Uncategorized

MASJID AGUNG NATUNA : “TAJ MAHAL INDONESIA”

“Nanti kalau Natuna kamu harus mampir ke masjid nya Raa.
Kereeeennnnn tau”. Pesan seorang teman saat saya menceritakan akan ke Natuna.
Saya mengernyitkan dahi? Keren? Sekeren apa bangunan masjid
apa lagi di daerah perbatasan?
Saya ingat suatu hari saya pernah mengajak almarhum ibu saya
untuk pertama kalinya datang ke Masjid Istiqlal.  Dan saya tidak tahu apa alasan ibu saya
tiba-tiba menangis selepas sholat magrib di Masjid Istiqlal. Saat saya tanya
mengapa?  dia mengatakan dia merasa kecil
di dalam Masjid Istiqlal, apalagi di hadapan Tuhan?
Saya saat itu hanya berpikir bahwa ibu saya berlebihan. 
Dan saya mengalami hal sama yang di alami oleh ibu saya
waktu itu, saat saya melihat Masjid Agung Natuna. Euforia…….
Masjid Agung Natuna, “Taj Mahal Indonesia”
“ Ini Taj Mahal versi Indonesia”, kataku dalam hati. Mata
saya terbelalak melihatnya. Kalau seandainya pun saya melihat masjid ini di
dataran Jawa mungkin tidak akan seheboh ini. Tapi saya menemukan “Taj Mahal
Versi Indonesia” ini jauh dari pusat Ibu Kota Indonesia. Ratusan kilometer. Di
perbatasan. Bahkan lebih deket ke 
Thailand atau Malaysia dibandingkan ke Jakarta.  Di sebuah tempat yang mempunyai jaringan
internet lebih lambat dari pada jalan keong di padang pasir. 
Masjid Agung Natuna ini di bangun pada tahun 2007 dan
selesai pada tahun 2009.  Masji ini
sendiri sudah direncakan mulai tangal 13 Agustus 2006 pada masih di pegang oleh
Bupati Natuna Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. (namanya Pak Daeng sama seperti nama
depan bapak saya). Rencananya, Masjid Agung Natuna ini akan di jadikan Kompleks
Gerbang Utaraku, sebagai pusat pemerintahan dan bisnis di Ibu Kota Kabupaten
Natuna yaitu Ranai.  Dari sejarah
pembangunan,  peletakan batu pertama
masjid tersebut di lakukan pada tanggal 4 Mei 2007. 
Saya dari jarak 1,5 km dari pintu masuk

Dari cerita yang saya dapatkan,  bangunan yang saya lihat saat ni adalah ring
1 yang kelak akan dikembangkan menjadi 3 ring. Luar biasa………!! Nantinya akan di
bangun fasilitas lain sepertipembangunan masjid Laut, Pusat perekonomian,
terminal, pasar, STAI, gedung olahraga dll. 
Sedangkan dari pandangan mata, saya melihat ada beberapa bangunan yang
digunakan untuk kantor  SKPD dari
pemerintahan Kabupaten Natuna.  Ada
perpustakaan (saya tidak sempat masu kedalam). Serta ada asrama haji.  Dari data yang saya baca, kompleks gerbang
utaraku dengan Masjid Agung Natuna ini merupakan implementasi pembangunan 5
pilar yaitu Keimanan, Kesehatan, Pendidikan, Perekonomian dan hukum.
Di depan halaman di hari ke sekian
mendung di suatu sore
 
 Masjid Agung Natuna letaknya tidak jauh dari pusat kota
Ranai. Sebentar…. Sampai detik ini pun saya masih belum tau dimana pusat kota
Ranai? Pantai Kencana kah? Bukit Arai sebagai Kantor Kabupaten Natuna? Atau Bandara?
Entahlah… Intinya adalah tidak begitu jauh dari tempat saya menginap di dekat
Pantai Kencana.  Masjid Agung Natuna
berada di bawah kaki Gunung Ranai. Iya… berdiri megah dengan latar belakang
Gunung Ranai. (Seharusnya itu adalah bukit , tapi masyarakat menyebutnya
Gunung).  Saya melihatnya pertama dari
atas saat saya berada di pesawat. 
Sedangkan dari jalan utama menuju gerbang masjid sekitar 1,5 kilometer
dengan jalan di sebelah kiri kanan sedangkan ditengah-tengahnya adalah sebuah
kanal besar dengan batu-batu putih yang katanya adalah untuk mengalirkan air
dari gunug Ranai. Dari jauh seperti Taj Mahal, walaupun saya belum pernah
melihat wujud asli Taj Mahal.  Dari jauh
saja, di pintu masuk dengan jarak 1,5 meter, Masjid Agung Natuna sudah terlihat
indah dengan kubah hijau dan menara-menara di sekelilingnya.  Dan saya lebih suka melihat dari titik ini.
Titik pintu masuk ke dalam area masjid dan duduk manis di tengah batu putih
yang berada di tengah kanal air. Damai, tenang rasanya melihat rumah Tuhan yang
begitu megah berkolaborasi dengan Gunung Arai yang menjulang tinggi. Seperti
seorang ibu yang melindungi anaknya. Mulut saya tidak berhenti berdecak. Entahdalam
keadaan cuaca mendung, hujan atau pun terang. Pemandangannya bagi saya tetap
luar biasa. 
Masuk kedalam Masjid Agung Natuna tepat pada malam tarawih
yang pertama.  Iya dalam kegalauan saya
yang luar biasa. Ketika saya mengalami kelabilan atas ketidak percayaan saya
kepada Tuhan setelah proses hidup yang saya alami. Jujur, ini adalah
keterpaksaan. Hah…? Heran?  Tidak perlu
heran. Bukankah setiap orang mempunyai perjalanan religious yang berbeda-beda
termasuk saya. Tuhan telah mengirim saya pada sebuah komunitas baru yang tepat.
Komunitas yang kembali menarik saya ke pada jalur yang benar. Kembali ke jalan
Tuhan. Kembali ke Allah. Apalagi malam tarawih pertama ini adalah tahun pertama
saat saya kehilangan Aulia, anak saya dan tahun kesekian mungkin 20 tahun lebih
saya kehilangan seorang ayah. Mereka berdua sama-sama meninggal di malam
pertama tarawih.  Dan malam tarawih saya pertama
di tahun 2012 saya habiskan di dalam Masjid Agung Natuna dengan konflik batin
yang membuat dada saya sesak tanpa bisa mengungkapkannya. Jauh beratus-ratus
kilometer dari keluarga saya dan orang-orang tersayang saya.  Dan dalam Masjid Agung Natuna ini saya
menundukkan kepala sedalam-dalamnya dan menangis dalam hati, “ Ya Allah.. saya
telah kembali ke rumah – Mu”. Dan saya tidak lagi bisa berkata-kata. Ada sebuah
dialog tanpa kata dengan Tuhan di dalam Masjid ini. 
Pilar dalam penuh lengkungan
sisi sebagian
Tampak dari pintu masuk utama
Shaff perempuan dan lantai dua
Luar biasa
sisi dari bagian laki-laki
1 shaff 180 orang
 Kembali ke Masjid Agung Natuna.  Yang khas adalah kubah nya yang memang mirip
dengan kubah Taj Mahal di India, dan ternyata menjadi masjid terbesar dan
termegah di Provinsi Kepulauan Riau.  Satu
barisan shaf di dalam masjid ini cukup untuk memuat hingga 180 jemaah. Saya
sempat mendengarkan selentingan, jika  pembangunan
Masjid Agung Natuna di Kepulauan Riau dibiayai oleh APBD ini menghabiskan biaya
tidak kurang dari 400 Miliar dan kemegahannya jauh melebihi Masjid Kubah Emas
Dian Al Mahri di Depok. Sayangnya karena letaknya jauh diperbatasan, tidak
banyak media nasional yang mengekspos keindahan masjid ini. 
Lurus… dibawah Gunung Ranai
Sisi sebelah kanan
masih dari sisi sebelah kanan
Salah satu pilar…..
Masjid Agung Natuna juga dipenuhi dekoratif yang islami. Ruang
bagian dalam sangat luas. Untuk ruang sholat ada 2 lantai, sedangkan tempat
wudhu berada di bagian bawah masjid.  Jadi jika kita ingin berwudhu maka kita harus
menuruni tangga ke bagian bawah. Ah saya jadi ingat kakak Najwa yang selalu
menarik tangan saya dan menemani saya berwudhu di lantai bawah sambil bercerita
segala macam tentang sekolah dan kegiatannya. Kakak Najwa juga suka
mengumpulkan batu putih yang dihamparkan di sekitaran masjid terutama di bagian
bawah tempat wudhu.  Kakak Najwa…. Tante Iraa
kangen. Fuich….. sedangkan  Untuk tempat
wudhu laki-laki ada disebelah barat, sementara untuk tempat wudhu perempuan ada
disebelah timur.
Jadi saya tidak bisa mengatakan masjid ini berapa lantai.
Lantai utama sangat luas kemudian di sayap kiri kanad ada shaff untuk perempuan
yang di batasi dengan pagar kecil tidak lebih dari 1 meter dari shaff pria dan
ada juga lantai dua tepat di atas shaff sholat perempuan.   Sedikit gelap, tapi agar terang terdapat
sebuah  bukaan berupa karawangan
yang  ada di atas pintu dan menimbulkan
sebuah suasana tersendiri. Sumber cahaya alami berada di tengah yang berasal
dari  kubah masjid yang menjulan tinggi
dengan lukisan kaca kaligrafi dan bermotif bunga. Untuk  pintu masuknya berbentuk lengkung tapi
memiliki atas yang lancip. Menurut saya dari banyak pintu semuanya focus pada
ruang tengah terutama tepat pada jatuhnya cahaya alami dari kubah pusat.
Sedangkan mihrab nya? sumpah kereeeeennnnnnn sekali. Di buat dari kayu yang
cukup besar. Hampir sama dengan bentuk pintu masuk. Bentuknya melengkung atau
busur dengan lancip di bagian tengah dan pusatnya. Entah mengapa ya… saya
banyak menemukan bentukpbentuk geomteris yang bertemu dalam satu titik lancip.
Apakah ini sebuah filsafat bahwa semuanya akan berakhir di satu titik? Tujuan
utama hidup? Entah lah… 
Dari depan samping
Kubahnya mencolok…..
Gerbang… halaman luar untuk latihan paskibraka
beduk nya juga besar, tingginya lebih tinggi dari manusia normal
Salah satu pintu
Mata saya selalu menyapu setiap detail masjid ini dan
menulisnya dalam note di handphone saya. 
Masjid ini mempunyai 6 kubah dan saya mungkin bisa menganalogikan ini
adalah symbol dari rukum iman.  Jika di
lihat dari luar, terlihat kubah utama masjid dengan beberapa kubah kecil di
sekelilingnya serta 4 menara masjid di ke emat sisinya. Kenapa 4? Saya pikir
ini adalah 4 penjuru mata angin. 
Tiba-tiba saya sadar….. saya tidak menemukan arsitektur khas
melayu disini. Apa mata saya kurang jeli atau memang pengetahuan saya tentang
melayu masih sangat kurang? Entahlah…… Yang pasti saya suka di masjid ini.
Setiap malam selama 1 minggu saya selalu shalat isya dan tarawih disini.
Menumpang bersama Pak Long, Ibu, Abang, Kakak, Nazia dan Bu de. Serta beberapa
kali bersama “Geng Asyik” menunggu waktu magrib dengan duduk manis di pelataran
masjid ini.
Gagah…… luar biasa… kolaborasi Indah
 Dan otak saya selalu melintas, seharusnya kamu disini
menemani saya.
“Yah… kapan kita bisa jalan bareng. Keliling Kepulau Riau
mungkin”
“Nanti Nda… akan ada saatnya kita bersama berdua tanpa ada
yang mengganggu terutama dengan ketakutan-ketakutan kita”
Setahun saya masih berusaha untuk percaya bahwa mimpi itu
terwujud. Dan kini saya memupusnya. Tanpa kamu saya masih bisa hidup dan
bergerak………… dan saya telah menemukan kembali jalan ke-Islaman saya  setelah kamu mencampakkan Tuhan di hadapan saya.
Saya ingin bertanya kepadamu? Siapa yang jadi pecundang di antara kita sayang?
Ki-ka ( Rian – Ira – Darius)
Menggila di halaman depan masjid ( Panji “bertopi”, Rian “berkacamata”, Darius “standing”, Ira “berjilbab”)
Duduk di atas batu putih tepat di atas kanal menghadap ke
barat ke arah Masjid Agung Natuna yang tepat berada di bawah kaki Bukit Arai.
Tuhan… saya begitu kecil. 
Saya mengusap air mata saya. Bagaimana jika almarhum
Ibu  saya ajak ke sini ya? Lalu kamu
menemani perjalanan ini. Bahagia itu sudah tidak perlu lagi di bayangkan Raa……
Saya meloncat dari batu putih ke arah motor Darius dan berkata kedia, “Kalau
saya tinggal disini Yus…  saya akan
menemukan ketenangan yang sejati”. Dia tertawa dan berkata, “ Kakak terlalu
muda jika ingin memutuskan untuk tinggal di Natuna. Disini tidak ada hiburan
seperti kota-kota lain kak”. Saya tersenyum sendiri dan tidak mengomentari
pernyataan dia. Dalam hati saya berkata, “Alam Natuna sudah membuat saya jatuh
cinta”.
Saya dan Genk Asyik………
Dari Batam saya percaya bahwa Masjid Agung Natuna itu akan
menjadi sebuah sejarah yang luar biasa bukan dalam hitungan belasan tahun tapi
mungkin ratusan tahun. Tapi satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya. Semoga
Masjid Agung Natuna bukan hanya sebuah symbol… tapi sebagai penggerak motor
kejayaan islam di Nusantara khususnya di perbatasan Indonesia.

Saya akan kembali……..

Saya persembahkan tulisan ini…. 
untuk Tanah Natuna, 103 Radio Pradana, Keluarga Besar Pak Long
Genk Asyik, Darius, Rian, Panji, Jupri, Tina, Riska, Eko, Rossa, Aris……..
Terimakasih juga untuk Imam Masjid Agung Bapak Tirta Yasa….(sayang lupa photo sama beliau)
Saya selalu merindukan Bumi Serindit….














Tagged

5 thoughts on “MASJID AGUNG NATUNA : “TAJ MAHAL INDONESIA”

  1. megah banget masjidnya…
    Gitu kok ya nggak pernah di ekspos media ya. emang bener kata mbak ira, mungkin karena letaknya 🙂

    Met puasa ya mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *