Uncategorized

MEMPERTANYAKAN EMANSIPASI?

Aku selalu menunggu hari ini. Sejak awal April aku selalu berpikir apa yang harus aku tulis pada hari ini. Tepat 21 April. Ya….berpikir! karena selama ini aku dikenal sebagi seorang perempuan yang “sangat perempuan”. Atau mungkin bisa dikategorikan seorang Feminis? Entahlah…….yang pasti aku selalu miris jika melihat perempuan menjadi kaum kedua. Jika melihat perempuan dianggap sebelah mata. Dan dianggap sebagai makhluk yang tak pernah punya daya.

Dan selama 20 hari sejak awal April aku berpikir tentang catatan apa yang akan ku tulis hari ini. Tapi jawabannya adalah Nol. Masalah perempuan adalah masalah yang kompleks. Masalah perempuan adalah masalah yang majemuk. Dan sangat naïf jika aku aku hanya mencatat satu masalah perempuan untuk hari ini.
Atau menceritakan satu sisi tentang Kartini? Seorang gadis yang mempunyai sudut pandang domestikrumah, dipingit lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan dan mati. Atau menuliskan alasan-alasan seorang Kartini yang menjadi bagian dari kaum feodal dan tak pernah merasakan bagaimana hinanya menjadi perempuan yang “tidak perempuan”. Atau kemampuan Kartini untuk mengarang? Profesi satu-satunya yan menjadi kekuatan minimal yang di punyai Kartini. Kekuatan sastra yang sama sekali tidak mempunyai kebebasan dan kekuatan. Ah…biarlah Pramudya Anantar Toer yang tetap dalam catatan Kartini-nya.
“ Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peadaban rakyat kami”
— Kartini via Pramudya Ananta Toer
Jujur…..otakku benar-benat kosong tentang tema hari ini. Hingga ingat sebuah diskusi dengan seorang teman tentang emansipasi via chat Facebook. Dia mempertanyakan makna emansipasi padaku.
Yah….makna emansipasi yang sering di gembar-gemborkan oleh mereka pembela kaum perempuan dan aku menjadi bagian dari mereka.
Dulu….aku benar-benar bagian dari mereka yang ekstrim. Bahkan, aku sempat menolak dengan sistem pernikahan karena dalam pikiranku pernikahan hanyalah mengekang kebebasan seorang perempuan. Hingga aku menemukan sebuah tulisan yang di selipkan di sebuah bukuku. Ya…tulisan tangan yang hingga detik ini tak pernah aku ketahui siapa yang menuliskan dan menyelipkan di buku agendaku. 
“Raa…..sehebat apapun perempuan. Dia adalah istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya”
Huh!…..aku serasa di bangunkan dari tidur lelapku. Aku baru merasakan ternyata hidupku benar-benar kosong. Keluar masuk rumat tanpa ada tanggung jawab. Bahkan ibuku pernah lupa apakah anak gadisnya sudah pulang atau belum hingga ia mengkunci pintu rumah sebelum aku tidur dalam kamar. Pulang dalam keaadan lelah. Melihat tempat tidur yang kosong. Tak ada ucapan selamat datang. Lalu untuk apa yang aku lakukan selama ini. Nolllllll!!!
Fuich…..ya! aku benar-benat menyadari. Sebesar apapun…..sehebat apapun seorang perempuan. Mau di Presiden ataupun pembantu rumah tangga. Ia tetap menjadi istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya. Dan aku memegang teguh catatan kecil itu hingga sekarang.
Emasipasi….? Terserahlah mereka yang mengartikan! Tapi perempuan tetap harus kembali memegang kodratnya.
“Menjadi istri dari seorang suami dan menjadi ibu dari anak-anaknya”
Ah….semoga aku bisa belajar kembali pada kodrat keperempuananku. Selamat Hari Kartini Kawan!

15 thoughts on “MEMPERTANYAKAN EMANSIPASI?

  1. Dalam panggung dunia,

    semua laki-laki dan perempuan hanyalah pemain.

    Masing-masing keluar dan masuk, dan satu orang pada masanya memainkan banyak peran.

    -William Shakespeare-

  2. Menjadi istri dari seorang suami dan menjadi ibu dari anak-anaknya”

    Apakah istri lebih rendah daripada suami?
    Apakah ibu lebih rendah daripada bapak?

    Aku tidak berpikir begitu. Tapi jika ada yang bermaksud begitu, yah itu masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *