Catatan

Memaafkan

Titik puncak kekecewaan dan kemarahan saya adalah diam. Memilih menepi dan tidak perlu menjelaskan apa apa lagi, berulang ulang dan lagi serta lagi. Mereka kadang anggap saya pecundang tanpa bertanya bagaimana perasaan saya ketika memilih jalan sendiri
Yang saya tahu, hanya waktu yang bisa menjawab perihal merelakan dan memaafkan tanpa menggunakan “tapi”
.
.
Karena sahabat itu ada di hati, ada di doa. Bukan tentang sering bertemu dan berbicara
Saya selalu memberikan jarak agar cinta akan terus tumbuh diantara kita. Kita yang sangat dekat dengan doa
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *