Buku, Catatan, Life Style

Memoar seorang geisha

Buku ini menceritakan tentang Chiyo seorang bocah perempuan yang lahir di desa nelayan miskin di Yoroido. Dia dijual oleh tetangganya yaitu Tuan tanaka dan kelak Chiyo menjadi Sayuri, geisha terkenal di distrik Gion yang memiliki mata abu-abu yang indah dengan didikan geisha senior bernama Mameha. Berlatar belakang tahun 1930-an ke atas, buku ini menarik menceritakan perasaan seorang perempuan yang ditakdirkan menjadi Geisha. Perempuan yang kehilangan ibu dan bapaknya, nelayan miskin, kakak perempuan yang melarikan diri dari rumah geisha dan meninggalkan Chiyo seorang diri agar bisa menikah dengan lelaki yang dicintai.
Tentang perjalanan Sayuri. Tentang intrik dan konflik yang muncul di dunia Geisha. Tentang mizuage, praktek tawar menawar keperawanan Geisha, tentang Danna, lelaki yang menjadikan Geisha sebagai simpanan dan membiayai semua keperluan Geisha. Tentang perempuan yang menyimpan cintanya bertahun tahun kepada Ketua, pemilik perusahaan listrik di Jepang. Cinta yang tidak bisa dikatakan langsung karena ia adalah seorang Geisha yang harus patuh dan tunduk pada aturan yang ada.
Saya yang tidak menyangka jika endingnya sangat manis dan menarik walaupun Sayuri, sang geishantidak pernah dinikahi oleh Ketua karena dia seorang geisha walaupun takdir membuktikan mereka berdua saling mencintai.
Akhir yang manis dan sedikit nelangsa ketika Sayuri memutuskan meninggalkan Jepang dan tinggal di New York mendirikan rumah minum teh kecil. Menyepi seorang diri.
“Aku tak bisa mengatakan kepadamu apa yang memandu kita dalam hidup ini; tetapi bagiku aku jatuh kepada ketua sama seperti batu yang jatuh ke tanah. Ketika bibirku luka dan aku bertemu Tuan Tanaka, ketika ibuku meninggal dan aku dengan kejam dijual, itu semua seperti aliran air yang jatuh di atas karang-karang tajam sebelum air itu bisa mencapai samudra. Bahkan sekarang, setelah ia pergi, aku masih memilikinya, dalam kenanganku yang indah. Aku telah menghidupkan kembali hidupku dengan menceritakan kepadamu.
….
Sebagai gadis muda aku percaya hidupku tak akan pernah menjadi perjuangan jika Tuan Tanaka tidak merenggutku dari rumah-mabukku. Tetapi sekarang aku tahu bahwa dunia kita sama tidak permananennya dengan ombak yang timbul di lautan. Apa pun perjuangan dan kemenangan kita, betapapun kita menderita karenanya segera saja semuanya akan merembes menyatu, seperti tinta tumpah ke kertas” (Sayuri – Memoar Seorang Geisha)
Hampir satu bulan menyelesaikan buku setebal 493 halaman ini. Indah betul kalimat-kalimatnya, walaupun tak seindah nasib para Geisha.
Mengakhirinya dengan menikmati Dars, coklat putih yang dibawakan Mbak Maya Subagio yang baru saja pulang belibur dari Jepang. Sudah sepekan lebih di dalam lemari es, coklatnya membeku. Keras tapi tetap manis. Melting dalam sekian menit dia suhu ruang
Semacam perasaan Geisha.
Tiba-tiba hidup begitu membosankan
“Semua orang punya takdirnya sendiri-sendiri. Tapi siapa yang perlu ke juru ramal untuk menanyakan takdirnya? apa aku harus pergi ke juru masak untuk mengetahui apakah aku lapar?”
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *