itu adalah kerja satu tim?. Dan saat di umumkan sebagai pemenang untuk
ingkat universitas, ibuku berbisik, “Lihat Raa….proses kemenangan itu
milik kamu. Bukan milik mereka”. “Tapi bukankah mereka juga dapat nama
Bu…..padahal itu hasil kerja adik!” aku protes! Ibuk tersenyum. “Tapi
mereka tidak mengalami proses yang kamu lewati saat membuat karya ilmiah
itu Raa”.
Yaaa…….sebuah proses yang aku lewati……hingga aku menjadi Ira yang sekarag.
Mengalah…..yang
aku harus mengalah. Mengalah untuk pindah ke Jakarta meninggalkan ibuku
dan mimmpiku serta tanah kelahiranku. Mengalah untuk menyelesaikan
masalah dalam keluarga besarku. Mengalah untuk melakukan perjalanan
panjang seorang diri. Mengalah….dan mengalah………!!!!!! saya ingin
protes saya ingin teriak. Tapi cuma hanya bisa diam dan
menulis…menulis..menulis……..
Dan kali ini saya juga harus mengalah. Menjadi selir hati? yaaa….selir hati tepatnya.
:
My Dear…..aku harus mengalah. ya….mengalah…..tanpa bisa menyentuh
hatimu. Menatap matamu. Atau hanya sekedar….ahhh entahlah. Rekaman
itu terus aku putar mungkin suha ratusna kali. Berjam-jam di dalam
ruangan ini. Paling tidak menenangkan keegoanku.  Keinginanku untuk
melebur rasa ini. Ya…….mengalah.
Sebuah konsekwensi. “Karena keaadan yang membuat kita seperti ini Raa”. 
Saya harus mengalah lagi? *nyesek*
“Terima
kasihku engkau telah jaga kepercayaanku, engkau telah jaga kesetian
yang pernah ku minta kepadamu dan engkau senantiasa sabar menghadapi
sikap dan sifatku. Aku yang belum mampu mengenalkanmu pada Allah dan dan
Rasulnya. Aku jarang sekalii menanyakan bagaimana keadaan imanmu hari
ini, sholat mu hari ini. Namun aku berharap kita selalu di beri
kebahagian oleh Allah SWT”
Seperti air yang mengalir
menenangkan dan juga menenggelamkan aku dalam kata-kata mengalah.
Mengalah? apakah aku bisa selamanya mengalah?
“Raa….mengalah bukan berarti kalah! proses mengalah akan membuat kamu menjadi perempuan yang lebih dewasa Raa”
Ah
bu…..ibu selalu mengajarkan aku mengalah tapi engkau lupa mengajarkan
bagaimana aku bisa ikhlas saat aku mengalah. Ajarkan padaku Bu! untuk
mengalah dan ikhlas untuk berbagi……karena aku sangat mencintai dia
bu! lelaki terbaik dalam hidupku saat ini! 
Batam, 2 September 2011

Tagged

1 thought on “MENGALAH? APAKAH AKU BISA SELAMANYA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *