Catatan, Traveling

Mencari Rohana Kudus

Namanya Rohana Kudus. Dia adalah jurnalis perempuan pertama yang di miliki Indonesia.

 

Saya merayu sahabat saya agar mau menemani untuk mencari rumah Rohana Kudus. “Kemarin sempat lewat tapi naik angkot. Sekarang kita jalan kaki aja”.

Dia mengangguk dan kami memutuskan jalan kaki dari Bukittinggi menuju Koto Gadang yang masuk wilayah Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Kami lebih tepatnya saya yang memilih jalur melalui Lubang Jepang yang tembus di Ngarai Siaonok lalu melwati jembatan gantung dan menaiki ratusan anak tangga sebagai jalan tembus menuju Koto Gadang.
“Percayalah. Tempatnya indah,” rayu saya. Paling tidak jika tersesat saya tidak sendirian. Itu saja. Kami terus berjalan kaki saja dan lari saat hujan turun.
“Di sana itu rumah Amai Setia punya nya Rohana Kudus,” teriak saya. “Jangan bohong Raa. Ini hujan dan kita jalan sudah sangat lama”. Saya hanya tertawa saja. Saya yang selalu percaya dengan ilmu perkiraan.
Rumahnya berbentuk panggung khas Belanda terletak di jalan utama Koto Gadang. Iyaa hampir semua bangunan di tempat ini masih terjaga keasliannya karena masuk wilayah cagar budaya. Rumah khas kolonial Belanda.
“Kita masuk”. Saya berjingkat kesenangan. Kemarin saya hanya melewatinya karena harus pulang ke hotel dan akhirnya hari ini saya bisa masuk kedalamnya. Istimewa.
Rohana Kudus adalah seorang perempuan kelahiran Koto Gadang 20 Desember 1884. Ayahnya Mohamad Rasjad Maharadja Soetan adalah seorang jurnalis sehingga dia bisa mempunyai akses belajar secara otodidak.Ia juga saudara tiri dengan Sutan Syahrir perdana menteri Indonesia yang pertama. Ia juga bibi dari penulis puisi Binatang Jalang, Chairil Anwar.
Ia banyak belajar kepada tetangganya perempuan perempuan Belanda untuk menyulam, menjahit dan merenda serta membaca dan menulis dalam bahasa Belanda.
Ketika menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus seorang notaris ia kembali ke kampung dan mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911. Ia menganggap perempuan tersisihkan oleh pendidikan kontruksi budaya dan stigma yang menyatakan perempuan hanya orang rumahan, orang dapur dan orang kasur. Rohana Kudus mendobrak stigma itu.
Sekolah Kerajinan Amai Setia berkembang menjadi institusi pendidikan dan tempat pemberdayaan ekonomi perempuan. Ia juga membeli barang barang kerajinan kaumnya untuk dijual ke eropa berupa kerajinan sulaman dan juga kerajinan perak.
Rohana muda berpikir salah satu melawan ketidakadilan adalah dengan menulis sehingga ia mendirikan surat kabar perempuan pertama di Indonesia pada tanggal 10 Juli 1912 bernama Sunting Melayu. Surat kabar yang diurus oleh perempuan, penulis perempuan dan jurnalis perempuan.
Rohana yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal namun ia tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik, sastra, dan teknik menulis jurnalistik. Ia berhasil mengubah paradigma pandangan masyarakat Koto Gadang yang menuding bahwa perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah.
Rohana Kudus pernah merantau ke Medan. Ia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerk. Di Padang ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa Melayu dan surat kabar Cahaya Sumtra.
Ketika berdiri di depan lukisan Rohan Kudus, saya sempat meraba bagian pipinya. Saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu ketika masyarakat sibuk menghujat Mentri Susi hanya karena ia lulusan SMP dan menjadi mentri. Dan di sini ? saya menemukan perempuan hebat yang tidak mendapatkan embel-embel pendidikan formal tapi dia berbuat untuk Indonesia.
“Dia pasti dulu sangat cantik,” kataku sambil meraba wajah di poto tersebut. “Bukan hanya sekedar cantik Raa. Tapi dia pintar”
“Aku pingin seperti dia. Jadi perempuan hebat. Jadi jurnalis perempuan yang juga hebat. Seperti dia”
Sahabat saya tertawa saja.
Maka kami pun pulang dengan semua kenangan. Kembali otak saya protes kenapa hanya RA Kartni yang dikenalkan pada buku sejarah? bukankah masih banyak pejuang perempuan semacam Rohana Kudus yang lebih hebat?
“Kartini sebagai pahlawan adalah bentukan dari Belanda Raa”
Coba jika Rohana Kudus dikenalkan dalam buku sejarah, mungkin saat ini tidak ada namanya kekurangan jurnalis perempuan. Keluh saya.
Maka saya yakin bahwa mereka yang seusia saya tidak mengenal dia. Guru-guru di sekolah juga akan menanyakan hal yang sama. “Siapa Raa Rohana Kudus?”.
Kami melangkah pulang. Gunung Marapai dan Gunung Singgalang tetap saja berdiri angkuh seakan berkata, “Hei tahukah kamu bahwa dibawah kakiku banyak orang-orang hebat yang lahir untuk Indonesia lalu dilupakan begitu saja”.
Kami melangkah pulang. Saya ingin berkata kepada sahabat saya, “Indonesia bukan hanya Jawa kan”. Tapi saya malas, berjalan saja menundukkan kepala.
Saya membaca kutipan catatan Rohana Kudus
“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya.
Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.
Emansipasi yang ditawarkan Rohana Kudus tidak menuntut persamaan hak antara perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada fungsi alamiah perempuan secara kodratnya. Perempuan sejati yang juga butuh ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Perempuan yang butuh pendidikan.
Rohana Kudus. Saya mau seperti kamu.
Bukit Tinggi. Senja dan hujan akhir November 2014
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *