Uncategorized

MBOK TEMU MISTI _ MAESTRO TARI (terlupakan) BANYUWANGI

 

FOTO DI RUANG TAMU RUMAH MBOK TEMU

“Banyuwangi kembali memperoleh kehormatan
berupa penghargaan dari PT Telkom Indonesia. Kali ini prestasi tersebut
diraih oleh Temu Misti, penari Gandrung kebanggaan Banyuwangi yang
dikenal dengan nama Gandrung Temu. Temu
Misti dianugerahi penghargaan Kartini Indi Women Award 2013 atas
kegetolannya melestarikan tarian khas yang dibawakan ketika menyambut
tamu itu. Selain itu perempuan kelahiran 20 April 1953 juga mahir
menyanyikan lagu Using dengan cengkoknya yang khas. Atas upayanya
tersebut, Temu menyabet penghargaan kategori seni budaya” (30 April
2013)”

Sepotong berita yang saya dapatkan dari sebuah laman
online resmi. Lalu iseng saya mengetik di “google” dengan kata kunci
Gandrung Temu Misti. Hampir semuanya berisikan tentang Mbok Temu sebagai
pelestari Gandrung asli Banyuwangi terutama untuk penghargaan terakhir
dia di Kartini Indi Women Awards 2013.

Lalu bagaimana kehidupan
dia saat ini? Dua hari ini saya banyak bersinggungan dengan perempuan
yang lahir pada 20 April 1953, satu hari sebelum Hari Kartini. Saya
yakin ibu nya Mbok Temu yaitu Supiah tidak merencanakan kelahiran
anaknya satu hari menjelang Hari Kartini. Tidak seperti saat ini, ketika
ibu hamil merencanakan kelahirannya sesuai moment agar terlihat keren.
Memilih kelahiran pada hari Sumpah Pemuda mungkin? atau pada saat 17-an?


Oke kembali ke Mbok Temu. Bersinggungan karena saya
mengantar mahasiswa pasca sarjana UGM yang akan menulis tentang biografi
tentang Gandrung Temu Misti. Dia banyak bercerita, tentang banyak hal.
Baik yang sudah saya tahu maupun yang tidak saya tahu. Tentang bagaiman
dia kehilangan ibunya pada tahun 2008. Tepatnya Ibu Bu De, karena Mbok
Temu sejak kecil tinggal bersama bu de-nya yang di panggil ibu.
Bagaimana tentang kegagalan dia berumah tangga. Beliau menikah pertama
kali usia 18 tahun dan suami berusia 20 tahun asal Desa Oleh sari pada
tahun 1972. Pernikahan mereka hanya bertahan 2 tahun lalu bercerai tanpa
anak. Lalu menikah kembali pada tahun 1977 dan kembali bercerai pada
tahun 1980 lalu menyandang status duda hingga saat ini tahun 2013.

Saya bisa merasakan sebuah tekanan berbeda dari suaranya saat
menceritakan suaminya yang kedua yaitu seorang duda dari desa Jelun.

“Apuo Rabi kadung di gawe kalah-kalahan. Di gawe antem-anteman. Ojo
maning nggandrung, metu byaen rodo suwi mulih hing dibukakno lawang”

Untuk bertahan hidup Mbok Temu membuka warung di depan rumahnya yang
sederhana pada tahun 1982 dan dia tutup di tahun 2006 karena
penghasilannya berkurang dengan banyaknya toko baru yang dibuka.
Sedangkan rumahnya sendiri ia bangun kembali pada tahun 1986.

Lalu bagaimana Mbok Temu saat ini?

“Sepi tanggapan wes Raa. Mosok mergo Mbok Temu wes tuwek. Gandrung hang enom-enom byaen yo sing payu”

Beliau sekarang memilih untuk mengisi suara, atau menyanyi istilahnya
nyinden kesenian lain yang mengundang dia seperti hadrah, kuntulan
ataupun orkes. Dia menari tanpa baju gandrungnya hanya agar bisa
bertahan hidup.

Saya melirik sebuah pigura di atas. Sebuah
pigura sampul Songs Before Dawn. Saat saya menyinggungnya. Mbok Temu
seperti biasa tertawa renyah.

PIGURA SAMPUL SONGS BEFORE DAWN
Tahun 1980, suara emas Temu
direkam Smithsonian Folkways, Amerika Serikat, milik Philip Yampolsky.
Dalam album Songs Before Dawn yang dirilis 1991, Temu menyanyi sebelas
lagu gandrung, antara lain, delimoan, Chandra dewi, dan seblang lokento.
Bertahun-tahun, rupanya Temu tak pernah tahu kalau album itu dijual di
sejumlah situs bisnis di Amerika dan Eropa. Di situs Amazone.com, CD
Songs Before Dawn dijual seharga 16,98 US Amerika. Temu tahu, kalau saat
itu suaranya direkam untuk kegiatan penelitian kebudayaan Indonesia. Ia
dibayar Rp 250 ribu, tanpa sebuah surat kontrak.
Temu baru
mengetahui sekitar tahun 2007 dari Farida Indriastuti, kontributor lepas
kantor berita Italia yang melakukan penelitian tentang
multikulturalisme. Konon kabarnya, album Temu itu mencetak penjualan
miliyaran rupiah. Namun penghargaan kepada Temu, tak lebih dari sebuah
figura berbingkai kayu coklat polos, berisi sampul album Songs Before
Dawn. Figura itu dipajang Temu di dinding rumahnya

Menilik
kembali penghargaan yang terakhir di berikan ke Mbok Temu. Ia
mengeluarkan piagam penghargaan Kartini Indi women Award dari lemari nya
di bagian atas. Deeg….. jantung saya serasa di godam. Piagam itu
kosong. Tidak ada nama Temu Misti di sana. Dan Mbok Temu tidak
mengetahui atau tidak menyadari? saya pun tidak mengungkitnya karena
takut membuatnya kecewa.

PIAGAM KOSONG

“Isun oleh picis Raa….. tapi akeh hang motong”

Mbok Temu bercerita uang yang ia terima dari penghargaan itu ia belikan
televisi yang agak besar, VCD dan sound system kecil. Agar ia bisa
memutar lagu-lagu Banyuwangi, untuk mengajari nari, agar anak angkatnya
yang saat ini kelas 6 SD di SLB tidak kesepian. Dan agar tetangganya
juga bisa berkumpul di rumahny. TV nya kecil dan sudah lama rusak.

“Kadung kursi sofa iki di tukokno ambi produser”. Ia menyebut nama salah satu produser di Banyuwangi.

Kalau boleh mengambil istilah sahabat saya Ika “Mbok Temu itu sebuah
paradoksal, di daerah yang menjadikan Gandrung sebagai ikon budaya,
namun nasib penari Gandrung sangat getir”

Jika pengambil
kebijakan tidak segera mengambil sebuah langkah konkrit, saya yakin
Gandrung nanti akan menjadi sebuah dongeng. Iyaa dongeng pengantar
tidur, karena mereka tidak pernah tahu bahwa seni Gandrung itu ada dan
nyata.

“Raa…. isun iklas lan nerimo. Kadung ono hang njuwut jatah isun nyang dunyo isun hing masalah. Kesuk nyang akhirat itungane”

Lalu Mbok Temu merapalkan sebuah mantra, “Hapal kan Raa” Saya tersenyum
bahagia. Mantra yang saya tunggu selama 10 tahun sudah masuk ke telinga
saya.

Menutup pertemuan dengan menceritakan kematian ibunya
di tahun 20008 dan Mbok Temu hanya memiliki uang 4000 ribu rupiah.
Fiuch……….. Ini cerita tentang Maestro Tari asal Banyuwangi

ki-ka : AYU – MBOK TEMU – SAYA
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *