Catatan, Traveling

Mei, Bapak dan Jayapura

17 Agustus 2018

Saya bertemu Mei dan ibunya di bandara Makassar saat turun dari pesawat Surabaya yang sama sama kami tumpangi kemarin. Mei bilang mereka akan lanjut ke Jayapura dan baru pertama kali naik pesawat. “Bingung mbak. Aku nggak ngerti,” kata Mei dengan polos.

Saya mengajak bareng untuk ngurus tiket transit sampai mengantarkan ke toilet. Sambil tertawa, ibu Mei bercerita susahnya menggunakan toilet kering.

Mas Ido, manejer Gramedia Jayapura teman seperjalanan saya, baik hati dan menawarkan Mei serta ibunya untuk semobil menuju Jayapura. Rencanya bapaknya Mei akan menjemput mereka di Sentani dengan menggunakan sepeda motor. Pasti kesulitan jika melihat banyaknya bawaan barang mereka. Kami kemudian ditraktir makan juga di tepi Danau Sentani oleh mas Ido.

Mei bercerita jika dia baru saja lulus dari SMK di Tanggul Jember. Lalu dia ibunya menyusul ayah kandungnya yang kerja sebagai tukang ojek di Jayapura sejak 5 tahun terakhir setelah PHK sebagai buruh pabrik di Surabaya. “Sempat jualan nasi goreng tapi nang ndeso sopo seng arep tuku mbak,” kata ibunya Mei.

Mei akan bekerja di Papua ibunya Mei akan pulang lebaran Idul fitri tahun depan. Namun mereka membawa kompor wajah dan peralatan masak saat ke Papua. Dua kardus besar. “Jualan makanan di sini mbak buat sangu pulang. Katanya disini mahal semua,” katanya. Mei juga memilih bekerja karena dia ingin mengumpulkan uang buat kuliah.

Mei tiba-tiba berbisik, “mbak es teh manis kok 20 ribu.” Saya menggodanya dan bilang hanya di Jember ada es teh seharga 1.500.

Kami mengantarkan Mei dan ibunya sampai di depan salah satu mall kecil satu jalur menuju Jayapura. Bapaknya menunggu di tepi jalan dengan sepeda motornya.

Mei menyalami saya dam Mas Ido dengan mata berkaca-kaca. Berkali kali dia mengucapkan terimakasih. Kami melanjutkan perjalanan, Mei dan ibunya bertemu dengan bapaknya.

Percayalah disetiap perjalanan selalu ada cerita yang layak untuk dibagikan.

Noted:

Setelah saya kembali ke Banyuwangi, Mei mengirimkan pesan bahwa dia sudah bekerja di salah satu kantin sekolah bersama ibunya. Selain jualan jajanan, ibunya juga menjual nasi goreng. Saya hanya berpesan jangan lupa untuk menabung agar bisa melanjutkan kuliah seperti cita-citanya.

Ah Mei. Hidup itu memang berat sayang.

Oh ya. Review tentang rumah makan ini klik sini ya

 

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *