Catatan

Mas Chairil Anwar

Saya mengenal laki-laki itu sejak saya masih berseragam merah putih. Saya suka membaca puisi puisinya di lorong SD Al-Irsyad saat teman-teman saya bermain bola bekel atau main lompat karet.

Setelah sedikit dewasa saya terobsesi dengan laki-laki itu. Selain Gie tentunya. Saya membayangkan ia begitu ‘jantan’ dengan sebatang rokok di tangan kanan dan di selipkan di bibirnya. Saya pernah meniru gayanya dengan meminjam rokok bapak saya. Tentu saya tidak berani menyalakan rokok itu. Hanya bergaya saja di depan kaca. Beda. Dia laki-laki dan saya perempuan. Selain itu jarak usia kami sangat jauh sekali. Saya memasang posternya di kamar kost saya di kota Jember.

Ia saya panggil Chairil Anwar.

Chairil lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia adalah putra mantan Bupati Indragiri Riau, dan masih memiliki ikatan keluarga dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir. Ia bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang kemudian dilanjutkan di MULO, tetapi tidak sampai tamat. Walaupun latar belakang pendidikannya terbatas, Chairil menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.

Ia mulai mengenal dunia sastra di usia 19 tahun, namun namanya mulai dikenal ketika tulisannya dimuat di Majalah Nisan pada 1942. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis.

Ah, mungkin pada jamannya tulisan-tulisan yang bersifat pribadi tidak menarik untuk di baca.

Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948. Tentu alasan klise yang menganggap gaya hidup seniman dianggap “tidak normal”

Sayangnya dia mati sangat muda. 27 tahun. ada yang bilang ia terkenal TBC. Kembali lagi gaya hidup yang di anggap tidak sehat. Puisi-puisi yang banyak bertemakan kematian merupakan tanda bahwa Chairil akan mati muda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Gusti kenapa orang-orang muda, berprestasi harus mati muda? Kartini? Sok Hok Gie? Chairil Anwar?

Walaupun hidupnya di dunia sangat singkat, Chairil Anwar dan karya-karyanya sangat melekat pada dunia sastra Indonesia. Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol.

Oke, berbicara Chairil Anwar tentu tidak lepas dari Film Ada Apa Dengan Cinta. Iya. Tokoh Rangga yang “cool” dan suka membaca puis-puisi Chairil Anwar. Buku saku bergambar Chairil Anwar yang berjudul AKU yang membuat Rangga dan Cinta sama-sama jatuh cinta

Hal itu juga yang membuat buku tersebut di cetak kembali karena permintaan yang membludak.

Saat kuliah saya dan kawan-kawan sastra Indonesia pernah membuat sebuah diskusi. “Chairil Anwar; Seorang Plagiat?”

Saya sudah lupa apa hasil dari diskusi di kampus sastra itu.

Tapi saya membuka kembali buku-buku Chairil Anwar semalam.

Membaca isi buku tersebut seperti membaca naskah film. Setiap dialognya disertakan nomor. Yang menarik, pada halaman 111 di nomor 109, diceritakan Chairil Anwar menemukan sebuah syair berjudul The Young Died Soldier karya Archibald McLeish.

Salah satu sajak Chairil Anwar yang berjudul Kerawang-Bekasi dinilai mirip bahkan nyaris sama atau malah sama dengan sajak Archibald McLeish. Setelah ditelusuri, ternyata Chairil Anwar menyadur sajak Archibald McLeish dan sajak saduran itu diberinya judul ”Kerawang-Bekasi”.

Menurut AACR Second Edition 2002 Revision , karya saduran bukan merupakan plagiat. Dalam nomor 21.10 Teks Adaptasi disebutkan bahwa, karya saduran meliputi penulisan kembali, pengadaptasian, pemparafrasean dan pengalih bentukan suatu karya. Dalam hal ini, Chairil Anwar merupakan penanggungjawab namun bukan sebagai pengarang utama. Chairil Anwar dalam puisinya Kerawang-Bekasi menyusun ulang dengan ciri dan bahasa yang dimilikinya serta disesuaikan dengan kondisi Bangsa Indonesia saat itu.

Ini hari 28 april 2018. 69 tahun lalu tepatnya di tahun 1949 Chairil Anwar mati dengan usia sangat muda.

Hari kematiannya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar

Saya mendoakan dia dari tempat saya berdiri saat ini. Saya belajar untuk menulis walaupun itu bersifat individualistis. Seperti Chairil Anwar. Belajar jujur lewat sebuah tulisan.

SELAMAT HARI CHAIRIL ANWAR, kawan

Mari membaca puisi agar jiwamu lebih hidup lagi.

Jadi kapan kau tuliskan puisi untukku?

Surabaya, 28 April 2018.

Tentang Chairil yang mencintai siapa tapi menikahi yang mana……

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *