Uncategorized

MASA BERKABUNG TELAH SELESAI RAA

“Maka selesaikanlah masa berkabung mu Raa”
Saya sudah mulai berdamai dengan kenyataan dan mulai kembali menyederhanakan mimpi yang saya miliki.
Abortus (kesekian kali) ternyata tidak membuat saya perempuan yang
kuat. Saya semakin rapuh saja. Berpikir tentang hal hal yang sama
tentang perempuan perempuan yang memiliki rahim dan di cap sebagai
‘perempuan aneh’ karena tidak pernah melahirkan bayi.
2 minggu bagi saya sudah cukup sebagai masa berduka cita. Ketika selalu
berpikir bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hambanya. Tuhan
lebih sayang fetus yang tidak pernah saya lahirkan. Ketika saya
berharap banyak kepadanya ketika saya semakin menua. Anak anak yang akan
menjadikan saya sebagai perempuan sempurna dan membiarkan mereka
memanggil saya ‘ibu’.

Maka saya menerima kesakitan kesakitan. Tidak melawannya. Menerimanya seikhlas ikhlasnya tanpa kata kata ‘berandai’.

Maka Tuhan mungkin masih saja memberikan kesempatan saya untuk mengejar
matahari terbit di Bromo. Senja di Pulau Merah atau berlari ke Bedugul.
Atau mencari perompak di lembah Gunung Karaeng dan mengatakn bahwa saya
adalah anak keturunan dari seorang Daeng. Walaupun ada ketakutan bahwa
saya keturunan terakhir yang berhenti tanpa berakar kembali.

“Ayah saya Daeng dan saya tahu diri saya bukan penerus garis keturunana karena saya perempuan yang tidak melahirkan”

Maka saya harus menyelesaikan masa berduka saya. Kembali bergerak.
Menutup telinga mata dan kembali berdiri menatap ke depan. Masih banyak
harapan yang bisa dilakukan.

Walaupun toh saat malam saya harus
kembali melemah dan menekuk lutut sendirian. Memastikan bahwa saya bukan
perempuan aneh tapi karena saya limited edition.

Maka saya
berharap sudahi saja vonis kepada saya sebagai perempuan liar yang
menjadi mesin pembunuh dari fetus yang muncul dari sel telur saya.

Ada tumpukan surat rekomendasi dari dokter untuk segera memeriksa darah dalam tubuh saya.

Melipatnya dan memasukkan dalam laci. Biar saja. Jika alasan saya tidak
punya cukup banyak uang untuk menebusnya saat ini paling tidak saya
hanya butuh waktu saja. Sendiri saja.

Ada bulan yang tidak penuh sempurna. Perut saya sedikit saja masih nyeri. Sangat sedikit dibandingkan 2 minggu yang lalu.

Indah itu tidak harus sempurna Raa Begitu sederhananya hidup jika menyadari bahwa semuanya adalah pinjaman.

Selamat malam Banyuwangi. Besok saya akan kembali (lagi) bergerak di atas tanahmu.

Maka saya nyatakan masa berkabung sudah selesai Raa

Banyuwangi, 11Oktober 2014

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *