Catatan

Mata ke-ranjang sayang, bukan mata keranjang

: Manusia tidak dapat berpikir kecuali dalam bahasa yang dikuasainya

Sabtu 10 Desember 2018

Ada pelatihan menyusun kamus yang diselenggarakan Sengker Kuwung Blambangan di aula UNTAG 10 Februari 2018. Saya sudah jauh-jauh hari mendaftar. Sebulan sebelumnya. Tanpa mendaftar bisa saja saya mengakses untuk bisa ikut kegiatan tersebut. Tadi tidak semacam itu yang saya inginkan. Saya ingin belajar. Jikapun dapat berita diacara itu hanyalah bonus yang berlipat ganda.

Saya suka Bahasa Indonesia, tapi saya sastra-nya, bukan lingusitik. Hal itu yang selalu saya tekankan saat masuk ke kampus Fakultas Sastra jurusan Satra Indonesia Unej awal tahun 2000-an lalu. Hal yang membuat saya merasa antipati dengan yang namanya Linguistik. Tapi tidak hari itu saat pelatihan penyusunan kamus. Rasanya aneh, saat saya kembali mendengar istilah morfolgi, fonologi dan teman-temannya. Karena saya lebih mengakrabkan diri dengan novel, cerpen, puisi walaupun saya juga tidak pandai betul teori sastranya.

Hari itu, Doktor Ganjar Harimansyah, Kepala bidang pelindungan pusat pengembangan dan pelindungan badan bahasa Jakarta yang menjadi pematerinya. Sejak awal beliau bicara saya suka dengan pilihan kata-kata yang digunakan. Sederhana dan tidak ribet. Kalaupun menggunakan istilah asing pun dilafalkan dengan lafal Bahasa Indonesia. Sederhana dan mengena. Saya garis bawahi, semakim berilmu semakin sederhana pilihan katanya.

Sejak awal berbicara dia menekankan bahwa butuh waktu untuk mempelajari bagaimana cara menyusun kamus. Dan hari itu hanya pengantar. Baiklah akan saya skip bagian ini karena sangat teoritis sekali.

Namun saya tertarik dengan penjelasan Doktor Ganjar tentang bahasa daerah. Saya mencatat, menurut Pak Ganjar, sebanyak 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia dinyatakan punah, sedangkan bahasa daerah yang dinyatakan kritis ada empat bahasa daerah dan yang mengalami kemunduran ada dua bahasa daerah.  Selain itu ada 16 bahasa yang stabil tapi terancam punah dan ada 19 bahasa yang masuk dalam kategori  aman.

Saya membuka laman badan bahasa. Disana banyak data yang sangat menyenangkan untuk dipelajari.  Disana saya kembali mencatat Bahasa yang punah tersebut berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes. Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahasa daerah Ibo dan Meher.

Hingga Oktober 2017 ada 652 bahasa yang telah diidentifikasi dan divalidasi dari 2.452 daerah pengamatan di wilayah Indonesia. Namun jika akumulasi persebaran bahasa daerah per provinsi, bahasa di Indonesia berjumlah 733 dan jumlahnya akan bertambah karena bahasa di Nusa Tengga Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum teridentifikasi.

Menurutnya ada beberapa penyebab kepunahan bahasa antara lain penyusutan jumlah penutur, perang, bencana alam yang besar, kawin campur antarsuku, sikap bahasa penutur dan letak gegrafis.  Dan saya adalah salah satu korbannya, yaitu kawin campur antarsuku karena ibu saya Using Jawa dan bapak Makasar sehingga bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia. Tapi beruntung, ibu selalu menekankan saya untuk mencintai hal-hal yang berkaitan dengan tradisi adat dan bahasa daerah. Unesco pada 2009 juga mencatat sekitar 2.500 bahasa di dunia termasuk lebih dari 100 bahasa daerah di Indonesia terncam punah. Sedangkan sebanyak 200 bahasa telah punah dalam 30 tahun terakhir dan 607 tidak aman. Setiap tahun beberapa bahasa daerah yang ada di Indonesia terancam punah atau mengalami penurunan status

Saat ini hanya satu daerah yang memiliki peraturan pemerintah yang mengatur tentang pelindungan bahasa daerah dan sastra Indonesia yaitu Provinsi Sumatra Utara. Satu-satunya di Indonesia. Padahal secara regulasi  perlindungan bahasa dan sastra daerah seharusnya adalah tugas pemerintah daerah setempat. Apa kabar Banyuwangi?

Bagi saya ilmu itu berkembang dan harus dilakukan secara akademisi. Saya selalu tidak nyaman dengan ilmu yang “asal gathuk”. Cocoklogi. Ada banyak ilmu bahasa yang berkembang luar biasa. Saya saja yang pernah duduk dibangku kuliah Satra Indonesia hanya geleng-geleng kepala.

“Setiap ilmu harus kita apresiasi. Nggak boleh egois. Dengan mengapresisasi maka kita akan mudah memahaminya. Termasuk juga belajar tentang bahasa,” kata pak Ganjar.

Saya semacam ditabok atau disiram air es pagi-pagi. Mengapresiasi setiap ilmu. Hal yang sulit sekali saya lakukan. Ketika saya bilang tidak suka dengan satu hal yang sudah saya tetap tidak akan suka. Saya egois  dengan menolak mengapresiasi. Semacam pada linguistik. Dan mungkin dengan banyak hal yang ada disekitar saya. Tentang  ilmu ekonomi yang selalu buat saya malas melihat neraca-neraca yang bagi say a semacam jurang dan sulit sekali memahaminya.

Noted!! Mulai detik ini harus mengapresiasi setiap ilmu yang ditemui.

Pak Ganjar kemudian bertanya, mengapa adalah istilah Mata Keranjang? Semua peserta menjawab karena keranjang banyak lobang dan semacam laki-laki yang suka lihat lawan jenis.

Beliau tertawa dan membuka KKBI daring dan mengetik “mata keranjang” yang artinya  sifat selalu merasa berahi apabila melihat lawan jenisnya; sangat suka pada perempuan.

“Seharusnya adalah mata ke ranjang. Ke dan ranjang di pisah, namun dalam kepenulisannya menjadi mata keranjang dengan ke dan ranjang disambung,” katanya.

Fix!! Saya harus terus belajar bahasa Indonesia.!!

 

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *